MPLS SD Tarakanita 3 Jakarta Bekali Murid Menjadi Pengguna Media yang Bijak

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kemampuan menggunakan media secara bijak menjadi keterampilan yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Berangkat dari kebutuhan tersebut, SD Tarakanita 3 Jakarta mengisi rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan kegiatan sosialisasi bertema “Pintar Menggunakan Media”. 

Kegiatan tersebut berlangsung pada pukul 09.00–10.00 WIB di Aula SD Tarakanita 3 Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid kelas III hingga kelas VI sebagai bekal menghadapi tantangan dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak.

Sosialisasi menghadirkan Bapak Wildan Ali, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara, peneliti media digital dan perhatian anak, serta pembuat film dan media. 

Ia dikenal sebagai akademisi dan peneliti yang aktif mengkaji perilaku anak dalam menggunakan media digital. Bapak Wildan juga merupakan salah satu wali murid SD Tarakanita 3 Jakarta. 

Kedekatannya dengan lingkungan sekolah membuat materi yang disampaikan terasa relevan dengan keseharian peserta didik dan tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini.

Suasana sosialisasi diawali dengan pertanyaan sederhana yang langsung menarik perhatian peserta, “Siapa yang suka menonton video pendek?” Hampir seluruh tangan murid terangkat. 

Dari pertanyaan tersebut, Pak Wildan membawa peserta memasuki pembahasan yang lebih mendalam mengenai kebiasaan anak dalam mengkonsumsi konten digital.

Menurutnya, dunia digital saat ini memiliki karakteristik yang membuat seseorang mudah bertahan lama di depan layar. Konten dapat ditonton kapan saja, video berganti dengan sangat cepat, pilihan yang tersedia hampir tidak terbatas, dan notifikasi terus bermunculan. 

Namun, Pak Wildan menegaskan bahwa layar bukanlah musuh. Sebaliknya, layar dapat melatih cara manusia memberikan perhatian terhadap sesuatu. Tantangannya terletak pada bagaimana pengguna mampu mengendalikan perhatian tersebut.

Baca juga : Jangan Asal Posting! PUSPAGA Bekali Murid SD Santo Carolus Cara Aman dan Bijak Bermedia Saat MPLS

Ia menjelaskan bahwa banyak platform video pendek dirancang agar pengguna terus menonton melalui siklus yang berulang, yaitu pancingan, hadiah, geser, berikutnya, lalu mengulang kembali. Pola tersebut membuat seseorang terdorong untuk terus mencari video berikutnya tanpa sadar telah menghabiskan banyak waktu.

Dalam pemaparannya, Pak Wildan memperkenalkan dua jenis perhatian yang sering muncul ketika menggunakan media digital. Pertama adalah “lampu sorot”, yaitu kemampuan untuk berfokus pada satu hal dalam waktu yang lebih lama.

Kedua adalah “lampu kedip”, yaitu perhatian yang cepat berpindah dari satu hal ke hal lain. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi video pendek secara terus-menerus dapat membuat perhatian lebih sering bekerja seperti lampu kedip sehingga kemampuan berkonsentrasi menjadi berkurang.

Sebagai peneliti media digital dan perhatian anak, Pak Wildan juga membagikan hasil penelitiannya. Ia menjelaskan bahwa semakin sering anak menonton video pendek dan semakin sulit menghentikan kebiasaan tersebut, semakin banyak ditemukan kesulitan dalam memusatkan perhatian. 

Selain itu, keseringan menonton video pendek juga menghambat mereka dalam  menyelesaikan tugas, serta mengingat instruksi. Oleh karena itu, anak perlu belajar mengelola penggunaan media digital agar tidak mengganggu proses belajar maupun aktivitas sehari-hari.

Untuk membantu murid menjadi pengguna media yang lebih bijak, Pak Wildan memperkenalkan prinsip sederhana “Lihat – Pikir – Pilih.” Anak-anak diajak untuk tidak langsung mempercayai semua informasi yang muncul di layar. Ia mengingatkan bahwa apa yang terlihat nyata belum tentu benar.

Judul dapat dibuat berlebihan untuk menarik perhatian, video dapat dipotong sehingga mengubah konteks, iklan dapat dikemas seperti hiburan, bahkan gambar maupun suara dapat dimanipulasi.

Karena itu, ketika menemukan video atau informasi yang terasa janggal, murid diajak melakukan tiga langkah sederhana, yaitu berhenti, periksa, dan bertanya. Dengan cara tersebut, mereka belajar berpikir kritis sebelum mempercayai ataupun menyebarkan suatu informasi.

Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para murid tampak antusias berbagi pengalaman menggunakan media sosial. Salah seorang murid menceritakan bahwa dirinya pernah sulit mengabaikan pancingan video pendek yang berisi ajakan, “Like dan komen video ini jika kamu mau masuk surga.” 

Baca juga : Karena Kepemimpinan Visioner Direktur Sekolah Islam Al-Azhar BSD Raih Winner Achievement Leader Award 2026 Kategori Best Director

Pengalaman tersebut menjadi contoh nyata bagaimana sebuah hook atau kalimat pemancing dapat mempengaruhi perhatian seseorang. Melalui diskusi tersebut, Pak Wildan mengajak murid untuk mengenali berbagai bentuk manipulasi perhatian yang sering muncul di media digital.

Sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari, Pak Wildan memberikan beberapa langkah sederhana agar anak tetap menjadi pengendali atas perhatiannya sendiri, antara lain mematikan fitur autoplay apabila memungkinkan. 

Langkah lain adalah tidak menonton video saat mengerjakan tugas, menyimpan gawai ketika ingin fokus belajar, berhenti menonton sebelum tidur, serta menentukan sendiri kapan akan melanjutkan menonton.

Di akhir sesi, Pak Wildan menutup kegiatan dengan pesan yang mengajak murid untuk merefleksikan kembali cara mereka menggunakan media digital. 

Menurutnya, anak yang pintar digital bukanlah anak yang mengetahui semua aplikasi, melainkan anak yang tahu kapan harus percaya atau tidak percaya, kapan harus memeriksa, kapan harus memilih, dan kapan harus berhenti.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen SD Tarakanita 3 Jakarta dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak, yaitu lingkungan belajar yang tidak hanya memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga membekali peserta didik dengan kemampuan menghadapi tantangan di ruang digital. 

Edukasi mengenai literasi digital menjadi langkah preventif agar anak mampu menggunakan teknologi secara sehat, bertanggung jawab, dan tetap mengutamakan keselamatan diri.

Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan salah satu nilai CC5 Tarakanita, yaitu Competence. Melalui pembekalan literasi digital, murid didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan secara bijaksana, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi. 

Kompetensi tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi peserta didik untuk tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cakap menggunakan media digital, tetapi juga mampu mengendalikan perhatian, memilah informasi, dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments