Surat dari Adonara Juni 2019: “Untuk anakku, calon mahasiswa baru, mengapa harus kuliah?”

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Ananda tersayang.

Ananda berangkat dari kampung. Ke kota besar yang banyak kampus. Sementara mereka yang lain, sudah siap dengan program studi yang diambil. Memilih program studi berdasarkan hasil tes minant dan bakat. Ananda bahkan  masih bertanya jurusan apa yang paling tepat? Tes minat dan bakat ini, bahkan sudah mereka lakukan saat masih di SMU. Membantu mereka mempersiapkan diri. Pilihan studi seperti apa ketika kuliah nanti.

Ananda.

Banyak dari kita, berpikir pragmatis. Memilih program studi yang nantinya paling cepat mendapat kerja. Terutama menjadi PNS. Maka banyak teman-temanmu, sesama calon mahasiswa baru dari kampung memilih program studi keguruan dan kesehatan. Dua program studi ini paling banyak formasi  tes CPNS nya belakangan ini.

Ada juga yang paling ekstrim. Asal memilih program studi tertentu. Ikutan teman. Asal bisa kuliah. Dilain pihak. Sudah jadi rahasia umum. Banyak mahasiswa nyambi jadi marketing kampusnya. Menjaring sebanyak mungkin calon mahasiswa baru demi mendapat komisi. Pada situasi ini, tidak lagi peduli minat dan bakat. Asal ikut arus. Demi status keren. Mahasiswa.

Ananda tersayang.

Mengapa kuliah begitu penting? Sekedar status? Agar dapat kerja bagus?

Hari ini, dunia berubah. Banyak pekerjaan tergantikan teknologi komputasi, yang berubah sedemikian cepat. Manusia digantikan mesin. Kasir bank, petugas gardu tol, tenaga sales dan penjualan banyak yang tergantikan oleh otomatisasi komputasi. Bisa jadi, di masa depan, guru sebagai sumber pengetahuan digantikan oleh mesin pencari google. Pun halnya, konsultan hukum dan dokter tidak lagi dibutuhkan saat jasa mereka tergantikan oleh sumber informasi lain. Apalagi jika informasi ini bisa diakses siapa saja, kapanpun, dari manapun, dengan tingkat kebenaran yang oleh logika komputasi dibuat sesempurna mungkin.

Para pencatat transaksi keuangan bisa jadi adalah profesi yang paling cepat punah berikutnya. Bukan lagi hal baru. Hari ini, semua transaksi bisnis, oleh logika computasi tertentu, sudah dibuat otomatis. Semua laporan keuangan tersaji secara lengkap dan akurat. Hanya butuh satu saja tenaga kerja manusia yang menginput satu transaksi pertama diawal proses. Selanjutnya serahkan saja pada system komputasi. Laporan yang disajikan oleh system ini, akurat, tepat waktu, dan dapat di pakai untuk berbagai kebutuhan. Saat ini, banyak system tersediah. Berbayar maupun gratis.

Kemudian. bisa jadi yang akan punah selanjutnya adalah profesi penerjemah, pengajar bahasa asing dan apapun pekerjaan yang hanya mensyaratkan penguasaan bahasa asing tertentu. Hari ini setiap kata ataupun kalimat yang diucapkan bisa diterjemahkan oleh aplikasi melalui telpon genggam ke dalam berbagai bahasa dunia. Jika demikian apakah program studi – program studi bahasa asing masih relevan dibutuhkan kedepan? Jika tidak lagi dibutuhkan, masihkah kampus-kampus membuka prodi bahasa asing? Jika prodi bahasa asing ditutup berapa tenaga kerja yang akan kehilangan pekerjaannya?

Anakku.

Jika kuliah untuk mendapat kerja sesuai pilihan studi, bagaimana jika ditengah proses kuliah itu profesi yang diinginkan sudah tergantikan oleh teknologi ? Bagaimana jika tenaga-tenaga kerja manusia di pabrik-pabrik digantikan oleh otomatisasi mesin-mesin

Ananda tersayang.

Kuliah bukan semata-mata untuk menamatkan suatu tahap pendidikan. Bukan soal menjadi sarjana bidang tertentu. Kuliah adalah proses untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang. Kemungkinan-kemungkinan itu adalah berbagai persoalan hidup. Persoalan-persoalan ini harus diatasi, dipecahkan. Dicari jalan keluarnya.

Akan lebih mudah jika persoalan itu dipahami dan dimengerti. Untuk memahami dan mengerti dibutuhkan metode-metode tertentu. Metode-metode ini harus sistematis. Dilakukan tahap demi tahap. Pencapaianya terukur. Bangku kuliah adalah tempat di mana sistematika itu dipelajari dan dilatih.

Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Untuk menghadapi perubahan itu tentu tidak bisa serampangan. Manusia harus menyesuaikan diri dengan perubahan. Hasil dari penyesuaian itu dikenal sebagai sukses. Penyesuaian diri terbaik menuju sukses membutuhkan dua sarat utama. Kesiapan dan kesempatan. Kuliah adalah proses untuk menjadi siap. Siap menghadapi berbagai perubahan setelahnya.

Anakku.

Maka yang paling penting selanjutnya adalah apa saja yang harus dilakukan selama kuliah,  untuk menjadi siap?

Pertama, Apapun pilihan program studi, pelajari hal-hal yang tidak dapat diambil alih oleh teknologi, terutama teknologi komputasi.  Kasir, penerjemah, pengajar, konsultan hukum, tenaga penjualan, petugas gerbang tol dan banyak profesi lain barangkali bisa diambil alih oleh teknologi. Tapi yang tidak tergantikan oleh computer secanggih apapun adalah kemampuan untuk memberi empati. Kemauan dan kemampuan untuk menjadi manusia bagi orang lain.

Pengajar bisa jadi kalah informative dibanding google. Tapi guru yang memahami, mendengarkan dan memberi empati kepada anak didiknya tidak akan tergantikan.

Kedua, pililah program studi yang memungkinkanmu untuk menciptakan kesempatan kerja bagi diri sendiri.  Sederhananya adalah jangan sampai berpikir bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah digunakan untuk mencari kerja. Kuliah agar dapat menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri. Apalagi jika dapat menyediakan kesempatan kerja bagi orang lain.

Ketiga belajar sebanyak mungkin, kuasai setiap yang dipelajari. Menguasai hanya satu hal sama artinya dengan tidak menguasai apapun. Mendorong diri sedemikian rupa untuk menjadi yang terunggul dalam setiap proses yang dapat diukur. Jika ukuran itu adalah IPK. Dan pencapaian terbaik adalah IPK 4,0, maka dorong diri untuk mencapai IPK 4,0. Apakah boleh sedikit dibawah itu? Tidak boleh. Hari ini dunia membutuhkan orang-orang terbaik. Tidak ada tempat bagi orang kedua. Maka jadilah terbaik .

Pelajari juga hal lain diluar program studi atau kealhian utama yang dipilih. Dan jadilah tenaga trampil nomor satu pada bidang itu. Kealhian utama sesuai prodi selama kuliah harus dilengkapi juga dengan keterampilan lain. Kuasai teknologi komunikasi. Kuasai cara menggunakannya.

Keempat, bangun jaringan. Ada satu anekdot yang menggelitik namun mengandung kebenaran. Bahwa untuk diterima dalam pekerjaan tertentu, seorang kandidat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dan juga ‘orang dalam’. Bisa jadi ‘orang dalam’ menjadi sarat utama, pengetahuan dan keterampilan “bisa diatur”. Benarkah demikian? Belum tentu! Apakah prakter seperti ini tidak pernah ada? Mengenal dan bersahabat dengan semua kalangan selama kuliah untuk memiliki sebanyak mungkin “orang dalam”.

Era hari ini adalah era net. Era jaringan. Pemain tunggal, hari ini, hanya tersisa untuk dunia olah raga. Dalam bisnis, pemain tunggal sudah tinggal kenangan. Semua terhubung. Terkolaborasi. Mengenal dan bersahabat dengan banyak orang artinya menciptakan jaringan dengan mereka.  Apapun profesi anda, apapun jenis usaha anda, dibutuhkan pasar. Jika nama lain dari “orang dalam” adalah pasar, maka membangun jaringan adalah menciptakan pasar. Apalagi jika keterhubungan Anda dengan orang lain, tidak hanya menciptakan kolaborasi melainkan menghasilkan sinergi yang saling melipatgandakan hasil usaha anda.

Ananda.

Menjadi yang terbaik, yang khas dirimu, mengukur suksesmu, menjadi siap, kesempatan seperti apa yang diharapkan atau diciptakan adalah ditanganmu sendiri. Menjadi mahasiswa artinya bersedia menjadi pribadi lebih dewasa. Pribadi yang dapat memilih. Ia yang siap menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan itu. (Foto: ekpektasia.com)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Surat Dari Adonara Juni 2019: “Untuk Anakku, Calon Mahasiswa Baru, Mengapa Harus Kuliah?” […]