Depoedu.com-Belakangan ini, ramai perbincangan mengenai inner child – sebuah bagian diri yang mungkin sudah jauh tertinggal di belakang, padahal sebenarnya selalu ada dalam diri kita dan mungkin tanpa sadar mempengaruhi bagaimana kita membuat keputusan dan berhadapan dengan masalah.
Sebenarnya, apa itu inner child? Mengapa bisa mempengaruhi kehidupan kita saat ini?
Inner child, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti anak kecil yang berada di dalam, adalah sosok anak-anak dari diri kita yang masih melekat pada diri kita meski setelah kita dewasa.
Anak kecil dalam diri kita tidak pergi, tapi menetap di dalam diri, membentuk diri kita saat ini, dan seringkali menjadi dorongan alam bawah sadar yang kuat dalam menjalani kehidupan seperti membuat keputusan atau merespon masalah.
Inner child yang dimiliki masing-masing orang dapat berada dalam kondisi baik atau dalam kondisi bermasalah trauma dan terluka.
Jika seseorang banyak mengalami peristiwa yang menyenangkan dalam hidupnya, maka inner child-nya akan berkembang dengan baik dan memberi energi positif bagi jiwa dan perilakunya.
Sebaliknya, jika seseorang pernah atau sering mengalami peristiwa yang menyakitkan, maka inner child-nya akan stuck di usia saat ia mengalami peristiwa yang menimbulkan luka pada jiwanya.
Baca juga : Pesan Martin Cooper Seorang Penemu Smartphone, Bagi Pecandu Smartphone Di Indonesia
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi inner child yang terluka; antara lain:
- Menyadari Inner Child pada diri sendiri.
Kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri. Ini tidak hanya berlaku bagi keberhasilan di bidang karier, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk keluarga, sosial masyarakat, dan spiritual.
Dengan mengenal diri sendiri, seseorang mengetahui apa yang mesti jadi tujuan hidupnya. Ia menyadari kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut.
Dengan demikian ia lebih mampu menemukan makna dan kepenuhan dari hidupnya.
- Menjadi teman yang baik untuk diri sendiri
Saat orang terdekat kita sedang mengalami hal yang sulit, tentu kita sebagai sesama manusia ingin membantu, kan? Nah, posisikanlah diri kalian sebagai teman dan jadilah pendengar yang baik untuk diri kalian sendiri.
Merangkul dan memeluk rasa marah yang sedang kita alami memang sulit. Setelah mendengar dan memahami pikiranmu sendiri, kita akan mampu mengidentifikasi dan menjauhi trigger yang bisa memicu reaksi negatif inner child tersebut.
Saat kita berhasil mendengar dan memahami perasaan sendiri, di situlah proses penerimaan dan menyayangi diri akan dimulai.
Baca juga : Cerita Ini Inspiratif, Sekaligus Jadi Bukti Ada Cinta Abadi
- Afirmasi Positif
Menjalin komunikasi yang baik dengan inner child kita adalah suatu hal yang sangat penting. Maka dari itu, sisihkanlah waktu dalam setiap harinya untuk berbicara dengan sisi lain dari dirimu ini.
Bermonolog seraya mengucapkan kalimat-kalimat motivasi yang suportif itu tidak ada salahnya! Justru, hal tersebut sangat baik untuk kejiwaan kita.
Apabila kita bisa memeluk dan menguatkan diri sendiri dapat memberikan ruang untuk merasa dan mengeksplor diri kalian lebih jauh lagi.
Dengan mengucapkan beberapa mantra seperti “semua ini bukan salahmu”, “kita tidak sendirian di dunia ini”, atau “kita sangat berharga dan mampu melewati semuanya dengan baik” saja sudah cukup.
- Menerima keberadaan inner child pada diri sendiri.
Menerima apa adanya keberadaan inner child dan berdamai, memahami sebab keberadaannya dan berupaya untuk mengambil manfaaatnya.
Proses mengenali inner child sebagian besar hanya melibatkan mengenali dan menerima hal-hal yang menyebabkan sakit di masa kanak-kanak.
Membawa rasa sakit tersebut ke dalam pemikiran yang jernih dapat membantu mulai memahami dampaknya.
Foto:klikDokter
