Layanan Peminatan dalam Bimbingan dan Konseling di SMP

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu – Tahun pelajaran 2017-2018, kurikulum 2013 mutlak berlaku, terlebih bagi sekolah-sekolah yang sampai saat terakhir masih menunda penerapannya. Ada banyak implikasinya, salah satu yang utama : penerimaan peserta didik baru SMA langsung memilah peserta berdasarkan jurusan yang hendak dimasukinya. Mendampingi peserta didik mengenali potensi dan peluangnya, menjadi tugas pendidik di SMP. Bimbingan dan Konseling memprogramkan Layanan Peminatan secara khusus untuk menjalankan peran ini.

Bukan hal yang mudah. Peserta didik usia SMP tengah berada dalam periode usia pematangan yang ditandai dengan kebutuhan akan pengakuan jati diri serta kecenderungan menolak dominasi pihak otoritas. Tidak jarang mereka mengabaikan arahan yang mereka yakini benar semata demi memperoleh pengalaman kebanggaan dengan menjadi berbeda. Untuk tujuan serupa, mereka mengambil resiko menempuh jalan yang dikenalnya salah, dengan bayaran mahal berupa kegagalan.

Sementara, bila peluang karier di masa depan ditentukan dari jurusan yang dipilih semasa studi, betapa pentingnya pengambilan keputusan pada tahap sedini ini. Fakta bahwa ada sekian banyak orang berkarier di area yang berbeda atau bahkan sama sekali bertentangan dengan disiplin ilmu yang digelutinya, menjadi catatan tersendiri untuk proses ini. Seberapa intensif pendampingan peserta didik saat mereka berhadapan dengan momen crusial ini? Bagaimana memastikan optimalisasi layanan peminatan untuk peserta didik SMP di usia mereka yang cenderung belum stabil ini?

Fenomena yang kerap dijumpai, peserta didik (juga orang tua mereka) berupaya memperoleh kesempatan memasuki jurusan IPA. Alasan pertama karena bidang ini dinilai lebih sulit, maka berstatus siswa IPA menjadi lebih membanggakan. Selanjutnya, ada keyakinan bahwa memiliki ijazah SMA jurusan IPA berarti memiliki pilihan jurusan lebih banyak untuk dimasuki di jenjang perguruan tinggi.

Faktanya, kebanggaan memiliki status sebagai siswa IPA tidak otomatis membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan sepanjang proses pembelajaran di jurusan ini. Capaian terbatas yang kemudian dihasilkan, pada akhirnya berpeluang membatasi kesempatan mereka memasuki jurusan yang diincar di perguruan tinggi. Selain itu, seberapapun banyaknya peluang jurusan di perguruan tinggi yang terbuka untuk dipilih, setiap lulusan hanya akan menempuh satu atau maksimal dua jurusan. Ketersediaan pilihan beragam ini hanya bernilai bagi mereka yang sampai saat memasuki SMA masih belum memiliki kejelasan tentang hidup seperti apa yang dicita-citakan, bidang karier apa yang hendak digelutinya di masa mendatang.

Kiranya perlu disepakati bahwa pemilihan jurusan bukanlah semata-mata urusan menempatkan diri dalam sebuah kelas di jenjang SMA. Mengingat dampak jangka panjang yang akan terjadi dari proses ini, menetapkan pilihan jurusan semestinya tidak menjadi tujuan dari layanan peminatan di SMP. Sebaliknya, sebuah jurusan dipilih sebagai akibat atau konsekuensi logis dari penetapan sebuah rencana karier di masa datang.

Maka, melalui pelaksanaan layanan peminatan, para remaja muda ini dibebaskan berimajinasi tentang dunia masa datang yang menjadi impian mereka. Selanjutnya, pendampingan dilakukan –-bahkan secara personal– untuk membantu mereka melengkapinya dengan detail yang konkrit. Misalnya : menjadi pengusaha di bidang apa, menghasilkan produk berupa apa, melalui proses yang seperti apa, dan sebagainya. Penelusuran dilanjutkan sampai kemudian ditemukan keahlian apa yang paling harus dikuasai. Keahlian tersebut bisa dimiliki melalui studi dalam bidang apa di jenjang perguruan tinggi. Pada akhirnya, untuk menyiapkan diri memasuki bidang tersebut, jurusan apa yang dipilih di jenjang SMA.

Menciptakan gambaran tentang tujuan akhir di masa datang, merupakan langkah penting untuk memandu peserta didik menemukan jalan yang mesti di tempuhnya di masa sekarang. Passion untuk mewujudkan gambaran tersebut dapat menjadi bahan bakar yang memastikan proses realisasi terus berjalan, bahkan dalam kebosanan dan keletihan peristiwa pembelajaran. Diharapkan melalui pendampingan dengan proses seperti ini, para peserta didik di usia SMP dengan segala kondisi khasnya, tetap dapat meletakkan dasar penting bagi perjalanan hidup mereka ke depan.(Oleh: Josybahi / Foto: maroscorp.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of