Berliterasi di Pantai Watan Tobi Tou

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Angin dingin dengan angkuhnya menerpa wajah senduku. Aku bangkit dari bangku tua nan rapuh di ujung pantai bisu Watan Tobi Tou Kelurahan Weri, sebuah kelurahan di ujung Timur kotaku Larantuka.

Begitu banyak jejak telapak kaki membekas di bentangan pasir sejauh mataku memandang. Dalam diamku, alam sunguh kunikmati, memandang ombak yang memecah bibir pantai sore itu.

Murid-muridku tampak begitu bergembira di  alam bebas ini. Dalam suasana itulah mereka melakukan aktivitas yang kusiapkan untuk mereka.  Dari kejauhan mataku memandangi jemari tangan mungil mereka menari di atas kertas putih yang sudah sedikit kusut. Pikiran mereka berkelana bersama alam untuk menghasilkan sepenggal puisi indah yang aku tugaskan.

Mereka adalah murid-murid kelas V SD Inpres Waibalun. Sebagai wali kelas, aku mengajak mereka menghabiskan libur hari Minggu dengan berliterasi di alam bebas. Lokasi yang kupilih adalah Watan Tobi Tou Beach, di Kelurahan Weri Kota Larantuka.

Melalui berbagai aktivitas, kami bersama-sama berliterasi di pantai itu. Kegembiraan para murid dan keaktifan mereka mengikuti tahap demi tahap kegiatan sungguh menyemangatiku. Mereka berkesempatan mengenal alam secara langsung, merasakan asyiknya dibelai angin sepoi-sepoi.

Panasnya cuaca karena matahari yang bersinar terik tidak menghalangi mereka menyimak penjelasanku tentang literasi. Literasi adalah kemampuan memahami, mengakses, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui aktivitas membaca, melihat, menyimak, berbicara. Meski kadang suaraku pergi terbawa angin, namun dihantar kembali ke telinga mereka. Debur ombak yang tiada henti memecah sunyi di bibir pantai, menggambarkan semangatku melihat mereka memahami makna penjelasanku.

Pada kenyataannnya, minat baca anak Indonesia sangatlah rendah. Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes PISA (Programme Internasional Student Assessment). Sungguh sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan. Daya baca mereka begitu rendah, sementara daya bermain game di hp mereka pasti lebih tinggi. Ini adalah tantangan bagi para guru dan orangtua.

Melihat kenyataan inilah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang melibatkan seluruh jajaran dinas pendidikan, mulai dari tingkat pusat sampai daerah. Selain itu, dilibatkan pula dari unsur publik yakni orangtua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya.

GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita), khususnya empat butir agenda yang terkait dengan fungsi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Keempat butir tersebut adalah butir ke-5 meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; butir ke-6 meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing, butir ke-8 melakukan revolusi karakter, serta butir ke-9 memperteguh kebhinekaan dan memperketat restorasi sosial. Butir-butir Nawacita di atas terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter.

Melihat alam bersama-sama di pinggir pantai, mengamati segala peristiwanya, merupakan bentuk literasi melalui indra penglihatan. Menuangkan hasil amatan dalam bentuk untaian kata-kata nan indah adalah juga merupakan kegiatan berliterasi yang sarat makna. Selanjutnya, kegiatan yang telah dimaknai ini dapat diterapkan dalam hidup harian.

Literasi begitu penting, melampaui pemahaman sempit mengenai kegiatan membaca dan menulis. Sesungguhnya literasi adalah dasar dari segala kemampuan manusia di segala bidang. Orang menjadi pintar dan bijak ketika dia benar-benar berliterasi dalam segala hal yang berkaitan dengan bidang ilmunya. Berliterasi secara baik dengan sendirinya menjadikan kita manusia yang berkualitas dan berkarakter, seperti yang sudah dituliskan dalam butir-butir Nawacita .

Akhirnya, senjapun memanggil kami pulang. Puisi-puisi indahpun telah tercipta dan hadir bersama deru angin. Rangkain kalimat indah dan sederhana tercurah bak air hujan yang begitu derasnya. Berbagai cerita tersimpan rapi di ingatan para murid ini. Berwisata dan berliterasi di alam, bermain bersama ombak, bernyanyi ditemani suara riuh burung pantai, sesungguhnya merupakan pengalaman yang indah.

Kamipun pulang. Senja menghantarkan setiap jiwa untuk kembali ke pelukan malam. Tersisa harapan agar pengalaman menyatu bersama alam dapat menyegarkan pikiran dan hati mereka, menyemangati mereka dalam berliterasi di setiap bidang hidup pilihan mereka. Semoga!

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of