Depoedu.com-Apakah pendidikan sekedar urusan transfer pengetahuan dan pencapaian angka-angka ijazah? Atau ia adalah pekerjaan peradaban yang menyangkut pembentukan manusia seutuhnya? Inilah pertanyaan mendasar yang dikemukakan oleh cendekiawan Yudi Latif dalam salah satu karyanya Pendidikan yang Berkebudayaan.
Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia selama ini cenderung kehilangan jiwa budayanya. Lebih terjebak dalam logika administratif, kuantitatif, dan sekedar keahlian teknis, sehingga melupakan misi utama pendidikan; memanusiakan manusia.
Bagi Yudi Latif, pendidikan dan kebudayaan bukan dua hal yang terpisah, melainkan “satu mata uang dengan dua sisi.” Maka pendidikan adalah pembudayaan dan kebudayaan adalah napas yang memberi makna pada pendidikan.
Tanpa kebudayaan, pendidikan menjadi kerangka, menjadi karangan kosong yang melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, namun miskin karakter, kehilangan akar identitas dan terasing dari kemanusiaannya sendiri.
Akar pemikiran: Ki Hajar Dewantara sebagai sumber inspirasi
Pendidikan berkebudayaan menurut Yudi Latif berakar kuat pada gagasan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ki Hajar memaknai pendidikan bukan sekedar pengajaran, melainkan proses belajar menjadi manusia seutuhnya yang berlangsung sepanjang hayat.
Dalam pandangan ini, pendidikan tidak hanya mengasah kecerdasan pikiran, tetapi juga menyempurnakan budi, rasa, karsa, dan raga yang merupakan kesatuan yang utuh. Budi mencakup pikiran, perasaan, dan kemauan. Pekerti adalah kekuatan yang mewujudkannya menjadi perbuatan.
Maka menurut cendekiawan Yudi Latif, pendidikan berkebudayaan adalah upaya menyatukan aktivitas olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga yang dilakukan secara serempak dalam aktivitas pendidikan.
Baca juga : Ambisi Presiden Prabowo Subianto: Membangun Pendidikan Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan
Kritik terhadap sistem pendidikan yang mengabaikan budaya
Yudi Latif menegaskan kegelisahan mendalam atas sistem pendidikan nasional yang semakin menjauh dari akar budaya bangsa. Pendidikan kini sering diperlakukan seperti proyek administratif, yang berfokus pada penyusunan kurikulum, penyerapan anggaran, pembangunan fisik, dan indikator kuantitatif, namun lemah pada pembentukan karakter dan jiwa.
Menurutnya pendidikan yang berjalan tanpa fondasi budaya cenderung:
- Menjadikan peserta didik penghafal dan peniru, bukan pencipta dan pemikir yang mandiri.
- Mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, bukan manusia yang utuh, berkarakter, dan berkeadaban.
- Mengadopsi model asing secara serampangan, tanpa mempertimbangkan konteks kearifan lokal
- Menjadikan nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila sekedar hafalan dan slogan upacara, bukan pedoman hidup.
Konsep pendidikan berkebudayaan: pilar-pilar utama
Menurut Latif, pendidikan yang berkebudayaan atau yang ia sebut pendidikan transformatif terdiri atas beberapa pilar utama:
- Berakar pada identitas namun terbuka bagi dunia
Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran akan jati diri bangsa agar tidak mudah terombang ambing arus globalisasi. Kesadaran ini bukan berarti menutup diri, melainkan memampukan bangsa berperan dalam pergaulan dunia dengan kepala tegak.
- Menyeluruh: bukan hanya mencakup akademik
Pendidikan berkebudayaan mengembangkan potensi manusia secara utuh, bukan hanya kemampuan kognitif, melainkan juga emosional, spiritual dan estetis. Tujuannya bukan sekedar lulus ujian, melainkan menjadi manusia yang berbudi luhur, merdeka dan bertanggung jawab.
- Pancasila sebagai sistem nilai, bukan simbol
Pancasila harus dihidupkan sebagai panduan etika dan cara berpikir dan bukan sekedar slogan. Sila pertama menegaskan Ketuhanan yang berkebudayaan; sila kedua mengajak kepedulian sosial; sila ketiga merawat kearifan lokal nusantara; sila keempat membangun kewargaan yang partisipatif; sila kelima mewujudkan keadilan sosial.
- Menumbuhkan kemandirian berpikir dan berkarya.
Latif mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya diisi oleh kemandirian berpikir, berkebudayaan dan berkarya. Pendidikan harus membebaskan pikiran dari ketergantungan intelektual, melahirkan penemu, pencipta dan pemimpin yang lahir dari rahim budaya sendiri.
Aktualisasi: Menuju pendidikan era baru
Bagaimana mewujudkannya? Latif menegaskan bahwa pendidikan berkebudayaan menuntut perubahan mendasar:
- Pergeseran dari sekedar mengajar ke mendidik
Oleh karena itu menurut Latif, guru bukan hanya sekedar penyampai materi. melainkan menjadi teladan dan penggerak pertumbuhan karakter.
- Pembelajaran harus mengakar pada kehidupan nyata
Proses pendidikan tidak membuat siswa tercabut dari lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya.
- Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan
Kemajuan sains dan teknologi harus dijiwai oleh etika budaya, bukan dibiarkan berjalan tanpa arah.
- Pendidikan yang memerdekakan
Pendidikan harus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan bertanggung jawab, bukan ketaatan pasif.
Yudi Latif di buku ini menyatakan menyambut baik gagasan Merdeka Belajar, yang dinilainya sejalan dengan semangat pendidikan transformatif yang ia tawarkan, meskipun menurutnya, jalan mewujudkannya masih memerlukan perjuangan panjang.
Itulah isi buku “Pendidikan yang Berkebudayaan” karya Cendekiawan Yudi Latif. Baginya pendidikan yang berkebudayaan adalah upaya membangun peradaban, bukan sekedar mengolah lembaga. Maka pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, menumbuhkan kebanggaan, sekaligus kerendahan hati dan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Untuk meraih keberhasilan pendidikan, Yudi Latif bahkan menegaskan bahwa pendidikan bukanlah urusan satu pihak semata, melainkan tanggung jawab bersama; keluarga, sekolah, masyarakat dan negara untuk menjadikan Indonesia bukan sekedar bangsa yang maju secara ekonomi, melainkan bagsa yang beradab, merdeka, dan bermartabat di tengah dunia.
