Depoedu.com-Tiga minggu setelah gempa, kondisi pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah di lokasi gempa sudah berangsur pulih. Sebanyak 1.931 sekolah terdampak sudah mulai kembali menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar meskipun terselegara dalam keadaan darurat, baik secara tatap muka maupun melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Dari jumlah tersebut, 1.504 sekolah melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah darurat, 392 satuan pendidikan menerapkan PJJ, sedangkan 35 satuan pendidikan, telah kembali menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka.
Hal ini disampaikan oleh Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah kepada wartawan di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah periode 2022-2027 ini juga menyatakan, pihaknya terus berkomitmen melanjutkan pemulihan layanan pendidikan dengan berupaya memastikan kebutuhan layanan dasar terpenuhi.
Baca juga : Dari Ulos hingga Gamelan: Murid Jepang Menyelami Hangatnya Budaya Indonesia
Untuk itu, Kemendikdasmen telah memberikan bantuan awal senilai Rp. 1.1 miliar, untuk mendukung upaya pembersihan lokasi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Selain itu, telah pula mendistribusikan 100 tenda yang diperuntukan untuk membangun kelas darurat di enam kabupaten terdampak; Manggarai Timur, Manggarai Barat, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.
Selain itu, Kemendikdasmen juga memberikan pendampingan psikososial, perbaikan sanitasi, dan asesmen terhadap kelayakan bangunan sekolah untuk menilai bangunan tersebut, serta rencana tindak lanjut rekonstruksi pasca bencana gempa.
Abdul Mu’ti menegaskan layanan pendidikan harus segera pulih, agar anak-anak di lokasi bencana dapat menatap masa depan lebih baik. Dengan bantuan berbagai pihak, Mu’ti berharap seluruh layanan pendidikan di lokasi bencana segera berangsur pulih.
Bantuan dari Kemendikti
Dampak bencana, selain dirasakan di lokasi bencana, juga dirasakan oleh para mahasiswa dari 6 kabupaten terdampak gempa, yang sedang studi di universitas. Selain mengalami hambatan dalam pengiriman uang bulanan, dukungan keluarga dalam pembayaran uang kuliah, juga pasti tersendat, mungkin untuk beberapa bulan, bahkan untuk satu hingga dua tahun.
Baca juga : Pendidikan Pancasila Dari Konteks, Mengunakan Platform Khoot. Siswa Antusias Terlibat Meskipun Secara Daring
Untuk mengatasi situasi tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah menetapkan kebijakan, menggratiskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 5.000 mahasiswa yang orang tuanya terdampak gempa Flores. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, seperti dilansir detikedu belum lama ini(27/8).
“Kita akan memberikan bantuan UKT untuk satu semester di tahap ini, bagi 5.000 mahasiswa terdampak, sesuai data yang kami terima. Kita akan lihat, kalau memang masih diperlukan, kita akan tambah satu semester lagi,” kata Brian Yuliarto.
Mendiktisaintek menekankan pembebasan UKT ini, merupakan upaya mendukung keberlanjutan pendidikan tinggi di tengah bencana. Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai perguruan tinggi yang telah bergerak memberikan bantuan bagi masyarakat yang terdampak gempa.
