Sang Ibu Mengeluh di Medsos, Anaknya Dikeluarkan dari Sekolah. Ini Gejala Apa?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Seorang anak Taman Kanak-kanak (TK) dikeluarkan dari sekolahnya secara sepihak dan mendadak, tanpa prosedur, menjadi perhatian netizen belum lama ini.

Kabar ini mencuat ke publik setelah Sang Ibu, curhat terkait kejadian ini melalui akun tiktoknya dan menjadi viral di media sosial.

Pada akun tersebut, Rebecca Oktavia, Ibu dari anak TK tersebut menceritakan bahwa karena dipanggil oleh sekolah, maka ia hadir siang itu ke sekolah.

Karena undangan yang tidak formal, alias hanya melalui chat di whatsaap, ia pikir ini cuma panggilan biasa selaku orang tua.

Namun ia kaget karena ketika memasuki ruangan pertemuan, ia telah ditunggu oleh empat orang ibu guru.

Dan tanpa tedeng aling-aling, salah satu ibu guru menyampaikan bahwa mulai besok anaknya tidak lagi belajar di sekolah tersebut bersama teman-temannya.

“Maaf, terhitung hari ini, Miguel dikeluarkan dari sekolah. Mulai besok Miguel tidak lagi belajar bersama teman-temannya,” kata ibu guru tersebut.

Ia kontan kaget dan merasa tidak mendapat perlakuan yang sewajarnya selaku orang tua. Apalagi sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun, apalagi teguran baik lisan ataupun melalui surat peringatan.

Ia menuturkan di akun tiktok tersebut bahwa alasan Miguel dikeluarkan adalah karena Ibu Rebecca dinilai kerap menjelek-jelekkan pihak sekolah melalui akun media sosialnya.

Baca juga : Mengintip Model Pembelajaran Bahasa Di Macarthur Anglican School Australia

Ibu Rebecca juga mengakui di akun tersebut bahwa ia memang sering mengunggah keluhannya di akun tiktok miliknya.

“Ya wajar dong kalau kita tidak puas dengan pelayanan sekolah dan sekolah tidak mendengarkan keluhan kita, maka kita boleh posting di media sosial dong,” kata Ibu Rebecca.

Pada video tersebut, Ibu Rebecca juga membagikan salah satu tangkapan layar berisi cerita yang kurang menyenangkan ketika ia menjemput anaknya.

Tangkapan layar tersebut berisi cerita ketika Ibu Rebecca diusir dari kawasan sekolah, oleh pihak keamanan sekolah, atas perintah atasan.

“Kalau bikin aturan tolong yang jelas. Kalau memang nggak boleh ya semua nggak boleh. Jangan pilih-pilih orang,” tulis Rebecca.

Untuk kesekian kalinya saya kecewa menyekolahkan anak saya di sekolah ini,” lanjut Rebecca.

Pada peristiwa tersebut ia merasa diusir, sementara orang tua yang lain, yang saat itu berada di sekolah, tidak mendapat perlakuan yang sama.

Itu ringkasan cerita yang saya tangkap dari akun tiktok Ibu Rebecca. Saya rasa kejadian ini dengan berbagai variasinya terjadi juga di banyak sekolah lain. Menurut Eduers, ini gejala apa?

Gejala hilangnya kemitraan sekolah dan orang tua

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa secara konseptual, sekolah dan orang tua adalah mitra. Sebagai mitra, hirarki hubungan sekolah (kepala sekolah dan guru) dan orang tua adalah sejajar.

Oleh karena itu, hubungan kedua belah pihak harus merupakan hubungan yang saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling menghargai.

Baca juga : Teacher’s Corner: Bagaimana Membuat Pertanyaan Yang Efektif Di Kelas?

Hanya dalam hirarki hubungan seperti itu, sekolah dan orang tua dapat bekerja sama, bahu membahu, membantu menumbuh kembangkan anak yang menjadi tujuan akhir dari kemitraan.

Dalam kasus ini, sekolah menempatkan diri lebih berkuasa, lebih menentukan, dan tidak menempatkan orang tua sebagai mitra.

Situasi ini menciptakan hambatan psikologis tersendiri dalam hubungan komunikasi antara sekolah dan orang tua.

Dari sisi orang tua, kebiasaan mem-posting ketidak-puasan di media sosial karena kekurangan pelayanan sekolah seperti yang dilakukan oleh Ibu Rebeccca, juga menggambarkan hilangnya kemitraan dari sisi orang tua, dalam hubungannya dengan sekolah.

Di samping itu, kebiasaan ini pun ternyata tidak mendorong sekolah utuk memperbaiki kekurangan, malah menimbulkan masalah baru bagi orang tua.

Di satu pihak, kekurangan pelayanan sekolah tidak diperbaiki. Di pihak lain, masalah baru muncul bagi orang tua karena, sekolah malah memutuskan mengeluarkan anak dari sekolah dan sekolah kehilangan seorang murid.

Maka dapat dikatakan bahwa jika sekolah maupun orang tua tidak saling menempatkan masing-masing sebagai mitra, maka menang-kalah, sama-sama tidak berguna. Ibaratnya, kalau menang jadi arang dan kalau kalah jadi abu. Ini berarti sama-sama tidak produktif.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, agar lebih produktif, mari sekolah dan orang tua kembali menjadi mitra. Karena hanya dengan menjadi mitra, pertumbuhan anak yang menjadi tujuan tertinggi bagi keduanya, dapat sungguh-sungguh terwujud.

Dan setelah menjadikan masing-masing sebagai mitra, kejadian seperti yang dialami oleh Ibu Rebecca dan anaknya, tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah kita.

Foto:tribun trends

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Sang Ibu Mengeluh Di Medsos, Anaknya Dikeluarkan Dari Sekolah. Ini Gejala Apa? […]