Bermula dari Keprihatinan hingga menjadi Karya 75 Tahun Kolese Santo Yusup Malang

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Ketika kita mendengar Kolese Santo Yusup Malang, tentu ingatan kita tertuju pada Pastor Joseph Wang, CDD. Beliau seorang Pastor yang mempertaruhkan nyawa berlayar dari Tiongkok ke Indonesia pada tahun 1949.

Pertama kali Pastor Joseph Wang, CDD. tiba di Aceh, kemudian diarahkan untuk menuju Medan, lalu ke Surabaya dan tiba di Malang pada tahun 1951.

Bermula dari keprihatinan Mgr. AEJ Albers, O.Carm melihat banyak anak-anak keturunan Tionghoa yang tidak bisa bersekolah di sekolah formal Indonesia.

Kehadiran Pastor Joseph Wang, CDD. di Malang, seolah menjadi jawaban atas keprihatinan Mgr. AEJ Albers, O.Carm., kala itu

Tahun 1951 Pastor Joseph Wang, CDD., ditugaskan oleh Mgr. AEJ Albers, O.Carm., untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak keturunan Tionghoa di Malang.

Sekolah yang didirikan ini adalah sekolah menengah dengan nama “Hua-Ind Chung Hsueh” (Sekolah Menengah Katolik Tionghoa Indonesia). Inilah cikal bakal karya CDD., di Kota Malang.

Keprihatinan untuk melayani pendidikan ini terus terjawab dengan banyak perkembangan baru. Tahun 1954 dibuka satu kelas baru untuk SMA dengan 27 murid.

Selanjutnya tahun 1959 dibuka asrama putra SMA dan SMP yang menerima 36 murid asrama dan sejak itu nama sekolah diubah menjadi Kolese Santo Yusup yang kita kenal hingga saat ini.

Menurut cerita dari Pastor Willy Malim Batuah, CDD., yang saat ini berkarya di rumah khalwat Denpasar, Pastor Wang tidak pernah mau disebut sebagai pendiri Kolese Santo Yusup. Karena menurut Pastor Wang, kala itu beliau hanya menjalankan tugas dari Mgr. Albers.

Baca juga : Petualangan Air: Serunya Bermain Air di Sekolah KB TK Tarakanita 5

Tahun 2025–2026 ini Kolese Santo Yusup sedang mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, para Alumni (PEKSY), para murid, Orang Tua murid, dan juga Guru Karyawan dalam rangkaian perayaan 75 tahun Hua-Ind.

Salah satu rangkaian kegiatan yang kami jalani sebagai kelanjutan rekoleksi hari sebelumnya untuk Guru Karyawan adalah ziarah ke Gua Maria Puhsarang Kediri pada hari Sabtu, 6 Desember 2025.

Rombongan sebanyak 280 personil terdiri dari Pengurus Yayasan, Romo dan Frater dari Domus Costantini (Skolastikat CDD Provinsi Indonesia), serta Guru Karyawan dari unit sekolah dan unit pendukung pendidikan.

Dengan tema “Memaknai 75 tahun Kolese Santo Yusup sebagai Guru dan Karyawan yang Penuh Kasih” ketua panitia Ibu Anastasia Mirah, S.Pd memimpin kami semua anggota rombongan yang berangkat dengan enam bus dan satu kendaraan tambahan.

Setiba di Gua Maria, kegiatan kami awali dengan Doa Tahun Yubileum dan Doa Rosario bersama yang dilanjutkan dengan Misa Syukur atas perjalanan 75 tahun Hua Ind.

Sebagai konselebran utama dalam Misa Syukur ini adalah Pater Antonius Hermanto, CDD., Romo Romanus Sukamto, CDD., Romo Biru Kira, Pr., dan Frater Diakon Mikael Peter Hermawan dari Projo Keuskupan Surabaya.

Menariknya Pater Antonius Hermanto, CDD., adalah alumni SMAK Kolese Santo Yusup Malang tahun 2009 dan saat ini bertugas sebagai Bendahara Yayasan Kolese Santo Yusup.

Sedangkan Frater Diakon Mikael Peter Hermawan juga alumni SMAK Kolese Santo Yusup tahun 2007. Dan masih ada Frater Pedro, CDD., yang sedang menjalani pendidikan Frater di STFT Widya Sasana Malang.

Dalam Misa ini, Pater Antonius Hermanto menyampaikan homili bahwa sebuah panggilan dapat muncul, salah satunya ditandai dengan adanya keprihatinan.

Beliau memberikan beberapa contoh, keprihatinan atas pendidikan para Imam di China, terjawab dengan berdirinya Kongregasi Murid-Murid Tuhan (CDD.) oleh Kardinal Celso Costantini.

Keprihatinan akan pendidikan keturunan Tionghoa di Malang pada tahun 1951, juga terjawab dengan berdirinya Kolese Santo Yusup.

Dan keprihatinan kita akan anak-anak muda yang selalu memerlukan bimbingan, pendampingan dari Orang Tua. Baik itu dari Orang Tua kandung, ataupun juga dari kami Bapak Ibu Guru dan Karyawan, selalu diperlukan hadir di sisi anak anak, murid-murid kita.

Selesai perayaan Misa Syukur dilanjutkan dengan doa penyerahan kepada Bunda Maria dan penyalaan lilin persembahan 75 tahun Hua Ind. Penyalaan lilin diwakili oleh semua kepala unit sekolah dan juga unit pendukung pendidikan.

Ibu Dra. Maria Margaretha ASP., selaku ketua umum Perayaan 75 tahun Hua Ind memberikan kesan bahwa penyalaan lilin ini, sebagai doa persembahan segala karya, sekaligus permohonan uluran tangan Bunda Penolong Abadi agar dalam setiap langkah kita mendapat bimbingan dari Sang Putera.

Beliau juga menyampaikan harapannya, melalui ziarah bersama ini selalu meningkatkan persaudaraan, menumbuhkan rasa cinta yang besar kepada Kolese Santo Yusup, dan mengembangkan rasa memiliki.

Hingga pada akhirnya menjadikan warga Kolese Santo Yusup setia menjaga, merawat, dan melejitkan Kolese Santo Yusup dalam perjalanannya menuju 100 tahun mendatang.

Sesi penutup dilakukan foto bersama seluruh peserta ziarah dengan para Imam dan dilanjutkan dengan foto per unit karya masing-masing bersama para Imam.

Kepala Kantor Yayasan Kolese Santo Yusup Bapak Antonius Baskoro Winarno, SE., yang menyertai rombongan bersama-sama kami dalam ziarah ini, menyampaikan terima kasih atas kegiatan ziarah yang sangat bermakna kali ini.

Beliau bersyukur dapat berjalan bersama semua rekan Guru Karyawan dalam mewujudkan karya yang terbaik di Yayasan Kolese Santo Yusup sekaligus merasakan suasana kebersamaan yang hangat dan menyegarkan semangat sebagai satu keluarga besar Kolese Santo Yusup.

Pak Baskoro juga menyampaikan harapannya agar momen 75 tahun Hua Ind ini semakin memupuk persatuan, kolaborasi antar unit kerja, memperkuat pelayanan, dan menjadi energi positif untuk melanjutkan karya Kolese Santo Yusup setelah usia 75 tahun hingga seterusnya.

Baca juga : Memaknai 75 Tahun Kolese Santo Yusup sebagai Guru dan Karyawan yang Penuh Kasih

Semua Kepala Unit juga merasakan kedamaian yang sama, bisa meluangkan waktu berdoa bersama-sama dengan semua Guru Karyawan.

Kepala SMPK Kolese Santo Yusup 2, Ibu Theofilda Wulan Dwiningsih, S.Pd menyampaikan kegiatan dua hari dalam Rekoleksi dan Ziarah ini membuka pikiran saya, bahwa Kolese Santo Yusup merupakan sebuah karya besar yang dipupuk dan dipelihara dengan doa, rasa syukur, dan semangat yang tidak  pernah padam.

Beliau juga menambahkan bahwa Kolese Santo Yusup telah menyatukan kami menjadi satu keluarga, di mana setiap generasi akan menorehkan sejarahnya.

Bu Filda juga menyampaikan harapan besar, supaya karya besar Kolese Santo Yusup ini bukan hanya menjadi warisan namun dapat menjadi warna dan nyala dalam dunia pendidikan.

Mewakili unit SMA, kami sangat bersyukur atas kebersamaan yang memberikan warna untuk saling setia, menyapa, mengingatkan dan menguatkan kami memaknai panggilan hidup dalam dunia pendidikan di Kolese Santo Yusup ini.

Akhirnya saya teringat pesan Romo J. Darminta, SJ yang mengatakan bahwa seorang Guru adalah pemimpin.

Agar dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya, seorang pemimpin haruslah seorang pendoa, orang yang bersatu erat dengan Tuhan.

Bila itu benar, maka seorang pemimpin akan tetap berada dalam kemerdekaan dalam Roh dan bersedia mengerti dan mengikuti kehendak Allah.

Keputusan-keputusan penting harus selalu diambil dalam kontak pribadi dengan Allah (J. Darminta, SJ).

Terima kasih, selamat merayakan 75 tahun Hua Ind.

Tetap Bersemangat!

 

Penulis adalah Kepala SMAK Kolese Santo Yusup Malang

Kontribusi Foto: Panitia Rekoleksi dan Ziarah Kolese Santo Yusup Malang

4.6 8 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Bermula dari Keprihatinan hingga menjadi Karya 75 Tahun Kolese Santo Yusup Malang […]