Depoedu.com-Sejak Indonesia merdeka, pembangunan di bidang pendidikan termasuk yang bergerak di tempat, seperti terlihat dari rilis wordtop20.org. Menurut lembaga tersebut, hingga kini, kualitas pendidikan di Indonesia masih berada di urutan ke-67 dari 209 negara di dunia.
Menurut ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Profesor Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., kemandekan perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia terjadi karena para elit selalu bongkar pasang kebijakan pendidikan, sehingga pengembangan pendidikan tidak berkesinambungan.
Haedar Nashir berharap agar elit yang nanti terpilih di pemilu tahun 2024 tidak lagi membongkar pasang kebijakan di bidang pendidikan, yang menyebabkan pekerjaan perbaikan pendidikan di Indonesia tidak tuntas.
Ketua PP Muhammadiyah periode kedua ini berpendapat, kebijakan pendidikan harus memiliki fungsi strategis karena menyangkut pengembangan manusia Indonesia yang cerdas dan cakap dalam setiap aspek kehidupan, jadi pendidikan tidak sekedar mencetak tenaga kerja.
Baca juga : Beasiswa Bakti BCA Untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri Dibuka Kembali
Oleh karena itu, semua insan pendidikan, sangat diharapkan bekerja keras karena ujian dan tantangan di dunia pendidikan masih banyak, terutama jika melihat indeks pembangunan manusia Indonesia masih rendah.
“Oleh karena itu, PP Muhammadiyah berharap, rancang bangun pendidikan nasional menuju Indonesia Emas itu, tidak cukup hanya bersifat teknokratis-me-link-kan lembaga pendidikan dengan perusahaan,” kata Haedar dalam sambutannya pada acara pelantikan Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, seperti dilansir pada laman muhammadiyah.or.id.
“Pendidikan harus lebih fundamental lagi untuk dapat memobilisasi dan mengembangkan potensi kreatif manusia Indonesia agar cita-cita para pendiri bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai,” lanjut guru besar Sosiologi ini.
Untuk mencapai keinginan luhur tersebut, ia berharap garis kebijakan yang sudah diletakkan oleh kepemimpinan sekarang, dapat dilanjutkan agar berkesimbungan. Pembangunan pendidikan akan sulit memajukan kehidupan bangsa jika setiap periode, kebijakannya berbeda-beda.
Baca juga : Lima Ciri Anak Cerdas Sejak Usia Dini
Haedar menyinggung dari pengamatannya, selama ini proses pembicaraan pemilu lima tahunan, berlangsung biasa-biasa saja. Oleh karena itu, warga tidak menemukan substansi dari setiap masalah, dan terutama para elit tidak menyadari luruhnya komitmen kebangsaan dan nasionalisme mereka.
Oleh karena itu, Haedar mengajak agar warga Muhammadiyah ikut mendorong proses pemilu lima tahunan, tidak biasa-biasa saja. Proses pemilu harus didorong agar mendalam sehingga warga negara menemukan substansi dari setiap masalah kebangsaan.
Di akhir sambutannya ia mengajak warga Muhammadiyah menggelorakan visi, misi kenegaraan dan kebangsaan Indonesia dalam pemilu 2024, agar visi-misi kenegaraan dan kebangsaan kembali menjadi alam pikiran para elit Bangsa Indonesia.
Foto: Tribun Jogja
