Hari Pangan Sedunia : Kelaparan Vs Sampah Makanan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kita baru saja merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober setiap tahun, beberapa hari lalu.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, HPS tahun ini dirayakan di tengah meningkatnya kasus kelaparan di dunia.

Pada tanggal 6 Juli 2022, PBB melalui Laporan SOFI (The State of Food Security and Nutrition in the World) menyebutkan bahwa angka kelaparan penduduk dunia mencapai 828 juta orang tahun 2021 lalu (spi.or.id/07/07/2022).

Terjadi peningkatan sebesar 150 juta orang jika dibandingkan dengan angka kelaparan pada tahun 2019, pun meningkat 46 juta orang jika dibandingkan dengan tahun 2020.

Keadaan ini masih bisa semakin parah dengan adanya krisis pangan global saat ini. Pemicunya tentu saja Covid-19 dan juga karena konflik Rusia – Ukraina.

Sumber yang sama mencatat bahwa hal ini telah memicu meningkatnya indeks harga pangan di tingkat global, yang juga meningkatkan inflasi di banyak negara di dunia.

Baca Juga: Di Usia Berapakah Seorang Anak Boleh Memiliki Ponsel Sendiri? 

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyebutkan bahwa 3,7 milyiar penduduk dunia tidak dapat mengakses makanan sehat pada tahin 2020 karena tingginya harga pangan.

Sementara di tahun 2021 kemarin 2,3 milyar orang tidak memiliki cukup bahan untuk dimakan. Dan 345 juta orang di dunia dalam posisi kelaparan akut (dw,com/07.07.2022).

Menurut Global Hunger Index (GHI) Indeks Kelaparan di Indonesia terbilang tinggi jika dibandingkan dengan 8 negara lain di ASEAN.

Indonesia memiliki angka indeks 18,0 menjadi peringkat ke 2 tertinggi. Angka index kelaparan di buat pada rentang 0 – 100. Tingginya angka indeks menunjukan bahwa tingkat kelaparan di suatu wilayah menjadi lebih parah.

Indonesia hanya kalah dari Laos yang memiliki angka indeks kelaparan sebesar 19.5. Dibawah Indonesia berturut-turut : Myanmar: 17.5, Kamboja: 17.0, kemudian Filipina 16.8, Vietnam 13,6, disusul Malaysia 12.8 dan terakhir Thailand 11.7.

Sungguh ironi karena tinggi nya angka kelaparan di dunia, ternyata sama juga dengan tingginya angka bahan pangan terbuang dan menjadi sampah yang mencemari tanah, air dan udara.

Dalam surat gembalanya, Yang Mulia Kardinal Ignatius Suharyo mengungkapkan bahwa pada tahun 2000 – 2019: menurut KLHK ada 39,8 % sampah yang merupakan sampah makanan.

Baca Juga: Mempraktikkan Lima Kebiasaan Ringan Ini, Dapat Membantu Menurunkan Obesitas Anda

Diperkirakan setiap orang Indonesia membiarkan 115 kg hingga 184 kg bahan makanan menjadi sampah setiap tahun.

Jika dikonversi dalam bentuk uang maka, ada lebih kurang Rp330 triliun yang terbuang dari bahan pangan yang menjadi sampah. Angka ini berarti setiap orang Indonesia selama setahun membuang uang sebesar Rp2,1 juta karena menyia-nyiakan makanan.

Yang Mulia Kardinal Suharyo mengajak Umat Katolik se Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) agar “ Menghargai Pangan sebagai Wujud Penghormatan Martabat Manusia.”

Menurut Kardinal Suharyo, pertanyaan pokok yang harus dijawab oleh Umat Katolik se KAJ adalah “ Apa yang mesti kita lakukan, supaya hak dasar atas pangan saudari-saudara kita yang berkekurangan dapat kita penuhi?”

Yang Mulia Kardinal Suharyo pun mengajak kita agar menghargai pangan dengan pola makan secukupnya dan sehat serta tidak membuang makanan. Ini adalah tindakan iman.

Sebab membuang-buang makanan dan menjadikannya sampah, berarti tidak menghormati hak dasar atas pangan dari saudari-saudara kita yang kurang beruntung.

Dengan demikian hal kecil yang dapat kita lakukan adalah memastikan agar setiap makanan yang sudah kita ambil kedalam piring makan, akan habis tanpa menyisakan satu biji nasipun. Sederhana namun bermakna.

Foto: news.detik.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
Abel Petrus
3 years ago

Terkenang ketika masih mengikuti komunitas Punk di Denpasar. Hidup dijalanan bagi orang-orang yang kurang beruntung adalah sumber nafkah hidup mereka, tetapi bagi sebagian lainnya adalah pilihan dari kesadaran mereka melihat realitas sosial yang terkotak-kotak berdasarkan tingkat ekonomi. Mereka yang tergabung dalam komunitas itu berasal dari orang-orang terpelajar. Mereka hidup dijalanan menjadi sebuah pilihan dan perwujudan protes sosial. Realitas sosial tersebut adalah ketika perusahaan makanan membuang sisa makanan dan/atau makanan yang tak terjual. Anak-anak Punk ini kemudian membuat aksi mengambil makanan-makanan tersebut dan memakannya di tempat-tempat umum, untuk memperlihat kepada masyarakat bahwa makanan yang mereka beli dan disisakan adalah bentuk ketidaksadaran… Read more »

trackback

[…] Baca juga : Hari Pangan Sedunia : Kelaparan Vs Sampah Makanan […]