Depoedu.com-Dunia pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang sangat fundamental terkait kemampuan dasar literasi dan numerasi atau kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di gedung A Kemendikdasmen Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Pernyataan ini disampaikan setelah Mu’ti bertemu dengan Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Toni Toharudin (9/4/2026). Dalam pertemuan tersebut Toni menggambarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berlangsung dua hari ini, kurang lebih sama dengan hasil TKA SMA.
Mu’ti melihat, baik hasil TKA SMA maupun hasil TKA SMP menunjukkan adanya ketertinggalan dalam kemampuan Matematika. Mu’ti juga menyampaikan bahwa hasil ini juga tidak jauh beda dengan hasil tes PISA tahun 2022. Menurut Mu’ti hasil tersebut harus menjadi alarm bagi negara.
Baca juga : Minat Baca Guru dan Dampaknya pada Mutu Pendidikan
Ia lantas membeberkan hasil TKA SMA yang digelar pada November 2025 yang lalu di mana rata-rata nilai TKA Matematika hanya 36,10. Nilai rata-rata TKA Bahasa Inggris 24, 93. Nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia 55,38. Sedangkan capaian skor PISA Matematika 366, skor Sains 383 dan skor Membaca, 359.
Capaian skor PISA Indonesia ini menunjukkan bahwa Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga kita Singapura. Indonesia tertinggal dari Singapura 575 poin. Ini menunjukkan Indonesia belum sepenuhnya pulih dari persoalan fundamental kemampuan dasar membaca dan berhitung.
Akar masalah
Abdul Mu’ti mengaitkan kondisi ini dengan kondisi pembelajaran Matematika yang terlalu berat di awal sekolah. Kesulitan ini berpengaruh terus pada siswa bahkan hingga siswa memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Ini menyebabkan Matematika dianggap menakutkan.
“Kesulitan belajar Matematika di masa awal sekolah berdampak terus di jenjang berikutnya. Sehingga ada istilah ‘Math’ itu identik dengan ‘death’. Bahkan ada yang bilang Matematika itu pelajaran ‘mati-matian’,” kata sekretaris umum PP Muhammadiyah ini.
Baca juga : Menghindari Salah Tafsir Masyarakat, Pemerintah Lebih Memilih Memberikan Beasiswa daripada Student Loan
Menurut Abdul Mu’ti persepsi tersebut terbentuk oleh praktik pendidikan Matematika di Indonesia pada awal anak masuk sekolah. Sejak di PAUD Matematika sudah diajarkan dengan metode yang berat. Di kelas 2 SD sudah diajarkan pembagian yang kompleks. Padahal menurutnya pada masa awal yang penting itu logika matematikanya.
“Tolong nanti tim dicek, jangan-jangan kelas 2 SD kita sudah ajarkan pembagian yang kompleks. Malah di TK pun sudah diajari itu. Padahal pada masa awal itu yang penting logika,” mintanya pada tim.
Mu’ti lantas membandingkan sistem pembelajaran Matematika untuk anak usia dini di Indonesia dan di Australia. Kata Mu’ti, Matematika di Australia pada awalnya rendah saja. Kelas Matematika di Australia lebih banyak mainnya, karena mereka lebih menekankan pada pembentukan logika matematikanya.
Foto: Redaksiku.com
