Pelatihan Bahasa Inggris ala Singapura oleh Marshall Cavendish

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Belum lama ini, saya menghadiri pelatihan untuk guru Bahasa Inggris di Hotel Santika, yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Penyelenggara pelatihan adalah distributor buku Medan Pustaka Mas, yang bekerja sama dengan penerbit buku Marshall Cavendish.

Mereka menghadirkan pelatih guru Bahasa Inggris bernama Winnie Lee, yang pengakuan kredibilitasnya didukung oleh sertifikat yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Singapura.

Saya tertarik untuk mengikuti pelatihan tersebut, karena berdasarkan pengalaman saya, pelatih guru dari Singapura umumnya adalah orang-orang yang cerdas dan profesional di bidangnya. Tambahan lagi, pelatih Singapura yang juga merupakan bagian dari bangsa Asia, secara psikologis lebih memahami mentalitas siswa Asia.

Pelatih dari Singapura memang terkesan lebih serius. Namun kita bisa mendapat banyak ilmu dari mereka.

Berbeda dengan mayoritas pelatih dari negara Barat. Walaupun terkesan lebih bersemangat dan sering memancing gelak tawa dari peserta pelatihan, tapi pada dasarnya tidak banyak isi pelatihan yang bisa kita simpulkan. Padahal pelatihan itu sendiri sudah menyita waktu kita dari pagi hingga sore hari.

Baca Juga: Pengembangan Profesionalisme Konselor

Winnie Lee membuka sesi pelatihan dengan mengajukan pertanyaan terkait apa yang perlu diajarkan pada murid di era Revolusi Industri 4.0. Di era ini diyakini ada banyak pekerjaan yang sudah dan akan diambil alih oleh robot.

Menyikapi hal tersebut, sekolah perlu menyiapkan murid untuk jenis kemampuan yang belum bisa diambil alih teknologi setinggi apapun, yaitu kemampuan kognitif dan kolaboratif. Kemampuan kognitif meliputi ketrampilan pemecahan masalah dan berpikir logis. Sedangkan kemampuan kolaboratif meliputi ketrampilan bekerja sama dalam tim dan ketrampilan berkomunikasi.

Sebagai pelatih guru Bahasa Inggris, dalam sesi latihannya, Winnie Lee berfokus pada kemampuan komunikasi. Tetapi, walau ada 6 aspek dalam pembelajaran bahasa, Winnie Lee hanya berfokus pada 4 aspek saja (yaitu : Listening, Speaking, Reading, Writing), dan tidak membahas 2 aspek yang lain (yaitu : Vocabulary dan Grammar).

Winnie Lee mengatakan bahwa salah satu kunci sukses pembelajaran adalah apabila murid terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran itu. Masalahnya, keterlibatan secara aktif itu seringkali tidak bisa diharapkan terjadi secara sukarela.

Terutama untuk murid dengan kultur Asia yang cenderung memilih untuk bersikap pasif di kelas. Itulah sebabnya, guru harus bisa menemukan cara ‘memaksa’  yang cerdas, agar murid bisa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Ada beberapa tips mengenai cara ‘memaksa’ murid agar terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris. Misalnya, dalam kelas Speaking, guru bisa menggunakan teknik diskusi berpasangan untuk ‘memaksa’ murid memberikan pendapatnya terkait suatu permasalahan.

Teknik diskusi kelompok bisa digunakan untuk ‘memaksa’ murid bernegosiasi dan berkolaborasi untuk mencapai kesepakatan atas suatu kasus.

Baca Juga: Guru Kompeten, Indonesia Maju

Dalam kelas Reading, teknik ‘Jigsaw Puzzle’ (yaitu : pemenggalan teks bacaan per paragraf) bisa digunakan untuk ‘memaksa’ murid memahami isi bacaan dan mengatur ulang paragraf-paragraf itu dalam urutan yang benar.

Tetapi, walaupun guru harus bisa ‘memaksa’ murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, seorang guru yang profesional juga harus menyadari kenyataan bahwa dalam setiap kelas, pasti ada murid-murid dengan level kemampuan yang berbeda-beda.

Dengan kata lain, ‘pemaksaan’ terhadap murid juga harus dilakukan dengan bijaksana.

Adanya kendala rasio guru dan murid, menyulitkan guru untuk fokus pada murid yang lemah secara individual. Tapi hal itu bisa diatasi antara lain dengan mengelompokkan murid sesuai level kemampuan mereka dan memberi beban tugas yang sesuai.

Penyesuaian beban tugas itu bisa dilakukan dengan mengacu pada konsep Taksonomi Bloom.

Saat Winnie Lee bertanya tentang aplikasi Taksonomi Bloom di sekolah-sekolah di Indonesia, saya lihat beliau cukup terkejut karena ternyata masih banyak guru yang hadir di pelatihan itu, masih belum mengenal tentang Taksonomi Bloom.

Maka beliau berusaha untuk menjelaskan tentang Taksonomi Bloom secara singkat dengan menunjukkan gambar berikut :

Selanjutnya, Winnie Lee mencoba memberi contoh penggunaan Taksonomi Bloom dalam latihan Reading, di mana guru bisa menyesuaikan beban tugas sesuai kemampuan murid sebagai berikut :

  • murid dengan kemampuan di BAWAH RATA-RATA :

diberi tugas sesuai Taksonomi Bloom Level 1,

yaitu MENGIDENTIFIKASI bagian bacaan tertentu

  • murid dengan kemampuan RATA-RATA :

diberi tugas sesuai Taksonomi Bloom Level 2,

yaitu MENJELASKAN bagian bacaan tertentu

  • murid dengan kemampuan di ATAS RATA-RATA :

diberi tugas sesuai Taksonomi Bloom Level 4,

yaitu MENGEVALUASI bagian bacaan tertentu

Selain penggunaan Taksonomi Bloom yang berimbas pada JENIS soal yang berbeda untuk murid dengan level kemampuan yang berbeda, Winnie Lee juga memberikan tips penyesuaian beban tugas dalam hal JUMLAH soal yang harus diselesaikan.

Contohnya, dalam latihan Writing untuk mereview sebuah film, guru bisa menyesuaikan beban tugas sesuai kemampuan murid sebagai berikut :

  • murid dengan kemampuan di BAWAH RATA-RATA

  diminta untuk memberikan 1 – 2 pendapat saja terkait film yang ditonton

  • murid dengan kemampuan RATA-RATA

  bisa diminta untuk memberikan 2 – 3  pendapat saja terkait film yang ditonton

  • murid dengan kemampuan di ATAS RATA-RATA

bisa diminta untuk memberikan 3 – 4  pendapat terkait film yang ditonton

Singkat kata, guru yang profesional bisa mencari cara untuk mengelola kelas dengan murid yang punya level kemampuan berbeda-beda. Materi yang diberikan tetap sama, hanya saja beban tugasnya yang disesuaikan, baik itu dalam hal JENIS soal ataupun JUMLAH soal yang harus dikerjakan.

Adanya murid-murid dengan level kemampuan yang berbeda-beda, bisa juga disiasati dengan cara pemberian alat bantu yang bisa menjadi sumber pertolongan bagi murid selama proses pembelajaran. Alat bantu itu bisa berupa catatan sederhana yang mudah dipahami murid.

Contohnya, dalam tugas diskusi. Tidak cukup guru sekedar memberi topik diskusi. Guru juga perlu memberikan daftar ungkapan yang biasa dipakai untuk memulai diskusi, menginterupsi diskusi, meminta pendapat, menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan, dan sebagainya.

Demikian juga dalam tugas menulis ulasan film. Tidak cukup guru sekedar memberi tema film yang harus diulas. Guru juga perlu memberikan daftar ungkapan terkait jenis-jenis film, latar belakang pembuatan film, cara mengungkapkan pendapat dan saran terkait film, dan sebagainya.

Demikianlah isi pelatihan yang diberikan oleh Winnie Lee. Tips-tips atau strategi pengajaran Bahasa Inggris yang disajikan Winnie Lee sangat menarik secara konsep.

Akan tetapi, berdasarkan pengalaman saya terkait kondisi sekolah-sekolah di Indonesia, pada prinsipnya hal ini masih sulit untuk diterapkan secara langsung di lapangan, setidaknya dalam jangka pendek.

Sekolah di Singapura bisa berfokus pada pelatihan Listening, Speaking, Reading, dan Writing tanpa perlu memberikan fokus khusus pada Vocabulary dan Grammar, yang memang sudah dikuasai anak Singapura bahkan sebelum mereka menginjak usia sekolah.

Sebaliknya, sekolah di Indonesia sulit untuk langsung berfokus pada pelatihan Listening dan Reading, terlebih lagi Speaking dan Writing. Murid Indonesia umumnya belum memiliki kosakata yang memadai, dan belum bisa membentuk kalimat sesuai standard umum Bahasa Inggris.

Hal itu disebabkan adanya perbedaan kedudukan Bahasa Inggris bagi murid Indonesia dan Singapura. Bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, sedangkan di Singapura, Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua, bahkan bahasa pertama.

Tetapi, level kemampuan murid bukanlah satu-satunya penghambat untuk pelaksanaan strategi yang diajarkan Winnie Lee itu. Faktor lain yang bisa menjadi penghambat adalah faktor kualitas guru Bahasa Inggris di Indonesia, yang tentunya tidak sama dengan kualitas guru Bahasa Inggris di Singapura.

Di Indonesia, masih banyak guru lokal yang kurang fasih berbahasa Inggris. Sementara, banyak guru ekspat yang walau fasih berbahasa Inggris, tapi umumnya tidak paham metode pengajaran karena memang tidak berprofesi sebagai guru di negara asalnya.

Baca Juga: Gerakan IGI Flotim (GIF) : Satu Flores Timur Satu Rumah Belajar

Ada banyak sekolah atau lembaga kursus yang mendorong muridnya untuk berani berbicara dalam Bahasa Inggris, dengan prinsip ‘yang penting orang paham’. Sebenarnya, mereka melakukan itu lebih untuk tujuan komersil.

Di satu sisi mereka tahu bahwa banyak orangtua yang ingin sekali anaknya bisa berbahasa Inggris. Tapi, di sisi lain, mereka juga tahu bahwa di Indonesia, merekrut guru Bahasa Inggris yang benar-benar kompeten tidaklah mudah.

Maka, untuk menjembatani gap yang besar antara harapan orangtua dan kemampuan lembaga untuk memenuhi harapan itu, mereka membentuk opini yang menyesatkan.

Dalam jangka pendek, upaya ini bermaksud mendorong murid untuk berani berbicara. Prinsip ‘yang penting orang paham’, memang terkesan memberi dukungan semangat. Tetapi dalam jangka panjang, hal itu akan menjadi masalah saat mereka harus ikut test berstandard internasional semacam TOEFL atau IELTS di mana penerapan grammar dalam kalimat termasuk kriteria penilaian .

Hal itu menunjukkan bahwa ternyata, walau di Indonesia grammar dianggap tidak penting, tapi toh di negara berbahasa Inggris, pemahaman grammar dijadikan salah satu indikator tentang tingkat kecerdasan seseorang.

Di kalangan akademis atau profesional, kemampuan berkomunikasi tidak cukup hanya pada level sekedar bisa dipahami. Karena selain makna, struktur kalimat juga dianggap penting.

Hal itu juga ditegaskan oleh seorang tokoh bisnis bernama Patricia Fripp (bisa dicek di Linkedin), yang secara tegas menyatakan bahwa “orang yang berbicara dengan grammar yang belepotan akan terkesan kurang cerdas”. Itu akan membentuk kesan tersendiri bagi rekanan bisnisnya.

Ironisnya, banyak orangtua di Indonesia yang tidak paham Bahasa Inggris, menelan mentah-mentah semua pembenaran yang diberikan lembaga komersil yang tidak peduli mutu dan hanya ingin mengeruk uang dengan mudah.

Padahal, saat nanti anak mereka perlu ikut les persiapan TOEFL atau IELTS yang berbiaya mahal, orangtua juga yang harus menanggung semua biaya itu.

Walaupun uang bisa dicari lagi, tapi waktu dan energi anak yang terbuang sia-sia selama bertahun-tahun belajar Bahasa Inggris di sekolah ataupun lembaga kursus komersil tentunya patut disayangkan. (Foto: pwmu.co)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Pelatihan Bahasa Inggris ala Singapura oleh Marshall Cavendish […]