Depoedu.com-Pendidikan memfasilitasi transformasi kepribadian dan pengembangan diri individu, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas peserta didik dan perilakunya.
Oleh karena itu, proses pembelajaran yang berkualitas diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan yang memiliki hubungan ke depan dan ke belakang dapat dikategorikan ”bermutu” jika memiliki hubungan ke depan, yang merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, adil, dan sejahtera.
Perkembangan teknologi yang pesat telah menyebabkan transformasi di berbagai sektor kehidupan. Perkembangan teknologi saat ini sangat berdampak bagi perkembangan karakter peserta didik. Kecenderungan meningkatnya kasus amoral seperti kasus kejahatan, kekerasan, bullying yang terjadi saat ini banyak melibatkan anak-usia sekolah.
Pendidikan karakter bangsa merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Melalui pendidikan karakter bangsa, diharapkan dapat membentuk generasi muda Indonesia yang memiliki kepribadian unggul serta memiliki karakter yang luhur sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Maka dari itu, pendidikan karakter harus dibangun sejak dini dan harus dibina serta terus dikembangkan baik melalui pendidikan secara formal maupun non-formal (Yulianti, 2021).
Konsep budaya positif dalam Kurikulum Merdeka berfokus pada menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan siswa secara holistik.
Hal ini berkaitan erat dengan pendidikan karakter, karena budaya positif menjadi wadah penerapan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, empati, dan integritas.
Melalui pendekatan disiplin positif, siswa didorong untuk belajar dari konsekuensi dan refleksi, bukan hukuman, sehingga terbentuk sikap yang bertanggung jawab. Selain itu, budaya positif yang menghargai keberagaman mengajarkan siswa untuk saling menghormati dan berkolaborasi, memperkuat pengembangan karakter seperti sikap respek dan gotong royong.
Salah satu upaya penting menciptakan lingkungan belajar yang memenuhi kebutuhan pengembangan karakter peserta didik di SMA Sint Carolus Tarakanita Bengkulu adalah melalui pendidikan Karakter Tarakanita atau PKT. Pendidikan Karakter Tarakanita dirancang untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai kebaikan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Cita-cita pendidikan karakter Tarakanita menggambarkan output dari kekhasan nilai Tarakanita yang akan selalu melekat pada peserta didik Tarakanita yaitu nilai Cc5+, (Compassion, Celebration, Competence, Conviction, Creativity, Community, KPKC, Kejujuran dan Kedisiplinan).
Catatan yang ditulis oleh Bunda Elisabeth Gruyters “… Waktu itu kami mulai menerima anak-anak miskin, dengan maksud membangun dasar baik dalam batin mereka. Kami memberikan pelajaran agama Kristen, menjahit, mengajar mereka berdoa dan mendidik mereka mencintai Allah” (EG 51) menjadi inspirasi dalam mendampingi perkembangan karakter peserta didik.
Membangun dasar baik adalah tugas mulia yang yang telah diwariskan oleh Bunda Elisabeth. Wali kelas yang terlibat langsung dalam proses pendampingan, pengembangan karakter mempunyai peran yang sangat penting, yaitu harus mampu memberikan pendampingan pribadi kepada peserta didik untuk mengembangkan nilai-nilai kebaikan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Di antaranya menjadi pendengar yang baik, memberikan peneguhan atau dukungan kepada peserta didik, dan mendoakan peserta didik. Pendidikan karakter bukan sebuah teori tetapi bagaimana keteladan dan aksi nyata harus senantiasa menjadi habit. Pendidikan karakter membangun budaya kasih di tengah suasana di mana kepedulian kepada sesama mulai menurun.
Cita-cita ideal dalam pendidikan karakter Tarakanita mencerminkan harapan akan munculnya generasi yang memiliki nilai Cc5+, serta mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Tantangan muncul ketika budaya yang di lingkungan sekolah berbeda dengan lingkungan di luar sekolah.
Di sinilah peran wali kelas dan guru harus senantiasa mengingatkan peserta didik untuk selalu konsisten dengan nilai-nilai kebaikan yang sudah menjadi budaya, misalnya dalam membangun Celebration yaitu melalui kegiatan nyata yaitu berbagi kasih kepada orang yang membutuhkan bantuan.
Berbagi tidak harus menunggu kita mempunyai sesuatu yang berlebih tetapi berbagi dari apa yang kita miliki. Banyak hal-hal kecil yang menjadi aksi nyata untuk mengembangkan budaya positif lainnya di antaranya dengan membawa botol minum sendiri (tidak hanya saat di sekolah).
Aksi nyata lainnya adalah mengolah sampah rumah tangga menjadi Eco Enzyme yang bermanfaat sebagai filter udara dan air, pestisida alami, pupuk alami dan dapat menurunkan efek rumah kaca. Dengan membuat Eco Enzyme kita juga telah berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan.
Baca juga : Peran Musik dalam Keterampilan Sosial Emosional dan Pembentuk Karakter Peserta Didik
Sekolah-sekolah Tarakanita Bengkulu juga menggambarkan Indonesia mini, di mana peserta didik berasal dari suku, latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Ini adalah kekuatan yang dimiliki sekolah untuk senantiasa menghargai pluralisme.
Melalui keragaman ini peserta didik belajar untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam membangun Community. Hal ini didukung dengan Value Proposition sekolah Adaptive and Explorative Learners dengan fokus pengembangan karakter, riset, seni dan budaya daerah.
Adaptive adalah mampu ’berbaur’ dalam perbedaan. Pluralisme tidak dapat dihindari, adaptive mengajarkan peserta didik untuk mampu fleksibel di tengah perbedaan, sehingga terbangun sikap menghargai dan memandang perbedaan sebagai suatu kekayaan, bukan penghalang.
Selain sikap adaptif, budaya riset juga dikembangkan dengan menumbuhkan minat peserta didik sekolah melalui Pembelajaran Berbasis Riset (PBR). Melalui PBR, peserta didik dapat mengasah kreativitas, kolaborasi, dan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Untuk semakin mencintai dan mengembangkan kearifan budaya lokal, sekolah juga menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler Dol, tari tradisional dan pelestarian besurek motif khas daerah Bengkulu dalam kegiatan P5. Peserta didik diharapkan akan menjadi agen dalam menghargai perbedaan dan keragaman pada waktu yang akan datang.
Pendidikan Karakter Tarakanita menjadi kekhasan dan keunggulan sekolah-sekolah Tarakanita untuk membentuk pribadi cerdas dan berintegritas, yang akan mewarnai dunia dengan nilai-nilai kebaikan. Budaya positif dan pendidikan karakter memiliki keterkaitan erat dalam membentuk peserta didik yang berintegritas dan berkepribadian unggul.
Budaya positif yang diterapkan melalui pendekatan disiplin positif dan lingkungan belajar inklusif mendukung penerapan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan empati.
Pendidikan Karakter Tarakanita memperkuat hal ini dengan menerapkan nilai Cc5+ (Compassion, Celebration, Competence, Conviction, Creativity, Community, KPKC, Kejujuran, dan Kedisiplinan) sebagai ciri khasnya.
Melalui kegiatan nyata dan pembiasaan yang konsisten, siswa dilatih untuk mengembangkan sikap positif, menghargai keberagaman, serta berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Penulis adalah Guru SMA Sint Carolus Bengkulu
Referensi :
Buku panduan Pendidikan Karakter Tarakanita
Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Elisabeth Gruytes 51
Suyadi. (2013). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yulianti, Y. (2021). Pentingnya Pendidikan Karakter Untuk Membangun Generasi Emas Indonesia. CERMIN: Jurnal Penelitian, 5(1), 28. https://doi.org/10.36841/cermin_unars.v5i1.969
