Depoedu.com-Hari studi guru (HSG) menjadi salah satu kegiatan rutin dalam minggu kedua tiap bulan bagi guru–guru di Yayasan Tarakanita. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam pengembangan profesionalitas guru, belajar dan terus belajar dalam menghadapi tantangan zaman dalam dunia pendidikan.
HSG dilaksanakan di unit sekolah masing–masing dan ada kalanya dilakukan secara bersama–sama, baik secara offline maupun online.
Kegiatan hari ini kita me-refresh kembali kurikulum pendidikan yang sudah dilaksanakan. Melihat kurikulum untuk menyiapkan dalam pelayanan siswa–siswi di sekolah masing–masing.
Hal tersebut disampaikan Kepala Jenjang SMA/SMK Yayasan Tarakanita, Linda Tri Setyaningsih P.P., S.Si., M.Pd. dalam sambutan pembukaan HSG di Auditorium Sekolah Tarakanita Pulo Raya, Sabtu 12 Juli 2025.
HSG kali ini diikuti seluruh guru dari SMA/SMK Tarakanita wilayah Jakarta. Linda berharap para peserta bisa menggali sumber–sumber informasi sehingga para guru siap melayani siswa–siswi dalam pembelajaran.
Para guru juga diharapkan mendapat jawaban dan keyakinan tentang kurikulum, utamanya pelaksanaan pembelajaran mendalam. Acara dilanjutkan dengan diskusi sesuai dengan rumpun bidang studi dan tanya jawab dengan narasumber.
Pembelajaran mendalam merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran dengan menekankan pemahaman konsep menyeluruh, siswa aktif dan mampu menerapkan di kehidupan nyata.
Pembelajaran mendalam “Deep Learning” bagian kurikulum bukan kurikulum, maka dalam proses pembelajaran yang masih pakai kurikulum 2013 ataupun kurikulum merdeka tetap bisa melaksanakannya.
Baca juga : Resensi Buku; Belajar dari Best Practice Proyek P5 SMA Tarakanita Magelang
Pada kegiatan belajar, harus bisa melihat materi yang esensial dan ada pengurangan materi dalam pelajaran. Yang penting harus diingat materi esensi tidak boleh dihilangkan.
Pada pengantar hari studi guru hari ini, Dr. Yogi Anggraena, M.Si, nara sumber dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen mengatakan kurikulum belum diganti tahun ini.
Oleh karena itu, jika ada sekolah yang masih menggunakan kurikulum 2013 tetap diperbolehkan atau mau menggunakan kurikulum merdeka juga boleh. Yang harus ada adalah pembelajaran mendalam, yang tercermin, dalam perangkat pembelajaran tambah Yogi.
Menurut Yogi, pelaksanaan pembelajaran mendalam sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia. Pada tahun 1940 sudah mulai di bidang teknologi. Kemudian pada 1970 ada kebijakan pemerintah, harus menggunakan bahasa Indonesia “pembelajaran mendalam” untuk “Deep Learning”.
Konsep yang muncul karena keprihatinan dalam dunia pendidikan, pada waktu itu pembelajaran dangkal, informasi dari guru ke anak. Sekedar mengirim informasi saja.
Maka harus ada perubahan belajar harus bermakna, siswa paham betul mengenai materi, alasannya belajar, harus mendalam proses pembelajarannya.
Yogi menambahkan tahun 1990 perubahan dgn paham konstruktivisme, belajar sampai anak menemukan sendiri konsep, alasan, materi yang lebih mendalam. Ini menggantikan pembelajaran dengan cara dril, sehingga tahu mengenai materi tetapi tidak mampu dalam praktek kehidupan.
“Sedang di tahun 2020, proses pembelajaran harus dapat memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran yang efektif, efisien dan lebih mendalam. Pendekatan pembelajaran keterampilan abad 21, agar anak siap menghadapi kehidupan pada masa nya,”tegas Yogi.
Yogi lebih lanjut menegaskan Kurikulum jadi utama pada pendidikan sekolah, perlu diingat kembali ada beberapa bagian hal penting. Pertama pada Intrakurikuler, terdiri atas Komponen mata pelajaran ditambah dengan Coding, dan kecerdasan artifisial beban, waktu misalnya per tahun.
Baca juga : Haedar Nashir; untuk Kemajuan Bangsa, Perlu Kembangkan Karakter Kuat dan Mandiri
Kedua pada kokurikuler , yang komponennya adalah profil lulusan, muatannya adalah tema – tema pembelajaran bebas, diserahkan oleh sekolah minimal dalam bentuk P5, bentuknya diganti kegiatan untuk memperkuat, memperdalam pelajaran dan karakter.
Bisa kolaborasi tiap mapel, kegiatan Indonesia hebat misalnya hidup sehat. Pengembangan dimensi iman dan taqwa dengan melaksanakan ibadah bersama. Aktifitas – aktifitas ini bagian dari kokurikuler tidak harus ada produk.
Ini yang membedakan dengan sebelumnya dalam pelaksanaan P5. Beban dalam kokurikuler juga sama seperti dalam intrakurikuler: per tahun. Pada Ekstrakurikuler, Yogi menegaskan sekolah wajib menyediakan ekstrakurikuler pramuka, tetapi siswa tidak wajib ikut.
Pada pembelajaran mendalam yang dilakukan di sekolah harus ada prinsip: berkesadaran, bermakna, menggembirakan, proses pengalaman belajar yang mana yang ada dalam proses, boleh satu atau lebih.
“Kerangka pembelajaran yaitu praktik pedagogis (pendekatan pembelajaran), kemitraan pembelajaran (adanya kolaborasi dengan siapa saja, sesuai dengan materi) , lingkungan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran,” tutur Yogi.
Di akhir acara, Kepala Sub Kurikulum Divisi Pendidikan Yayasan Tarakanita, Yustina Sri Hartati, M.Pd menegaskan bahwa setelah mendapatkan banyak masukan baik tentang kurikulum, penilaian, raport, pembelajaran mendalam, para guru harus implementasikan di unit masing-masing.
Apa yang disampaikan oleh narasumber sesuai dan ada dalam nilai – nilai keutamaan ketarakanitaan Cc5, tegasnya. Setiap kegiatan pembelajaran harus bisa mempraktekkan pembelajaran mendalam dari awal sampai akhir.
Yustin menekankan semua itu kuncinya ada di guru, para guru harus memiliki kreativitas, inovasi pembelajaran mendalam. “Kita harus tetap membuat perencanaan pembelajaran, “ Deep Learning, Pembelajaran Mendalam”
