Mati-matian Menyimpan Sampah

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kita pasti setuju bahwa anak-anak kita bahkan di tingkat SMA tidak mahir melakukan perkalian 1-100. Fenomena dari media sosial atau berita yang sering muncul menunjukkan betapa mereka kepayahan ketika ditanya perkalian. 

Riset-riset (coba cari di google scholar) menunjukkan rendahnya penguasaan murid kita dari SD sampai SMA terhadap operasi perkalian.

Fakta itu menyedihkan sekali. Tapi sedih saja tidak cukup. Kita harus memperbaikinya. Dengan apa? Tentu selain makan yang bergizi (eeayyyaa) yang paling utama adalah mengubah cara pengajarannya.

Cara-cara yang terbukti salah ya harus dihentikan. Sebagaimana kata pepatah Belanda buanglah sampah pada tempatnya. Jangan malah disimpan.

Di tulisan saya “hafalan adalah sampah”, banyak sekali orang yang berusaha menunjukkan betapa suksesnya metode hafalan baik dalam pengalaman pribadi atau proses pengajaran mereka. Tapi apakah benar demikian? Atau keberhasilan itu hanya klaim individu yang tidak teruji secara metodologis?

Baca juga : Brain Rot; Fenomena Baru Kesehatan Mental Hingga Menurunnya Tingkat Kecerdasan

Sekarang kita gunakan logika, ya. Jika benar metode hafalan yang sudah dilakukan oleh banyak guru matematika sejak era lama itu benar berhasil, mengapa data dan fakta menunjukkan murid-murid kita lemah sekali penguasaannya dalam perkalian 1-100? Jika metode hafalan benar-benar baik mengapa output-nya buruk sekali?

“Ohhh itu karena anak sekarang terlalu banyak main HP dan makan micin”.

Benarkah itu penyebabnya? Apakah berarti kemampuan matematika generasi lama lebih baik? Faktanya tidak. Coba cek hasil survei kemampuan matematika orang dewasa di Indonesia (Jakarta) dalam PIAAC. Hasilnya buruk sekali. Bahkan kemampuan matematika orang Jakarta pun rendah sekali.

Apa artinya skor PISA dan PIAAC kita yang rendah? Artinya kemampuan matematika orang Indonesia baik dulu sampai sekarang sama-sama ampasnya. Hayo mau nyalahin apalagi? 

Apa karena angin muson timur yang tiap tahun bertiup ke Indonesia? Kalau mau mengesampingkan ego dan superior sebagai seorang guru, penyebab utamanya tentu saja pengajaran matematika yang gak pernah berubah.

Baca juga : Tingkatkan Kualitas Guru dalam Penggunaan Teknologi “Implementasi Smart Classroom dalam Pembelajaran”

Banyak guru terjebak nostalgiLA seolah pengalaman pribadi saat belajar atau mengajar adalah pengalaman yang paling baik. Seolah cara mereka belajar dan mengajar telah memberikan hasil yang baik. Padahal kenangan itu bisa jadi imajinatif dan tidak tervalidasi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mulailah mengaku salah. Mulailah mengaku bodoh. Sebagaimana kata Steve Jobs, stay hungry, stay foolish. Jangan gampang merasa puas terhadap cara kita mengajar. Jangan gampang baper ketika disalahkan. Bisa jadi kita memang benar-benar salah.

Dalam dunia pendidikan matematika ada banyak cara baru yang bisa kita pelajari. Ada banyak riset yang bisa membuka mata dan pikiran kita. Bersikukuh mempertahankan cara lama yang terbukti salah ibarat menyimpan sampah di kotak harta.

Yang Waras jangan Ngalah. 

Foto: GoRiau.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Mati-matian Menyimpan Sampah […]