Depoedu.com-Setelah membaca edisi esai; “Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas sebagai salah satu kunci pendidikan adaptif di Era AI,” (6/10/2026) apa tanggapan Eduers pada esai tersebut? Jika ada tanggapan, tulislah tanggapan tersebut di kolom yang telah disediakan di portal www.depoedu.com, portal pendidikan Indonesia kebanggan kita.
Sebetulnya salah satu kerinduan terdalam kami sejak www.depoedu.com didirikan, yang sampai sekarang belum berhasil kami dorong adalah mendorong diskusi di antara pembaca, dan bukan hanya mengantar wacana untuk dibaca setiap hari. Kami yakin wacana akan lebih hidup ketika tidak hanya dibaca melainkan didiskusikan di antara pembaca.
Sambil menunggu adanya inisiatif tersebut, seperti yang kami janjikan kemarin (5/10/2026) kami hantar esai kedua dari rangkaian esai dalam rangka merespon ajakan Bill Gates tentang perlunya sekolah mengajarkan keterampilan baru yang akan membuat pekerjaan manusia tidak diambil alih oleh AI.
Mudah-mudahan esai ini, melengkapi Eduers untuk menjadi lebih kompeten, sehingga dapat menjadi pendidik lebih baik. Selamat membaca dan berdiskusi.
*****
Ketika Bill Gates mengingatkan dunia tentang bahaya dan tantangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ia menegaskan hal penting; sekolah tidak boleh mengajarkan apa yang bisa dihitung, dihafal, atau dijalankan oleh mesin. Teknologi dapat memproses data, bahkan dapat menjawab pertanyaan yang rumit dalam sekejap mata.
Namun ada kemampuan manusia yang tidak dapat ditulis oleh sistem secerdas apapun. Ada empat hal, dua hal sudah dibahas pada esai sebelumnya. Dua lainnya adalah empati; yaitu kemampuan manusia untuk merasakan perasaan orang lain, dan kepemimpinan; yaitu kemampuan mengajak orang lain berjalan bersama menuju kebaikan yang lebih manusiawi.
Menurut Bill Gates, inilah yang harus menjadi fokus dan inti dari tujuan pendidikan di masa depan; membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang mampu berempati dan mampu memimpin.
Esai ini hendak membahas mengapa AI tidak dapat berempati dan memimpin, serta bagaimana sekolah dapat menumbuhkan empati dan kepemimpinan tersebut. Pada bagian lain esai ini juga membahas bagaimana empati dan kepemimpinan bisa saling melengkapi dan menjadi pengendali AI, membuat manusia tidak dapat digantikan AI. Berikut uraiannya.
Mengapa AI tidak dapat berempati dan memimpin?
Hingga sekarang, AI dapat mengenali ekspresi wajah atau menganalisis nada suara, tetapi tidak benar-benar merasa sedih, gembira atau peduli. AI juga tidak memahami penderitaan orang lain, tidak tersentuh oleh tindakan tidak adil. Oleh karena itu, juga tidak memiliki keinginan tulus untuk melakukan tindakan menolong.
Empati lahir dari pengalaman hidup, dari interaksi dengan sesama, dari belajar memahami perbedaan, merawat hubungan antar manusia. Inilah yang menyebabkan empati belum dapat di-coding. Oleh karena itu hingga kini, belum ada satupun AI yang memiliki kemampuan berempati.
Demikian pula dengan kepemimpinan, AI dapat menyusun rencana strategis, tetapi tidak dapat menggerakkan hati orang untuk melaksanakan rencana strategis tersebut, tidak dapat membangun kepercayaan, tidak dapat memotivasi dan tidak dapat memberi teladan. Maka seperti empati, kepemimpinan hanya bisa dilakukan oleh manusia.
Kepemimpinan tumbuh dari keinginan bertanggung jawab, berani mengambil keputusan yang benar meskipun sulit, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas keuntungan pribadi. Maka kepemimpinan seperti juga empati, melekat pada kemanusiaan, hal yang hingga kini belum dapat di-coding sehingga belum dapat dilakukan oleh AI manapun.
Inilah peluang manusia untuk dapat mengendalikan, bahkan memanusiakan teknologi agar bermanfaat bagi semua manusia, dan bukan menggantikan manusia.
Bagaimana sekolah mengembangkan empati dan keterampilan memimpin?
Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan empati dan keterampilan memimpin siswa dapat dilakukan melalui integrasi kurikulum sosial-emosional, kultural sekolah yang inklusif dan penyediaan ruang memimpin secara praktis kepada siswa melalui wadah-wadah yang dibentuk maupun kebiasaan interaksi sehari-hari di sekolah.
Meskipun keduanya dapat dikembangkan secara bersamaan namun untuk memudahkan pemahaman, akan dibicarakan sendiri-sendiri.
- Pengembangan empati di sekolah
Pembentukan kemampuan empati tidak menjadi tanggung jawab guru bidang studi khusus, tetapi menjadi tanggung jawab semua civitas academica, bahkan melibatkan petugas non-kependidikan seperti satpam dan office boy/girl. Efektivitas pengembangan empati dapat diupayakan melalui kebiasaan dan interaksi sehari hari di lingkungan sekolah.
Meskipun demikian, ada beberapa tradisi yang perlu dibangun untuk membentuk kemampuan empati tersebut sebagai berikut:
Melatih siswa mengidentifikasi dan mengelola perasaan; ini adalah latihan yang perlu diberikan sejak siswa masuk menjadi siswa di sekolah tersebut. Hal ini perlu dilakukan sejak awal karena pengenalan pada perasaan sendiri dan kemampuan mengelolanya menjadi dasar untuk berempati pada emosi orang lain.
Salah satu bentuknya adalah menulis catatan harian atau menulis jurnal refleksi tentang apa yang dirasakan dalam interaksi dengan orang lain, termasuk interaksi di sekolah. Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah diskusi kelas tentang bagaimana para siswa memandang sebuah kasus interaksi di sekolah.
Guru atau staf yang menjaga kesinambungan tradisi ini adalah guru bimbingan dan konseling, bekerja sama dengan wali kelas. Pengawasan rutinnya dilakukan oleh walikelas, perencanaan tindak lanjut, apabila diperlukan, dikoordinir oleh guru bimbingan dan konseling.
Studi kasus; sekolah menggunakan kasus-kasus yang sedang terjadi dan menarik perhatian, baik di sekolah maupun di masyarakat, untuk melatih empati para siswa terkait kasus tersebut. Fokus pada apa refleksi mereka terhadap kasus tersebut dan perasaan apa yang mereka rasakan.
Kegiatan semacam ini bisa dikelola oleh guru bidang studi terkait seperti guru IPS, guru agama atau guru Pendidikan Moral. Baik berkaitan dengan pelajaran mereka, atau untuk kegiatan pengayaan setelah penilaian tengah semester ataupun akhir semester.
Melakukan kegiatan aksi nyata; bentuknya bisa berupa penggalangan dana untuk disumbangkan ke panti asuhan atau orang yang sangat membutuhkan bantuan, bisa jadi teman mereka sendiri, yang sangat membutuhkan bantuan.
Aksi nyata yang lain dapat berupa kunjungan ke panti asuhan. Dapat dilakukan secara bertahap. Misalnya mulai dengan observasi untuk merumuskan apa yang bisa dilakukan, lalu melakukan kegiatan tersebut berdasarkan rumusan kebutuhan tersebut. Setiap kegiatan diakhiri dengan refleksi.
Bentuk lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan empati misalnya dapat melakukan kegiatan live in. Siswa diajak untuk pergi dari sekolah dan hidup bersama dengan masyarakat yang kondisinya ekonominya di bawah mereka. Selama kegiatan ini, berlangsung siswa menulis catatan harian dengan fokus pada apa yang mereka rasakan.
Guru dan orang tua menjadi teladan empati; keteladanan guru dan orang tua dalam hal berempati, di mana guru dan orang tua mendengarkan siswa, menunjukkan empati pada perasaan siswa, memberi dukungan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa, akan sangat efektif membentuk kemampuan empati pada siswa.
Baca juga : Mencetak Generasi Kritis dan Empatis lewat 9 Proyek Kolaboratif SMP Tarakanita Gading Serpong
- Pengembangan keterampilan memimpin di sekolah
Pengembangan keterampilan memimpin memiliki area yang sangat luas, tergantung pada kreativitas kepala sekolah dan guru. Dapat dikembangkan melalui organisasi seperti OSIS, dapat dilakukan di kelas sebagai unit organisasi, dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar mengajar, bahkan pada kegiatan seperti ekstrakurikuler dan upacara bendera.
Organisasi formal seperti OSIS dapat menjadi area yang efektif pembelajaran kepemimpinan, jika guru yang ditugaskan menjadi pembina OSIS memiliki kreativitas dan jiwa kepemimpinan. Dengan kreativitas dan jiwa kepemimpinan pembina OSIS, semua tahap di OSIS sejak dari pemilihan calon ketua OSIS, penetapan calon, pemilihan ketua OSIS, dapat di sulap menjadi area pembelajaran kepemimpinan.
Proses pembelajaran kepemimpinan berlanjut pada penyusunan organisasi OSIS oleh ketua OSIS terpilih, pelantikan ketua OSIS yang baru, kemudian penyusunan program. Akan menjadi lengkap jika OSIS sebagai eksekutif dilengkapi dengan Badan Perwakilan Kelas (BPS) yang bertugas mengawasi OSIS.
Jika mekanisme OSIS dan BPS dapat berjalan, akan terjadi pembelajaran kepemimpinan di sini, karena dalam semua tahap tersebut, siswa belajar mengambil keputusan, belajar berbicara dan mempengaruhi orang lain, belajar keluar dari zona nyaman, belajar menyelesaikan masalah, belajar mengkoordinasi kegiatan.
Selain itu semua tahap proses belajar mengajar atau kegiatan ekstrakurikuler juga dapat menjadi area pembelajaran kepemimpinan, apabila semua guru yang mengajar memberi perhatian pada aspek nilai-nilai kepemimpinan seperti tanggung jawab, kerja sama dalam kegiatan belajar kelompok, belajar berbicara ketika merespon pertanyaan, atau mempertanggungjawabkan pemikirannya.
Juga kegiatan sekolah lain seperti upacara bendera dapat juga disulap menjadi arena siswa belajar memimpin, dengan memberi kesempatan pada siswa menjadi inspektur upacara. Ini adalah praktik kepemimpinan yang sangat nyata. Siswa yang dapat membawakan pidato yang bagus, akan berdampak luar biasa pada rasa percaya diri mereka.
Hampir semua sekolah bertujuan mendidik anak menjadi calon pemimpin masa depan, tetapi selama mereka di sekolah, tidak banyak sekolah memberi ruang bagi siswa untuk memimpin. Bagaimana mereka bisa tumbuh menjadi pemimpin? Jadi diperlukan guru yang kreatif, yang memiliki wawasan kepemimpinan yang membuka ruang memimpin bagi siswa.
Mengembangkan keduanya membentuk manusia menjadi semakin manusiawi
Empati tanpa kepemimpinan hanya akan menjadi rasa iba yang tidak bergerak menjadi tindakan. Sedangkan kepemimpinan tanpa empati, dapat menjadi kekuasaan yang dingin dan membahayakan. Maka menurut Bill Gates, sekolah harus mengembangkan keduanya sekaligus secara bersamaan.
Maka sekolah harus melatih siswa peka terhadap masalah, melatih siswa peka terhadap penderitaan di sekitar, sekaligus mendorong siswa untuk berani bertindak untuk mengatasi masalah dan penderitaan di sekitar.
Di masa depan, teknologi akan semakin hebat. Namun justru karena itulah manusia yang berempati dan memiliki kemampuan memimpin akan semakin dibutuhkan. Mereka bahkan akan menentukan arah perkembangan teknologi agar tidak menjadi ancaman bagi kemanusiaan.
Dengan kemampuan empati dan keterampilan memimpin, merekalah yang akan menjaga agar AI tetap berada di bawah kendali nilai kemanusiaan, serta memastikan kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk keadilan, dan bukan memperlebar kesenjangan di antara manusia.
Itulah pembahasan mengenai bagaimana mengembangkan kemampuan empati dan keterampilan memimpin di sekolah. Bill Gates mengingatkan kita; pendidikan tidak boleh berlomba menyaingi kecerdasan mesin, melainkan memperkuat keunggulan yang dimiliki oleh manusia; yakni empati dan kemampuan memimpin.
Sekolah yang membentuk kemampuan empati dan keterampilan memimpin, sedang tidak hanya mempersiapkan siswa untuk bekerja tetapi mempersiapkan manusia yang berguna dan adaptif untuk menghadapi perubahan yang terus terjadi.
Di tengah dunia yang semakin canggih, itulah warisan sekolah yang sangat berharga, karena memastikan bahwa ketika teknologi berkembang pesat, kemanusiaan tetap berjalan di depannya, memegang kendali dengan bijak, hangat dan bertanggung jawab.
Foto: Jesuits.id
