Kartu Merah untuk Rasisme Dalam Dunia Sepak Bola Indonesia

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Timur juga bagian dari Indonesia. Sepak bola bukan sekedar bagian dari olahraga semata. Ia adalah kegiatan positif yang menyatukan manusia lintas budaya, suku, dan daerah.

Di lapangan hijau, semua pemain adalah sama. Berlari, berkeringat, berjuang demi kebanggaan klub dan bangsa.

Tapi kenyataan pahit kembali meracuni sepakbola kita, yaitu rasisme, yang seharusnya sudah lama terkubur, kembali menampakkan wajah buruknya di stadion-stadion Indonesia.

Baru-baru ini, dua kejadian memilukan terjadi yang menunjukkan bahwa sebagian kecil suporter sepak bola kita masih belum memahami makna sejati dari sportivitas dan kemanusiaan.

Dalam pertandingan antara Persib Bandung melawan Maluku United, dua pemain asal papua, Yance Sayuri dan Yakob Sayuri, menjadi korban hinaan  atau rasis dari sebagian oknum suporter Persib.

Teriakan bernada ejekan dan diskriminasi yang diarahkan kepada mereka tidak hanya menyakitkan secara pribadi, tetapi juga melukai harga diri seluruh masyarakat Indonesia Timur.

Baca juga : Ambiguitas Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan Pengaruhnya pada Perguruan Tinggi Swasta

Kejadian serupa juga terjadi di Liga 4, saat tim asal Nusa Tenggara Timur, Bintang Timur Atambua, bertanding melawan Persika Karanganyar. Lagi-lagi, rasisme muncul dari tribun.

Suporter Persika melontarkan kata-kata rasis yang berhubungan dengan asal-usul dan identitas etnis para pemain Bintang Timur Atambua.

Hal ini  menunjukkan bahwa tindakan diskriminasi berbasis ras dan daerah belum benar-benar hilang dari dunia sepak bola kita.

Bukankah sepak bola seharusnya menjadi panggung persatuan? Apakah kita sudah lupa bahwa Papua, Maluku, NTT, dan seluruh masyarakat Indonesia Timur adalah bagian kesatuan yang menjadi fondasi penyusun republik  ini?

Merauke di Timur atau Benggala di Barat, Rondo di Utara ataupun Rote di Selatan adalah identitas Indonesia. Semua berhak dihormati, didukung dan dihargai. Bukan diperlakukan sebagai yang lain dari republik ini, apalagi dihina karena warna kulit atau logat bicara.

Kita harus sepakat. Tak ada tempat untuk rasis dalam sepakbola. PSSI dan otoritas terkait harus bertindak cepat, tak hanya dengan sanksi tetapi juga dengan edukasi berkelanjutan kepada seluruh komunitas suporter.

Baca juga : Praktik Top Down dan Bongkar Pasang Kebijakan Birokrasi Pendidikan Menjadi Akar Masalah Buruknya Mutu Pendidikan

Klub juga memiliki tanggung jawab untuk menambahkan nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai kepada pendukungnya. Sepak bola Indonesia tidak akan pernah maju jika masih ada luka akibat kebencian.

Mari kita ingat kembali dasar negara kita. “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbedaan adalah kekayaan, keberagaman adalah kekuatan.

Dan sepakbola adalah panggung besar untuk menunjukkan bahwa kita semua anak bangsa, dari Sabang hingga sampai ke Merauke, berdiri sama setara di mata bangsa.

Rasis bukan bagian dari sepak bola. Rasis bukan budaya kita. Dalam kemajemukan Indonesia, rasis adalah tindakan yang mengingkari bentang zamrud khatulistiwa. Rasis jelas bukan Indonesia.

Timur atau Barat, Selatan hingga Utara, semua anak bangsa adalah juga bagian dari bangsa ini. Semua berkontribusi, tidak ada yang hanya menjadi penonton.

Dalam keberagaman dan kemajemukan, semua anak bangsa adalah bagian dari permainan. Karena itu semua harus berdiri melawan rasisme di stadion, di media sosial, dan di setiap sudut kehidupan kita. 

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis.

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments