Menyambut Peluang Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pemerintah telah mengubah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berdasarkan level. Berbeda dengan sebelumnya, kini penerapan PPKM diubah menjadi level 1, level 2, level 3 dan level 4.

Level ini ditetapkan berdasarkan asesmen level situasi pandemi, yang merupakan indikator untuk mengetatkan dan melonggarkan upaya pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19.

PPKM berdasarkan level tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 22 Tahun 2021 dan Inmendagri Nomor 23 Tahun 2021. Sejalan dengan ini, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengizinkan siswa ikut pembelajaran tatap muka (PTM) di wilayah PPKM Level 1-3 meski belum menerima suntikan vaksin virus corona (Covid-19).

Nadiem mengatakan pembelajaran tatap muka bagi siswa belum divaksin tetap diizinkan dengan memegang prinsip kehati-hatian. Menurut dia, ketentuan tersebut telah sesuai surat keputusan bersama (SKB) 4 Menteri.

“Bagi sekolah yang peserta didiknya belum mendapatkan giliran vaksinasi, sekolah di wilayah PPKM level 1-3 tetap dapat menyelenggarakan PTM terbatas dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Nadiem dalam keterangannya.

Menurut Nadiem, Presiden Joko Widodo telah mendorong agar PTM segera digelar di wilayah PPKM Level 1-3. Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat meninjau vaksinasi Covid-19 untuk pelajar yang digelar di SMPN 3 Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga : Nadiem Makarim: Sekolah Segera Menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka

Di wilayah yang menerapkan PPKM 1-3, Pemerintah mengizinkan pembelajaran tatap muka, dengan protokol kesehatan ketat, di antaranya maksimal kuota siswa di kelas hanya 50 persen. Meski sudah setahun dijalani, nampaknya pelaksanaan PJJ masih saja mengalami banyak kendala.

Masih banyak guru yang kesulitan mengajar secara daring. Orang tua murid juga kewalahan saat mendampingi PJJ. Akibatnya, banyak murid-murid yang menurun prestasi belajarnya. Pembelajaran yang dilaksanakan secara daring juga menimbulkan banyak dampak negatif.

Dampak negatif pembelajaran daring yaitu pertama, pembelajaran daring dinilai kurang efektif dan efisien. Pembelajaran melalui daring membutuhkan usaha para siswa dan mahasiswa dalam memahami materi dan konsep yang disajikan dan disampaikan melalui video, powerpoint, dan kelas online.

Kedua, keterampilan dalam penggunaan teknologi. Masih banyak pihak pengajar maupun yang diajar mengalami kebingungan dalam menggunakan media pembelajaran seperti Zoom meeting, Google classroom, Google meet, dan lain sebagainya.

Wacana pembukaan pembelajaran tatap muka tentu hal yang menggembirakan.  Pembelajaran tatap muka itu lebih ideal sampai sejauh ini, berikut empat alasan ideal pembelajaran tatap muka.

  1. Interaksi dan Komunikasi Lebih Mudah

Selama KBM daring diakui komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid maupun antara sesama murid menjadi terhambat dan tidak berjalan dengan optimal. Hal ini tentu karena saat KBM daring berlangsung, proses komunikasi hanya terjalin melalui video call atau chat saja.

Tentu saja ini dapat menghilangkan kedekatan dan proses komunikasi alami antara guru dan murid, terutama berkaitan dengan proses penyampaian materi. Proses komunikasi jarak jauh dianggap belum sepenuhnya efektif karena rentan dengan kekeliruan dalam menerima dan mencerna informasi.

Baca Juga : Bagaimana Mengelola Dilema Pembelajaran Tatap Muka Di Tengah Pandemi Covid-19?

Artinya informasi yang disampaikan guru belum tentu akan dicerna sama oleh peserta. Hal ini mungkin karena suara yang kurang jelas atau instruksi yang kurang lengkap, serta faktor-faktor lainnya.

Oleh sebab itu, KBM tatap muka masih dianggap paling ideal, karena proses komunikasi dan sosialisasi akan terjalin secara langsung, sehingga informasi dan materi yang diberikan juga akan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh murid.

  1. Pembelajaran lebih efektif

Kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka ternyata lebih efektif dibandingkan dilakukan secara online. Pembelajaran penuh secara daring akhir-akhir ini banyak menimbulkan keluhan dari peserta didik maupun orang tua.  Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat.

Bagaimana pun, pembelajaran terbaik adalah bertatap muka dan berinteraksi dengan guru dan teman-teman. Dalam proses belajar-mengajar secara tatap muka ada nilai yang bisa diambil oleh siswa, seperti proses pendewasaan sosial, budaya, etika, dan moral yang hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial di suatu area pendidikan.

Perubahan sosial yang tiba-tiba terjadi sebagai akibat merebaknya penyebaran Covid-19 menyebabkan kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar. Itu sebabnya tidak mungkin jika sebuah pembelajaran ideal dicapai di masa pandemi seperti saat ini.

  1. Media Pembelajaran Lebih Familiar

Salah satu Kendala utama yang dihadapi guru maupun murid selama menjalani PJJ adalah berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber maupun media pembelajaran daring.

Baca Juga : Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah?

Sumber belajar daring sejauh ini belum begitu familiar dan mudah dipahami oleh para guru juga para murid terutama yang berada di wilayah 3T. Meskipun sebenarnya sumber belajar dan portal daring sudah banyak disediakan oleh Kemdikbud dan lembaga pendidikan lainnya secara gratis.

Seperti adanya rumah belajar, guru berbagi, sumber belajar seamolec, dan lainnya. Akan tetapi dengan proses adaptasi yang begitu cepat dan tanpa adanya proses persiapan dan pelatihan sebelumnya.

Sehingga para guru masih banyak mengalami kesulitan dalam memanfaatkan dan mengelola berbagai sumber dan media pembelajaran online, begitupun yang dialami murid dan para orangtua. Pembelajaran tatap muka memungkinkan media pembelajaran menjadi simple.

  1. Mudah dalam Penilaian Karakter

Salah satu aspek yang sulit diajarkan dan diidentifikasi ketika pelaksanaan KBM daring adalah berkaitan dengan pendidikan karakter dan moral. Tentu saja idealnya untuk mengukur karakter siswa haruslah dengan berinteraksi dan menganalisis secara langsung.

Selain itu hal paling penting dari pendidikan karakter adalah berkaitan dengan keteladanan. Sehingga itu perlu adanya praktik baik dan analisa secara langsung dari guru agar benar-benar memahami karakter dan sikap setiap siswa.

Maka dari itu model pembelajaran yang paling memungkinkan adanya penerapan nilai-nilai karakter secara optimal adalah dengan jalur tatap muka (konvensional).

Foto:gaya.tempo.co

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of