Pendidikan di SMA di Adonara Timur, Tanggung Jawab Siapa?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Jangan baper dengan judul ini. “SMA Adonara Timur” itu sebenarnya adalah kata ganti dari “Flores Timur” atau “dunia pendidikan” yang lebih luas. Kata di atas dipilih hanya dalam konteks “merebut perhatian” pembaca, bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting, dari yang sedang viral itu.

Bahwa untuk memulai tulisan ini, saya akan mengilustrasikan kembali yang viral itu, bukan bermaksud untuk mengompori supaya terus panas. Atau membenturkan siapa saja yang sedang membangun “skenario” drama.

Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk menjawab satu pertanyaan sederhana, begini:

“Apakah ada hal lain yang jauh lebih besar dalam pendidikan untuk anak, untuk generasi muda, daripada perseteruan orang-orang ‘dewasa’ itu?

Disclaimer-nya adalah bahwa saya awalnya terganggu dengan narasi yang dibangun oleh orang tua. Sedikit tidak nyaman ketika membaca itu kemudian menarik simpulan awal bahwa narasi itu benar adanya.

Ini kesalahan saya yang pertama. Tapi juga dipahami bahwa kita cenderung menganggap yang pertama sebagai ‘kebenaran” ketika ada informasi lain yang masuk kemudian yang berlawanan dengan informasi pertama. Ini mekanisme pertahanan diri. Manusiawi.

Kemudian, ketika mendapatkan sanggahan dari guru, saya mempertanyakan kebenaran di alam pikiran saya. Saya harus percaya siapa? Orang tuakah? Atau guru?

Baca juga : Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot

Sulit memang untuk melihat narasi keduanya secara objektif. Kemudian saya menyadari bahwa ada hal lain yang mempengaruhi objektivitas saya. Ketika saya menyadari bahwa kedekatan saya secara tradisional kepada salah satu pihak, membuat objektivitas saya bergeser. Ini juga manusiawi.

Jika kenyataan bahwa objektivitas saya tidak lagi netral, cenderung memihak, lalu bagaimana saya berani menjawab pertanyaan di atas? Hal apa yang lebih besar daripada ‘alasan’ konflik mereka. Apapun alasan itu.

Bagaimana jika akhirnya tulisan ini hanya untuk menarasikan pembenaran versi saya kepada salah satu pihak hanya karena kedekatan tradisional saya dengannya? Apakah saya sungguh objektif? Wallahu A’lam Bish Shawab. Barangkali hanya saya dan Pencipta yang tahu di timbang mana posisi saya.

Maka, mari kita berpikir. Soal pendidikan, tanggung jawab siapa? Skenarionya adalah, jawaban dari pertanyaan ini akan akan mengantar kita pada mencari jawaban atas pertanyaan lain “Jika demikian apa yang harus kita lakukan?”

Semua juga tahu bahwa pendidikan generasi muda kita adalah tanggung jawab semua orang. Sekolah, guru, orang tua, pemerintah dan masyarakat luas bertanggung jawab atas masa depan anak-anak, generasi muda kita.

Karena tanggung jawab semua orang inilah maka, aturan yang dibuat harus fokus pada tumbuh kembang anak sebagai manusia yang utuh. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan. Pendidikan adalah mengenai semua dimensi kehidupan.

Karena tanggung jawab inilah maka Fokus kita sebagai orang dewasa adalah memastikan semua anak bertumbuh sebagai pribadi yang utuh, jiwa dan raga, rasa dan karsa, lahir dan batin. Semua anak tanpa kecuali.

Baca juga : Ini Penyebab Banyak Anak Kecil Cuci Darah Untuk Bertahan Hidup

Hal Konyol Bernama Kriteria Penerimaan Siswa Baru

Maka kriteria penerimaan siswa baru harus ditinggalkan. Apa yang membuat kita orang dewasa berani berpikir bahwa kita berhak membuat seperangkat kriteria untuk menentukan masa depan anak-anak, generasi muda kita?

Sangat keterlaluan jika sekolah membuat aturan yang kemudian tidak memberi kesempatan kepada semua anak dengan segala macam keunikannya memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Kriteria penerimaan siswa itu seperti memaksa burung dan ikan untuk bisa berlari bersama kura-kura dan siput. Setiap anak memiliki kecenderungan belajar individual yang berbeda. Karakter unik dan tipe temperamen yang tidak sama satu dengan yang lain.

Aturan harus dibuat untuk memastikan setiap anak mendapatkan model pendampingan yang sesuai dengan kepribadian dan kecenderungan, sesuai dengan pola dan model belajarnya.

Bukan menciptakan seperangkat aturan untuk menentukan anak diterima atau ditolak oleh sebuah lembaga pendidikan.

Sekolah sebagai komunitas untuk mendukung tumbuh kembang anak adalah tempat paling aman dan nyaman untuk memastikan semua anak, tanpa kecuali, mendapatkan kesempatan yang sama besar untuk menjadi pribadi terbaik, pribadi utuh yang bertumbuh, sesuai bakat dan kepribadian mereka

Komunitas pendidikan tidak boleh menolak seorang anakpun, dengan alasan apapun untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang utuh. Jika anak ditolak, tidak diterima karena kriteria tertentu yang tidak dipenuhi, lalu masa depannya menjadi tanggung jawab siapa? Mikir!! (bersambung….)

Foto: Annibuku.com

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments