Setelah Merayakan Hari Anak Nasional, Apa Yang Harus Kita Kerjakan?

Event
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Hari ini, 23 Juli 2022, tiap tahun, kita merayakan sebagai Hari Anak Nasional, sejak pemerintah mengeluarkan Kepres 94 tahun 1984. Kepres tersebut merupakan pelaksanaan amanat undang-undang no. 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak.

Itu artinya, tahun ini merupakan tahun ke 28 bangsa ini merayakan Hari Anak Nasional. Hari di mana harusnya, kita secara khusus meluangkan waktu untuk melakukan refleksi, mengevaluasi perilaku kita, sejauh mana sebagai bangsa, kita menjamin pertumbuhan perkembangan anak dan remaja kita.

Ini semua kita lakukan karena, kita ingin bangsa ini memiliki masa depan yang gemilang. Dan masa depan gemilang tersebut kita yakini, berada di tangan anak-anak dan remaja kita.

Oleh karena itu, negara harus menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja kita secara utuh, jasmani dan rohani. Anak dan remaja dijamin perkembangan dan pertumbuhan harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Oleh karena itu, negara membentuk berbagai lembaga, mulai dari lembaga pendidikan; keluarga dan sekolah, yang diurusi oleh kementerian terkait seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Ada lagi kementerian terkait lain seperti Kementerian Sosial. Ada lembaga Kepolisian Negara. Di samping itu ada lembaga negara terkait seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang bersifat independen.

Negara kemudian menempatkan personel birokrasi pada lembaga-lembaga tersebut dan menggaji mereka dengan uang yang berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat, agar mereka bekerja, untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja, termasuk melindungi mereka dari ancaman dan bahaya.

Baca juga : Prihatin, Murid SD Kelas VI Depresi Dan Meninggal Setelah Dipaksa Teman-Temannya Setubuhi Kucing

Namun apa yang terjadi? Anak-anak dan remaja kita tidak bertumbuh dengan baik karena mereka tidak dididik dengan baik oleh orang tua dan guru mereka. Mengapa? Karena orang tua dan guru tidak dilatih dan disiapkan dengan baik oleh negara untuk menjadi pendidik.

Oleh karena itu, keluarga dan sekolah yang harusnya menjadi tempat untuk menumbuhkan dan mengembangkan anak dan remaja, justru menjadi tempat berlangsungnya proses penghancuran potensi pertumbuhan anak dan remaja.

Banyak praktik penghancuran potensi anak dan remaja bisa disebutkan. Misalnya dalam jangka waktu lama sekolah kita hanya melatih para murid menghafal. Kreativitas murid tidak dikembangkan, kemampuan analisis, kemampuan memecahkan masalah dan minat belajar murid dimatikan, melalui sistem pengajaran dan sistem ujian yang sangat content based.

Ini kehancuran secara mental, oleh karena itu, tidak kelihatan secara kasat mata. Namun kehancuran ini menyebabkan anak dan remaja kita kehilangan hal yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan mereka.

Belum lagi kejadian miris seperti pelecehan seksual terhadap anak dan remaja di lembaga pendidikan, yang dilakukan oleh para pendidik, yang seharusnya melindungi. Mereka justru malahan merusak anak dan remaja, baik secara psikis maupun secara moral.

Kejadian miris lain baru terjadi di Singaparna, Tasikmalaya Jawa Barat. Sekelompok anak memaksa PH, seorang anak SD kelas VI, menyetubuhi kucing, merekam aksi tersebut dengan video, dan menyebarkannya melalui media sosial.

Lantaran video perundungan tersebut tersebar, korban sangat ketakutan, malu dan depresi berat. Meskipun sempat dirawat di rumah sakit, namun tidak tertolong, hingga meninggal pada minggu (17/7/2022).

Pada kejadian seperti ini, ke mana orang tua dan guru? Ke mana polisi yang seharusnya melindungi dan mengayomi anak-anak malang ini? Kejadian semacam ini menggambarkan sistem perlindungan pada anak bukan hanya tidak berjalan, melainkan tidak ada.

Baca juga : Mengapa Banyak SD Negeri Tidak Memperoleh Murid Baru Dalam PPDB Tahun Ini?

Biasanya, pada kejadian seperti ini, lembaga seperti Kementerian Pendidikan dan birokrasi di bawahnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPAI, baru muncul dan menjadi seperti pemadam kebakaran yang selalu terlambat.

Padahal sebetulnya mereka dapat mendorong program pencegahan, misalnya berkaitan dengan perundungan dan lainnya.

Belum lagi kasus pembunuhan anak oleh orang tua sendiri. Sebut saja F (6), dianiaya hingga tewas di Boyolali, oleh SW (30) yang adalah ibu kandungnya sendiri. Tidak lama berselang, di Kabupaen Demak, QRY (7) meninggal di tangan ayah kandungnya sendiri.

Dan masih banyak lagi kejadian serupa, bisa kita baca di media online. Kasus-kasus ini jelas menggambarkan bahwa anak belum sepenuhnya mendapat perlindungan, bukan saja dari lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, tetapi juga dari orang tua mereka sendiri.

Memang harus diakui bahwa kasus-kasus ini hanyalah puncak dari kompleksitas persoalan kita sebagai bangsa. Oleh karena itu, tidak bisa selesai hanya dengan merayakan Hari Anak Nasional seperti selalu kita lakukan setiap tahun.

Oleh karena itu perayaan Hari Anak Nasional selain merupakan momentum untuk refleksi dan evaluasi, juga merupakan momentum untuk mengumpulkan kekuatan guna bekerja lebih keras, lebih baik,  untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja kita.

Karena kita yakin masa depan gemilang bangsa ini ada di tangan mereka. Selamat Hari Anak Nasional.

Foto:pngtree

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga: Setelah Merayakan Hari Anak Nasional, Apa Yang Harus Kita Kerjakan? […]

trackback

[…] Baca juga : Setelah Merayakan Hari Anak Nasional, Apa Yang Harus Kita Kerjakan? […]