Tentang Ikan, Kail, dan Cara Siswa Belajar

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Waktu saya masih kecil, saya pernah memiliki keyakinan yang hari ini terasa lucu. Saya mengira nelayan yang memancing ikan itu mengaitkan mata kailnya pada ekor ikan. Alasannya sederhana: setiap kali orang bercerita, mereka mengatakan,

 “Hari ini saya menangkap seratus ekor ikan.”

Sebagai anak kecil yang memahami bahasa secara harfiah, saya menyimpulkan bahwa yang “ditangkap” tentu saja adalah ekornya. Di kepala saya, mata kail menancap di sana.

Ketika kemudian beranjak dewasa, saya memahami bahwa anggapan itu keliru. Ikan memakan umpan, lalu mata kail tersangkut di mulutnya. Satuan “ekor” hanyalah cara kita menghitung jumlah ikan, bukan penjelasan tentang bagaimana ikan itu ditangkap.

Yang menarik, saya tidak ingat pernah ada orang dewasa yang secara khusus duduk bersama saya untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Tidak ada percakapan seperti;

“Nak, meskipun kita menyebutnya seratus ekor ikan, bukan berarti kailnya mengenai ekor ikan.”

Sepanjang yang saya ingat, saya mengetahui kekeliruan itu begitu saja. Tentu saja, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Tak ada seorang pun yang benar-benar “tahu sendiri”. Yang terjadi justru sebaliknya. Kita memahami satu hal, lalu pemahaman itu diam-diam membuka jalan bagi pemahaman tentang banyak hal lain. 

Ketika saya belajar bagaimana ikan makan umpan, bagaimana nelayan memancing, bagaimana bahasa bekerja, dan bagaimana hubungan sebab-akibat berlangsung di dunia nyata, pemahaman lama yang keliru akhirnya runtuh dengan sendirinya. 

Bukan karena ada yang secara langsung membantahnya, melainkan karena kerangka berpikir yang lebih besar telah terbentuk. Di sinilah saya melihat pelajaran penting bagi dunia pendidikan.

Terlalu sering kita terjebak pada gejala yang tampak di permukaan. Guru sibuk memperbaiki jawaban yang salah. Orang tua sibuk meluruskan perilaku yang dianggap keliru. Pembuat kebijakan sibuk mengejar angka-angka capaian yang mudah diukur. 

Baca juga : Puncak Syukur dan Panggung Kreativitas: Refleksi Indahnya Penutupan MPLS SD Santo Carolus Tarakanita Surabaya

Semua energi diarahkan untuk membereskan masalah yang terlihat di depan mata. Padahal, sering kali yang lebih penting bukanlah memperbaiki satu kesalahan tertentu, melainkan membangun cara berpikir yang membuat seseorang mampu mengoreksi kesalahannya sendiri di kemudian hari.

Anak yang memahami prinsip bernalar tidak hanya akan menemukan bahwa mata kail tidak mengenai ekor ikan. Ia juga akan lebih mudah memahami mengapa bumi mengelilingi matahari, mengapa informasi yang beredar perlu diuji kebenarannya. 

Mengapa sebuah kebijakan harus ditimbang dampaknya, dan mengapa suatu kesimpulan tidak boleh diambil tanpa bukti yang memadai. Satu fondasi dapat melahirkan seribu kemampuan.

Sayangnya, pendidikan kita acap kali terlalu berfokus pada jawaban dan kurang memberi perhatian pada proses berpikir yang menghasilkan jawaban itu. Kita merayakan hafalan lebih daripada pemahaman. 

Kita mengapresiasi kepastian lebih daripada rasa ingin tahu. Kita mendorong anak untuk cepat menjawab, tetapi tidak selalu mengajaknya bertanya.

Akibatnya, kita menghasilkan generasi yang mungkin mampu menyelesaikan soal-soal yang familiar, tetapi gagap ketika berhadapan dengan persoalan baru. Mereka mengetahui banyak fakta, namun tidak selalu memiliki perangkat mental untuk menghubungkan fakta-fakta itu menjadi pengertian yang utuh.

Padahal, di era ketika informasi tersedia di mana-mana ini, nilai terbesar tidak lagi terletak pada seberapa banyak informasi yang kita simpan di kepala. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan memahami hubungan antar informasi, menilai kebenaran suatu klaim, dan menyusun pengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah dimiliki. 

Dengan kata lain, tantangan pendidikan masa kini bukan sekadar mengajarkan isi pikiran, melainkan membangun cara berpikir.

Saya sadar, ini persoalan yang klasik, bahkan mungkin terlampau klasik. Sudah lama dibahas dan mungkin dari sudut pandang yang kurang lebih sama. Tetapi itulah realitanya. Betapa klasiknya kenyataan kita. 

Kita terus berbicara tentang pentingnya membangun cara berpikir, sementara praktik pendidikan sehari-hari masih berkutat pada pembenahan gejala-gejala di permukaan. 

Kita tahu akar masalahnya, tetapi tetap sibuk memangkas rantingnya. Dan setiap kali zaman berubah, persoalan itu datang lagi dengan wajah baru, meskipun sesungguhnya inti masalahnya tetap sama.

Baca juga : Semangat Tahun Ajaran Baru, Kompleks Santo Yosef Tarakanita Surabaya Gelar Misa Bersama

Di tengah keadaan seperti itu, mudah bagi guru untuk merasa bahwa semua keputusan penting telah ditentukan orang lain. Kurikulum berganti, kebijakan datang silih berganti, ukuran keberhasilan berubah-ubah mengikuti arah angin politik, sementara ruang gerak terasa semakin sempit.

Seolah-olah pendidikan sepenuhnya ditentukan oleh keputusan yang dibuat jauh dari ruang kelas. Namun sesungguhnya tidak demikian.

Kelas tetap menyisakan satu wilayah yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh kurikulum, regulasi, ataupun kepentingan politik apapun: ruang perjumpaan antara guru dan murid. Di ruang itulah pendidikan yang sesungguhnya berlangsung. Di ruang itulah seorang guru masih memiliki otoritas yang nyata.

Mungkin guru tidak selalu dapat mengubah sistem. Tetapi guru selalu dapat menentukan bagaimana sebuah pelajaran disampaikan. Guru dapat memilih untuk tidak sekadar menuntaskan materi, melainkan menumbuhkan pemahaman.

Guru dapat memilih untuk tidak hanya mengejar jawaban yang benar, tetapi juga merawat pertanyaan yang baik. Guru dapat membantu murid melihat hubungan di antara berbagai pengetahuan, sehingga dari satu hal yang dipahami, mereka mampu memahami banyak hal lainnya.

Barangkali perubahan besar dalam pendidikan memang tidak selalu lahir dari ruang rapat atau dokumen kebijakan. Barangkali ia justru tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang diambil seorang guru setiap hari. 

Lewat pertanyaan yang diajukan, percakapan yang dibangun, dan kepercayaan yang diberikan kepada peserta didik untuk berpikir. Karena itu, guru masih punya harapan.

Di tengah ketidakpastian yang terus datang bergantian, harapan pendidikan tidak pernah sepenuhnya hilang. Harapan itu masih hidup selama ada guru yang bersedia melihat murid bukan sebagai angka capaian, melainkan manusia yang sedang bertumbuh. 

Harapan itu masih ada selama guru percaya bahwa tugasnya bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi membantu setiap anak menggapai potensi terbaiknya.

Dan mungkin, pada akhirnya, disitulah letak kekuatan pendidikan yang paling sejati. Yakni bukan pada kemampuannya mengikuti setiap perubahan zaman, melainkan pada kemampuannya menumbuhkan manusia yang mampu memahami zamannya.

Penulis adalah Mahasiswa di Melbourne

Foto: Sokrates.id

5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments