Depoedu.com-Seorang guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra di SMK 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mengalami luka memar di wajah dan bagian tubuh lain, karena dikeroyok oleh sejumlah siswa SMK tersebut.
Mengutip laporan detikSumbangsel, keributan berawal ketika Agus mendatangi kelas seorang siswa yang ia duga mengucapkan kata-kata tidak pantas padanya. Kata Agus, ia ditegur dengan tidak sopan, dengan kata yang tidak pantas pada saat belajar.
Agus menilai, kata-kata siswa tersebut sangat merendahkannya sebagai guru. Kata Agus, saat itu siswa yang dicari berada di kelas tersebut bersama guru yang lain. Agus lalu meminta siswa tersebut mengakui perbuatanya.
Kata Agus, siswa tersebut memang mengakui perbuatannya, namun situasinya memanas karena siswa tersebut menantangnya. Dan Agus pun secara refleks menampar anak tersebut dan siswa yang lain di kelas tersebut ikut mendatangi Agus.
Situasi kelas menjadi tegang dan terjadi aksi saling pukul antara Agus dan siswa tersebut. Guru yang berada di sekitar mencoba melerai. Situasi menjadi terkendali setelah guru-guru melakukan mediasi terutama kepada siswa yang marah.
Para siswa yang marah tidak terima Agus menghina siswa tersebut dengan kata “miskin”. Agus membantah tudingan tersebut dan mengatakan bahwa ucapannya ia sampaikan dalam konteks memotivasi.
Baca juga : Danang Hidayatullah Terpilih Kembali Memimpin IGI Untuk Periode Kedua, 2026-2031
“Saya tidak bermaksud mengejek, saya hanya mengatakan, kalau kita kurang mampu, jangan bertingkah macam-macam. Itu secara motivasi pembicaraannya,” kata Agus seperti dilansir pada laman cna.id.
Untuk mencegah masalah menjadi berkembang, beberapa guru mencoba melanjutkan mediasi antara Agus Saputra, guru Bahasa Inggris, dan sejumlah siswa yang marah akibat tindakan Agus tersebut.
Dalam mediasi para siswa menuntut Agus Saputra guru mereka, minta maaf atas ucapan, penghinaan dan tindakannya. Para siswa juga menyampaikan bahwa karena penghinaannya kepada banyak siswa, para siswa tidak menghendaki Agus menjadi guru mereka.
Agus menolak minta maaf, namun menawarkan opsi agar para siswa membuat petisi untuk membuktikan bahwa pada umumnya dia tidak dikehendaki mengajar oleh siswa sekolah tersebut dan mediasi pun berakhir hingga jam istirahat, tanpa kata sepakat.
Di luar kelas para siswa dari berbagai kelas, berbagai angkatan, berkumpul untuk menunjukkan solidaritas. Pada saat itu, Agus diajak berpindah dari kelas ke kantor oleh komite. Pada saat itulah terjadi pengeroyokan terhadap Agus, oleh siswa yang melakukan aksi solidaritas.
Buntut dari kasus pengeroyokan
Setelah dipertimbangkan dengan matang, Agus Saputra, korban pengeroyokan sejumlah siswa ini, melaporkan kasus pengeroyokan tersebut ke Polda Jambi pada Kamis yang lalu (16/1). Menurut keluarga Agus, seperti dilansir cna.id, kasus tersebut tidak hanya melukai secara fisik tetapi juga merusak reputasi dan kondisi mentalnya sebagai pendidik.
Baca juga : Logika yang Menjadi Insting
Sedangkan dari pihak Kepala Sekolah telah diambil langkah internal dengan melakukan mediasi yang menghadirkan 12 siswa yang terlibat, orang tua mereka, Komite Sekolah, Polisi, dan Dinas Pendidikan Jambi. Hasil mediasinya, para pelaku diwajibkan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya di masa yang akan datang.
Reaksi keras juga datang dari Ketua PGRI Jambi. Selain mengecam keras tindakan pengeroyokan siswa terhadap guru, PGRI juga menyayangkan ucapan guru yang menjadi pemicu konflik.
Maka ketua PGRI Jambi menghimbau agar para guru berlaku sebagai guru profesional dan menahan diri untuk tidak mudah mengucapkan kata hinaan terhadap siswa. Sebaliknya PGRI juga menghimbau agar siswa tetap hormat kepada guru.
Reaksi juga datang dari anggota Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudin. Ia mengecam keras tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan, apalagi dilakukan oleh siswa pada guru. Menurutnya tindakan ini tidak dapat dibenarkan.
Oleh karena itu Anggota DPR dari Partai Golkar tersebut berharap, kasus ini diusut sampai tuntas. Ia mengajak semua pihak menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran. Pembelajaran karakter nampaknya semakin jadi kebutuhan.
Namun menurutnya, guru juga harus lebih profesional tidak hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam kata-kata. Pendidikan hanya dapat berjalan dengan baik dan menumbuhkan, jika guru dan siswa saling menghargai.

[…] Baca juga : Guru di Jambi Dikeroyok 12 Orang Siswanya, Berbuntut Laporan ke Polisi […]
[…] Baca Juga: Guru di Jambi Dikeroyok 12 Orang Siswanya, Berbuntut Laporan ke Polisi […]