Depoedu.com-Hari Raya Idul Fitri kita jelang setelah tiga puluh hari umat Islam menunaikan ibadah puasa. Menjadi special atau tidaknya Hari Raya Idul Fitri, tergantung pada bagaimana ibadah puasa dijalani.
Bagi umat Islam yang menjalani ibadah puasa dengan benar, maka datangnya Hari Raya Idul Fitri tidak hanya berarti rampungnya kita menjalankan ibadah puasa.
Bagi mereka, Hari Raya Idul Fitri adalah momen untuk mengamalkan nilai yang berhasil kita peroleh selama menjalankan ibadah puasa.
Sedangkan bagi mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa dengan benar dan khusuk, puasa bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa kecuali lapar dan haus, seperti dikuatirkan oleh Umar Ibn al-Khathtab.
Tentunya kita berharap, kita tidak termasuk dalam kalangan tersebut, melainkan termasuk kaum yang menjalankan ibadah puasa secara benar dan khusuk.
Baca Juga : Rasulullah SAW Selalu Berbuka Puasa Dalam Kesederhanaan
Oleh karena itu, pada hari raya kita diharapkan mulai mengamalkan hasil ibadah selama satu bulan tersebut, dalam wujud tingkah laku dalam kehidupan nyata sehari-hari, yang menjadi fitrahnya manusia.
Dimulai dengan suasana hari raya, memang ditandai dengan sukacita dan bahagia, bersyukur karena petunjuk-Nya, kita tetap berada di jalan yang benar. Kebahagiaan tersebut tentu saja ditumpahkan kepada sesama.
Sebagai orang beriman, kebahagiaan tersebut harus merupakan kebahagiaan yang mendalam, bukan kebahagiaan yang dangkal, bukan hura-hura dan pesta pora. Almarhum Nurcholish Madjid menamai suasana lebaran yang tidak dangkal tersebut sebagai suasana kemanusiaan.

Menurut Nurcholish Madjid, dalam suasana Idul Fitri, kita dituntut untuk menunjukan nilai kemanusiaan sebagai fitrahnya manusia, setinggi-tingginya. Ia mengutip Qs al Imran 3:134 tentang kaum beriman.
“Mereka tetap berderma baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, dan mereka yang mampu menahan marah, lagipula besifat pemaaf kepada sesama manusia”.
Oleh karena itu, pada hari raya kita menunjukkan empati yang sedalam-dalamnya kepada sesama manusia, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung, yaitu kaum fakir miskin. Dimulai dengan tindakan simbolik membayar zakat fitrah, memenuhi tuntutan fitrah kita yang suci.
Selama Bulan Ramadhan, melalui laku puasa fitrah tersebut diasah, sehingga lewat hati nurani kita, fitrah itu selalu membisikkan kemanusiaan yang tulus dan melampaui golongan. Oleh karena itu, bagi orang beriman, empati pada kemanusiaan tidak berhenti pada suasana hari raya.
Harusnya empati pada kemanusiaan menuntun orang beriman menempuh jalan yang sulit (al-aqabah) tapi mulia, perjuangan membebaskan mereka yang terbelenggu, fakir miskin, para gelandangan, anak yatim pada hari-hari selanjutnya, hingga menjelang Bulan Ramadhan berikutnya.
Itulah fitrah kita sesungguhnya di jalan kita masing-masing. Para pendidik, para politisi, para pedagang, para peneliti, para pewarta, para mekanikal, mari kita mengamalkan makna Hari Raya Idul Fitri di jalan sulit kita masing-masing, dari fitra menjadi ahklak.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Mohon maaf lahir dan bathin.
Foto:cantik.com
