Perlindungan dan Pemberdayaan ala Duta Besar Indonesia untuk Singapura

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Saat ini, di Kedutaan Besar Indonesia untuk Singapura, terdaftar 120 ribu pekerja migran Indonesia. Ketika berangkat, rata-rata tingkat pendidikan mereka adalah SMP ataupun SMA.

Bagi mereka, menjadi pekerja migrant bukan pilihan yang mereka inginkan. Mereka terpaksa lakukan karena tidak ada biaya untuk melanjutkan studi selepas lulus sekolah.

Banyak dari mereka, meskipun sehari-hari sibuk bekerja, namun tetap mempunyai keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Keinginan ini kemudian mendapat jalan dari Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Duta Besar Indonesia membuka kesempatan pada para pekerja migrant untuk melanjutkan studi. Ada program paket C untuk lulusan SMP dan Universitas Terbuka untuk lulusan SMA serta SMK.

Sekarang ini ada sekitar 800 dari total 120 ribu pekerja migran yang terdaftar di Universitas Terbuka, baik untuk program S1 maupun S2. Untuk yang tidak melanjutkan studi, disediakan program kursus keterampilan.

“Ini adalah bagian dari perlindungan dan pemberdayaan” tutur Ngurah Swajaya Sang Duta Besar, seperti dikutip oleh Jawapos.com. Ia bahkan meminta para pekerja migrant yang sudah menjadi sarjana untuk memberitahu teman-teman mereka. Setidaknya satu orang membawa dua temannya untuk bersekolah.

Di samping keinginan yang kuat dari para pekerja migran dan dukungan dari kedutaan, pekerja migran juga mendapat dukungan dari para majikan tempat mereka bekerja.

Pengalaman Ratna, misalnya. Sebelum pindah ke majikan yang sekarang, dirinya sudah mengatakan akan melanjutkan sekolah. Ia memulai dengan paket C, tahun 2013. Ia merasa beruntung karena majikannya memberi dukungan.

Ia bahkan diberi laptop dan waktu belajar. Ketika akan mengikuti ujian, ia juga boleh libur sehari untuk belajar. Cerita Ratna tentang dukungan majikan, mirip dengan cerita Ida Supartini dan yang lainnya.

Dukungan itu bukan satu-satunya faktor yang membuat para pekerja migran menyelesaikan studi. Pada akhirnya, kemampuan mereka mengatur waktu dan melawan rasa malaslah yang menjadi penentu. Pengalaman Ratna menggambarkan hal tersebut.

Meskipun majikan memberikan kelonggaran, namun Ratna tetap harus membagi waktu. Semasa kuliah, pagi hingga sore ia selesaikan pekerjaan. Malamnya ia gunakan untuk belajar. Hal yang sama juga disetujui oleh Ida Supartini, salah satu pekerja migrant yang lain.

Ratna dan Ida, dua orang lulusan sarjana, memulai proses belajar dengan program paket C, karena mereka, ketika berangkat ke Singapura, baru lulus SMP. Sedangkan Ester Mulatsari, mulai dengan masuk Universitas Terbuka, karena ketika berangkat ke Singapura tahun 2010, ia telah lulus SMA.

Saat ini ia baru lulus program Magister Ilmu Manajemen, juga dari Universitas Terbuka. Ia bahkan berencana melanjutkan studi hingga ke program doctor.

Bagi Ester, masuk kuliah itu seperti membuka jendela, dan melihat pemandangan baru di luar. Banyak ilmu dan pengetahuan baru ditemukan. Itu yang membuatnya seperti ketagihan belajar.

Ester juga ingin menunjukkan bahwa seorang pekerja migran sebagai asisten rumah tangga, bisa bersekolah tinggi. Menurutnya, memiliki ilmu bisa meningkatkan derajat. Buktinya, setelah mendapat gelar master, ia menerima banyak tawaran kerja baru. Ia juga merasa mendapat perlakuan lebih baik dari lingkungan sekitarnya.

Pengalaman Ester seperti membenarkan apa yang dikatakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Singapura. Memfasilitasi dan memberikan kesempatan mengenyam pendidikan lebih baik bagi pekerja migran adalah wujud paling konkrit dari perlindungan dan pemberdayaan terhadap mereka. (Foto: nasional.tempo.com)

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments