Manakala Guru Menua

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Youn Yuh-jung menjadi aktris Korea pertama yang mampu memboyong Piala Oscar dalam ajang penghargaan Academy Awards ke-93 (26/4/2021). Ia mampu mengungguli nominator pemain belia lainnya, yaitu Maria Bakalova, Glenn Close, Olivia Colman, dan Amanda Seyfried. Ada yang menarik dari kemenangan Youn Yuh-jung.

Youn yang berperan sebagai nenek dalam film Minari memenangi Piala Oscar 2021 di usia jelang 74 tahun pada 19 Juni mendatang. Youn menerima pengakuan kritis lebih dari empat puluh penghargaan kritikus regional Amerika, Asosiasi Kritikus Film Los Angeles.

Ia juga memperoleh penghargaan SAG untuk Penampilan Luar Biasa Aktor Wanita dalam Peran Pendukung, dan penghargaan BAFTA untuk Aktris Terbaik dalam Peran Pendukung. Bahkan dia juga menyandang predikat aktris Asia pertama yang memenangkan penghargaan akting dalam kategori film di Screen Actors Guild Awards.

Di tengah melesatnya capaian industri perfilman Korea, termasuk drama Korea, Youn menjadi pembeda yang unik. Youn dengan wajah rentanya sangat bertolak belakang dengan pemain drakor yang berwajah bening dan kulit bersinar.

Baca Juga : Pembelajaran HOTS Sebagai Bekal Beradaptasi

Ternyata usia tidak mengecilkan kesempatan untuk berkarya dan mendulang prestasi membanggakan. Bahkan di ranah yang membutuhkan kegantengan dan kecantikan paras fisik seseorang.

Dunia pendidikan sering kali mengalami problematika serupa. Ranah pendidikan saat ini berisikan murid iGeneration. Sebuah generasi yang lahir di era internet. Sebuah angkatan tatap layar yang gandrung teknologi informasi dan aplikasi gawai.

Bergelimang jejaring media sosial untuk berkomunikasi dengan mengandalkan spontanitas berekspresi terhadap apa yang dirasa dan dipikirkan. Terbiasa dengan perilaku serba cepat, tidak bertele-tele, dan berbelit-belit. Berbicara, membaca, menonton sambil mendengarkan musik mampu dilakukan dalam satu waktu.

Di sisi lain, para guru yang menjadi ujung tombak pendidikan merupakan Generasi X atau bahkan Generasi Baby Boomer. Istilah baby boomer muncul setelah adanya fenomena ledakan kelahiran bayi (baby boom) usai Perang Dunia II. Generasi ini berorientasi pada pencapaian, berdedikasi, dan berfokus pada satu hal yang dilakukan.

Baca Juga : Kejengahan Literasi Sekolah

Bahkan ada yang menyebut generasi gila kerja, tidak suka dikritik, tetapi suka mengritik generasi muda karena kurangnya etika dan komitmen terhadap pekerjaan. Sedangkan Generasi X cenderung mengambil keputusan yang matang, memerlukan waktu lebih, dan proses lebih mendominasi generasi ini.

Nilai Pembeda

Dari karakteristik murid dan guru tampak jelas perbedaannya. Para murid bagaikan kapal pesiar yang bergerak di permukaan, sedangkan pendidiknya bak kapal selam yang beroperasi di kedalaman.

Ada kontradiksi antara permukaan dan kedalaman makna dalam keseharian. Butuh sarana agar terjadi konektivitas antarkeduanya, yaitu nilai pembeda. Nilai pembeda tersebut merupakan jangkar penyadaran kedalaman makna.

Youn, di usia tuanya, masih berani mengambil berbagai peran tidak lazim. Biasanya para aktris berumur akan mengambil peran klise sebagai seorang ibu yang bijak dan rela berkorban atau sebaliknya ala ‘ajumma’ (sebutan perempuan paruh baya di Korea) yang bengis.

Sebuah peran yang memunculkan stereotipe, jika si A pasti berperan sebagai ibu yang pemarah. Youn selalu memperbarui dan berbagi akting dengan peran yang lebih kompleks, bergaya, dan independen. Keberhasilan Youn adalah kemauan untuk selalu menantang dirinya dengan peran baru, bahkan dalam film produksi rumahan minim budget.

Baca Juga : Bagaimana Bisa Memberdayakan Murid Jika Gurunya Tidak Berdaya?

Para guru adalah aktor dan aktris dunia pendidikan. Banyak pembenaran dari guru yang seringkali menghiasi keseharian di sekolah. Sudah tua tidak perlu tahu banyak tentang komputer, sebentar lagi pensiun.

Atau tidak perlu peduli dengan bahasa gaul, bukan masanya untuk membuat yang aneh-aneh, bisanya seperti ini, biarlah yang muda-muda saja, ngikut saja, dan seabrek pernyataan identik lainnya.

Usia bukanlah halangan untuk membangun nilai pembeda. Usia senja bukanlah pang gapuk (ranting lapuk). Para murid masih merindukan keteladanan, maka nilai pembeda itulah yang bisa diteladani murid.

Guru mau mencoba hal baru, meng-up date dan up grade diri, gemar membaca, menulis, meneliti, berinovasi, menarik saat pidato, aktif di kegiatan sosial keagamaan merupakan contoh pilihan nilai pembeda tersebut.

Guru bukanlah sosok pribadi yang biasa-biasa saja, tapi harus luar biasa karena di pundaknya tergantung masa depan peradaban manusia. Guru bukanlah gudang timbunan materi tapi pribadi dengan values dan kedalaman makna. Tapi bagaimana guru bisa berbagi manakala dia tidak memilikinya?

Penulis adalah Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Foto:yahoo.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of