Di New York Amerika Serikat, Robot Humanoid Berbasis AI, Mulai Jadi Guru SMA

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kini semakin sering kita membaca berita di media tentang bagaimana robot humanoid berbasis Artificial Intelligence (AI), berperan dalam proses pendidikan. Mulai dari bagaimana orang belajar bahasa asing dengan bantuan AI dan berhasil meningkatkan skill bahasa asing banyak orang. 

Pengalaman banyak orang membuktikan bahwa untuk belajar bahasa asing, AI adalah guru yang paling sabar, presisi, dan detail, sehingga kesulitan belajar bahasa asing yang selama ini ada, benar-benar dapat diatasi, dengan hadirnya AI.  Kini tinggal menyediakan waktu rutin belajar, keterampilan bahasa asing bisa dikuasai. 

Sebelumnya, kita bahkan juga membaca berita bahwa Cottesmore School, sebuah sekolah mahal di Inggris, telah mempekerjakan Abigail Bailey sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Abigail Bailey, adalah nama yang diberikan pada sebuah robot humanoid, berbasis AI. 

Ada banyak peran seperti menyusun jadwal, menyusun program sekolah, melakukan analisis data, memberikan evaluasi pelaksanaan program dan mengambil aneka keputusan, semua yang selama ini dilakukan oleh Kepala Sekolah, kini sudah dapat diambil alih oleh AI.   

Baca juga : Cek Kesehatan Gratis di SD Santo Carolus Surabaya; Langkah Kecil Hari ini, Kesehatan Besar di Masa Depan

Kini muncul perkembangan paling baru, bagaimana robot humanoid berbasis AI dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pendidikan di New York Amerika Serikat. Otoritas pendidikan di New York bagian Barat akan memperkenalkan Sally, yang akan mengajar di kelas sekolah menengah. 

Sally adalah sebuah robot humanoid berbasis AI, berparas cantik.  Nanti Sally akan mengajar di kelas 11 dan 12 pada kelas pemrograman robotika dan AI, yang merupakan bagian dari kurikulum STEAM Woz Ed yang dikembangkan oleh salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak. 

Sally didesain untuk mendorong siswa menemukan masalah, merumuskan masalah, melakukan pendalaman masalah, dan bukan hanya menjawab pertanyaan. Sally juga didesain untuk melibatkan siswa dalam proses, membangkitkan rasa ingin tahu, termasuk mendorong siswa untuk berpikir, hal yang selama ini tidak dilakukan guru dengan baik. 

Agar ada interaksi yang lebih alami dengan siswa, Sally akan berbicara dengan aksen New York barat. Sally memiliki penampilan manusia, dengan kulit silikon, rambut coklat panjang. Ia dapat menggerakkan tangan, misalnya untuk memberikan isyarat. Meskipun begitu, ia masih belum dapat berjalan. 

Kehadiran Sally di kelas memantik kontroversi di masyarakat, termasuk di kalangan guru sendiri. Tidak semua orang terbuka terhadap inisiatif dan inovasi ini, meskipun sudah dijelaskan dari awal oleh otoritas pendidikan di wilayah ini, bahwa Sally hanya akan bekerja sebagai asisten pengajar, bukan menjadi pengganti guru di kelas.  

Baca juga : Tahun 2027, Status Kepegawaian Guru Sebagai ASN Daerah, Akan Beralih Menjadi ASN Pusat

Menanggapi ini,  Dr. Mark Beehler, seorang pengawas sekolah, kepada The New York Post mengatakan bahwa, “Sejak dari dulu tidak semua orang terbuka terhadap inisiatif perubahan di bidang pendidikan. Dulu ketika akun email baru diperkenalkan, banyak orang bertanya mengapa guru membutuhkan akun email?”

Ia juga mengatakan, ketika internet mulai banyak digunakan termasuk digunakan di sekolah, banyak orang juga bertanya, apakah internet benar-benar diperlukan di sekolah? Menurut Mark, pertanyaan hari ini, tentang kehadiran Sally di kelas, hanyalah literasi lanjutan dari perkembangan teknologi pendidikan dengan segala dampaknya. 

Ia berharap  kehadiran Sally, si robot humanoid benar-benar harus dilihat sebagai bagian upaya untuk membuat proses pencapaian tujuan pendidikan menjadi lebih efektif. Namun ia juga sadar bahwa, ini sangat tergantung pada manajemen perubahan yang diupayakan. Maka sangat diperlukan manajemen perubahan yang terbuka dan empatik. 

Seringkali inisiatif perubahan dibidang pendidikan gagal bukan karena perubahan tersebut tidak dibutuhkan, melainkan karena buruknya manajemen perubahan itu sendiri; terutama karena para pendorong perubahan tidak terbuka dan tidak berempati dalam mengelola dampak dari perubahan.  

Foto: SINDOnews.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments