Hiruk Pikuk Kata-Kata Kasar Di Ruang Digital; Ancaman Tersembunyi bagi Pendidikan Generasi Muda Indonesia

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Di setiap guliran layar ponsel, di kolom komentar unggahan media sosial, di percakapan aplikasi pesan singkat, bahkan di konten-konten yang dikonsumsi jutaan anak muda Indonesia hari ini, kita semakin sering mendengar dan membaca hal yang sama; kata-kata kasar, bahasa yang tajam, ejekan, makian dan ungkapan yang penuh kebencian. 

Apa yang dulu dianggap sopan, tabu, atau hanya diungkapkan dalam keadaan sangat marah, kini meluncur begitu mudah, cepat, dan tanpa rasa bersalah dalam ruang digital kita. Hiruk pikuk bahasa kasar ini bukan sekedar masalah gaya bahasa, atau ekspresi semata. 

Ia telah menjadi lingkungan baru, tempat generasi muda Indonesia tumbuh, belajar berinteraksi, dan membentuk pandangan mereka tentang dunia. Dan hal ini telah membawa dampak yang sangat dalam, terutama bagi perkembangan karakter dan pendidikan mereka. 

Tulisan ini, hendak membahas fenomena ini. Terutama bagaimana lingkungan bahasa mempengaruhi pendidikan dan karakter, dan mengapa hal ini menjadi tantangan besar bagi pendidikan Indonesia. Berikut uraiannya. 

Fenomena yang menjadi kebiasaan

Kata-kata kasar di ruang digital menyebar begitu cepat karena tanpa wajah dan tanpa batas. Orang yang mungkin berbicara sopan dan lembut saat tatap muka, bisa dengan mudah menuliskan kata-kata yang menyakitkan di balik layar. Kata-kata kasar ditemukan anak muda dan tersebar di mana-mana. 

Mulai dari akun-akun populer, video yang viral hingga percakapan teman-teman sebayanya. Dan lama kelamaan, ini terasa biasa, wajar, bahkan dianggap keren, bahkan sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. 

Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menunjukkan bahwa bahasa kasar dan kata-kata tidak sopan dan ujaran yang menyinggung  adalah satu jenis konten yang paling sering ditemui di media sosial Indonesia. 

Dan kelompok usia remaja adalah kelompok yang paling sering terpapar, sekaligus paling banyak menggunakan ungkapan semacam itu, dalam percakapan daring. Fenomena ini bukan sekedar perubahan bahasa, melainkan perubahan cara berkomunikasi, yang mulai menggeser batas-batas kesopanan dan rasa hormat.    

Bagaimana lingkungan bahasa ini mempengaruhi pendidikan dan karakter?

Pendidikan bukan hanya soal menghafal pelajaran, mengerjakan soal, atau mendapatkan nilai bagus di sekolah. Pendidikan yang sesungguhnya juga membentuk cara kita berpikir, cara kita berbicara, dan cara kita memperlakukan sesama. Disinilah letak dampak yang paling dalam dari meluasnya penggunaan kata-kata kasar di ruang digital. 

Pertama, bahasa kasar, yang terus menerus didengar, dan dibaca mempengaruhi cara berpikir dan pengendalian diri. Bahasa yang kita gunakan, membentuk cara kita memandang dunia, Ketika kata-kata yang tersedia untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, kemarahan, atau perbedaan pendapat yang hanya berisi makian, penghinaan. 

Maka seseorang akan kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan tenang, berpendapat dengan bijaksana, dan menyampaikan ketidaksetujuan, tanpa menyakiti orang lain. Penelitian dibidang psikologi perkembangan menunjukan bahwa paparan berulang terhadap bahasa yang kasar dan agresif dapat menurunkan kepekaan orang terhadap rasa sakit, dan perasaan orang lain. 

Lama kelamaan ucapan kasar terasa biasa saja, batas kesopanan semakin kabur, dan kemampuan untuk berkomunikasi secara santun, menjadi semakin berkurang. Hal yang sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang beradab dan berbudaya. 

Kedua, hal ini merusak iklim belajar dan berhubungan antar sesama. Banyak kasus di mana bahasa kasar yang muncul di media sosial, dibawa ke dalam kehidupan nyata; ke lingkungan sekolah, ke percakapan di kelas, ke hubungan antar teman. 

Baca Juga: Harmoni Program STEM dan Karakter di PAUD sebagai Pondasi Penting Pendidikan Anak Usia Dini

Ejekan, penghinaan, dan bahasa yang menyakitkan, tidak berhenti di layar ponsel; ia terbawa ke dalam interaksi sehari-hari, menciptakan ketegangan, menimbulkan permusuhan, bahkan sering berujung pada perundungan, dan kekerasan. 

Ketika lingkungan sekitar dipenuhi bahasa yang saling menyerang, rasa saling hormat menjadi sulit tumbuh. Dan di mana tidak ada rasa hormat, disitu juga semangat belajar terhambat. 

Anak muda tidak dapat berkembang dengan baik, tidak bisa berpikir dengan jernih, dan tidak bisa tumbuh, menjadi pribadi utuh, jika mereka hidup di lingkungan, baik dunia nyata, maupun dunia maya, penuh dengan ungkapan yang saling melukai. 

Ketiga,  kebiasaan ini merusak kemampuan berbahasa, dan berkomunikasi secara bermakna. Bahasa yang kasar seringkali, berisi ungkapan kasar, sempit dan berlebihan. Ketika generasi muda terbiasa menggunakan bahasa yang terbatas dan kasar, mereka kehilangan kekayaan bahasa yang memungkinkan mereka untuk menyampaikan gagasan, perasaan dan pemikiran secara mendalam, jelas dan halus. 

Hal ini secara langsung mempengaruhi kemampuan akademis juga; karena kemampuan bahasa adalah fondasi dari segala bentuk pengetahuan, pemahaman dan penyampaian gagasan. 

Mengapa hal ini menjadi tantangan besar bagi pendidikan Indonesia? 

Nilai utama pendidikan dan kebudayaan Indonesia adalah kesopanan, kesusilaan, rasa hormat kepada orang lain, tutur kata yang baik, dan keramahan; yang semuanya sedang diuji oleh arus bahasa kasar, yang menyebar begitu cepat di ruang digital. 

Sekolah dan keluarga berusaha menanamkan nilai-nilai kesantunan, dan sopan santun, namun begitu besar pengaruh lingkungan daring, yang sering kali mengajarkan hal yang berlawanan. Pesan yang diterima anak menjadi bertentangan.

Di sekolah diajarkan untuk berbicara dengan lembut dan menghormati sesama, sedangkan di media sosial, mereka melihat banyak orang justru mendapat perhatian, pengikut, dan pujian ketika berbicara kasar, keras dan menyerang orang lain.    

Ketidak seimbangan ini, membuat nilai-nilai kesopanan menjadi semakin, sulit tumbuh, di hati banyak generasi muda Indonesia. 

Baca Juga: Meskipun Darurat, Sekolah-Sekolah di Lokasi Gempa Flores, Sudah Mulai Aktif Kembali

Itulah uraian mengenai, hiruk-pikuknya kata-kata kasar, di media digital dan dampaknya dalam mendidik generasi muda Indonesia. Ia adalah ancaman nyata bagi pendidikan generasi muda muda Indonesia, bukan hanya dalam hal kemampuan berbahasa, tetapi terutama dalam hal pembentukan karakter, kemampuan berempati, dan rasa hormat terhadap sesama. 

Kita sejauh ini, tidak bisa melarang, atau menutup akses terhadap dunia digital, namun kita bisa dan wajib membekali anak-anak dengan kemampuan memilih bahasa yang baik, menjaga tutur kata, dan menggunakan teknologi dengan bijak.

Tugas ini tidak hanya dilakukan oleh sekolah saja. Butuh kerjasama antara keluarga, pendidik, masyarakat, dan setiap pengguna ruang digital itu sendiri. Kita harus sadar bahwa setiap kata yang kita ucapkan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, adalah bagian dari pendidikan, yang kita berikan pada generasi muda. 

Jika kita menginginkan generasi muda yang cerdas sekaligus beradab, yang maju sekaligus santun, maka mari kita mulai menjaga bahasa kita, Karena bahasa adalah benih yang nantinya tumbuh menjadi watak dan peradaban bangsa.

4 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments