Indonesia Juara Olimpiade Matematika, tetapi Disebut Darurat Mutu Pengajaran Matematika, Mengapa?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Pelajar Indonesia sering berjaya di Olimpiade Matematika. Pencapaian dua tahun belakangan ini menegaskan kebenaran pernyataan tersebut.

Tahun lalu pelajar Indonesia berjaya di Olimpiade Matematika di kota Clus-Napola, Rumania. Tim Indonesia berhasil menyabet 6 medali. 1 medali emas dan 5 medali perak.

Pencapaian yang sama diraih kembali oleh pelajar Indonesia tahun ini. Mereka mengulang kejayaan tahun lalu dengan meraih 6 medali. 1 medali emas, 4 medali perak dan 1 medali perunggu.

Karena pencapaian ini, tahun ini Indonesia berada di posisi ke 14 dari 110 negara peserta Olimpiade Matematika tersebut.

Hasil ini tentu saja membanggakan. Namun sejumlah data yang lain seperti dilansir oleh Kompas.com justru menggambarkan betapa saat ini Indonesia sedang berada dalam kondisi yang disebut sebagai “darurat Matematika”

“Darurat” Matematika?

Gambaran bahwa Indonesia berada dalam keadaan darurat Matematika dapat disimpulkan misalnya dari data yang dihimpun Kompas.com sebagai berikut.

Pertama, berdasarkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia atau Indonesia National Assesment Program (AKSI/INAP) tahun 2016 dari Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud, data nasional menunjukkan 77,13 persen siswa SD yang kemampuan Matematikanya sangat rendah. Hanya 20,58% berkemampuan sedang, dan hanya 2,29% memiliki kemampuan tinggi.

Kedua, data hasil asesmen murid AKSI tahun 2017 untuk siswa SMP kelas VIII di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, hasil kompetensi literasi Matematika hanya 27,51 dari skala 0 – 100. Oleh karena itu, kemampuan Matematika murid Indonesia masuk dalam kategori sangat buruk.

Ketiga, dalam segi peningkatan kemampuan murid memecahkan soal Matematika dalam rentang 12 tahun, penelitian Research on Improving System of Education (RISE) tahun 2018 menunjukkan peningkatan yang sangat rendah, yakni hanya 10,5%.

Keempat, hasil tes PISA tahun 2000-2015 secara konsisten menempatkan pelajar Indonesia pada peringkat bawah dari negara-negara anggota OECD. Tahun 2008, peringkat hasil uji PISA bahkan hanya selapis di atas Bostwana Afrika yang menduduki peringkat terbawah.

Kelima, studi yang lebih baru yang dilakukan oleh Amanda dkk. menyatakan bahwa kemampuan berhitung sangat diperlukan di abad 21. Studi tersebut juga menyimpulkan bahwa anak muda Indonesia baru akan siap menghadapi abad 21 ketika abad 31 menjelang karena lambannya peningkatan keterampilan menghitung atau aritmatika sederhana, hanya hingga nol koma nol sekian persen.

Data-data ini membantu menjelaskan betapa kondisi darurat dialami dalam pengajaran Matematika kita.

Keluar dari Darurat Matematika

Datanya bisa begitu berbeda, padahal berasal dari objek yang sama, sama-sama terkait pengajaran Matematika. Mengapa berbeda?

Dari segi proses, peserta Olimpiade Matematika direkrut secara khusus, digembleng dengan program khusus oleh guru-guru yang khusus pada waktu yang khusus pula. Oleh karena itu, pencapaian tim Olimpiade Matematika tidak dapat dijadikan patokan untuk menyimpulkan mutu pengajaran Matematika.

Hasil Olimpiade Matematika cuma memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki banyak murid cerdas di sekolah-sekolah kita. Kelompok murid ini membutuhkan enrichment program untuk mengembangkan bakat istimewa  mereka. Dan program ini belum ada di  mayoritas sekolah kita. Kita baru sibuk dengan program remedial bagi murid-murid yang lambat belajar.

Di samping itu, data dari tes RISE, AKSI/INAP yang ditampilkan pada bagian sebelumnya benar-benar menggambarkan darurat mutu pengajaran kita. Karena murid-murid kita belum dapat mengakses pengajaran Matematika yang berkualitas. Murid-murid kita baru belajar menghitung, mengerjakan soal, dan menghafal rumus dalam pengajaran Matematika.

Untuk mengakhiri darurat mutu, sekolah-sekolah kita perlu mengupayakan pengajaran Matematika yang bermutu. Menurut Dhitta Puti Saraswati, seperti dikutip Kompas.com, indikator murid belajar Matematika yang bermutu adalah jika murid belajar memecahkan masalah, bernalar, mempresentasikan masalah Matematika dengan gambar, model, grafik dan simbol.

Tidak hanya itu, menurut penggagas gerakan berantas buta Matematika ini, pengajaran Matematika harus mampu membantu murid menghubungkan gagasan-gagasan Matematika dengan berbagai gagasan lainnya, baik dalam konteks Matematika, bidang ilmu lain, bahkan kehidupan sehari-hari.

Murid bahkan harus diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, bahkan mempertanggungjawabkan gagasan. Di sini guru berperan mendisain pengajaran untuk memungkinkan murid saling berinteraksi.

Inilah pengajaran Matematika yang bermutu dan perlu diupayakan. Ini tidak hanya untuk mengakhiri situasi darurat Matematika, namun juga untuk menyiapkan murid memasuki dan sukses di abad 21 ini. Karena, itulah esensi sekolah. (Foto: lenterakecil.com)

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Indonesia Juara Olimpiade Matematika, tetapi Disebut Darurat Mutu Pengajaran Matematika, Mengapa? […]

trackback

[…] Baca Juga : Indonesia Juara Olimpiade Matematika, Tetapi Disebut Darurat Mutu Pengajaran Matematika, Mengapa? […]