Pendidikan Itu Memerdekakan (Titik hening refleksi)

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

“Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau mungkin menindasnya.” (Paulo Freire)

(Depoedu.com) – Ketika menghadiri  acara pelepasan dan perpisahan kelas VI di salah satu sekolah swasta, semua orang larut dalam kegembiraan. Tidak ada yang bertanya,  sudah berapa orang anak didik yang sudah menyelesaikan pendidikan di lembaga itu?  Berapa jumlah orang-orang sukses yang lahir dari tangan dingin seorang guru? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting muncul ke permukaan kesadaran ketika berhadapan dengan acara perpisahan itu.  Tetapi  pada moment bersejarah itu  merupakan ‘titik henti sementara’ untuk berefleksi  tentang perjuangan  dan proses internalisasi dalam dunia pendidikan itu berlangsung serta bagaimana berusaha untuk mengembangkan persekolahan itu.

Keberadaan sebuah sekolah memainkan peranan penting dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak didik dan menanamkan nilai-nilai umum. Nilai-nilai umum seperti kebaikan dan kebenaran tetap diajarkan dan ditanam dalam kehidupan anak didik, serta tidak mengabaikan ilmu pengetahuan.  Dalam aliran filsafat pendidikan yang disebut perenialisme berpendapat bahwa prinsip-prinsip dasar pendidikan itu bersifat abadi dan tetap, tidak berubah sepanjang zaman. Prinsip dasar yang dimaksudkan adalah prinsip kebaikan dan kebenaran yang berlaku secara tetap dan abadi. Sekolah sebagai tempat untuk menanamkan benih-benih kebaikan dan kebenaran, tanpa henti berusaha untuk mewartakan kebaikan dan kebenaran itu.  Aliran filsafat ini mendapatkan dukungan baik dari kaum realis maupun kaum idealis  yang mempertahankan pentingnya prinsip-prinsip dasar pendidikan yang berlaku mutlak yang mengatasi batas-batas ruang dan waktu.

Sudah berapa lama persekolahan itu  menanamkan kebaikan dan kebenaran dalam diri anak-anak didik?  Satu generasi yang lulus dan harus meninggalkan sekolah itu, generasi yang baru pun datang dan menimbah ilmu. Yang jelas bahwa proses penanaman ilmu dan nilai kebaikan serta  kebenaran terus berjalan seiring dengan tuntutan zaman.  Ketika gempuran teknologi semakin menggemuru dan mengerubuti anak-anak didik, pola penanaman nilai tidak bisa digantikan dengan kehadiran alat-alat canggih karena penanaman nilai dan kebaikan membutuhkan peran serta dan melibatkan sentuhan hati dalam proses melayani.

Sekolah yang membebaskan

Konsep filosofis tentang pendidikan sebagai bentuk pembebasan bagi para murid, lahir dari seorang Paul Freire. Gagasan ini lahir sebagai bentuk pemberontakan terhadap situasi sosial yang melanda Amerika Latin, terutama Brasil di mana proses pendidikan yang terjadi, tidak lain adalah proses penjajahan. Atas dasar situasi yang kian tak menentu ini mendorong Freire untuk memproklamirkan pola pendidikan yang membebaskan.

Situasi Amerika Latin tentunya berbeda dengan Indonesia. Tetapi bisa ditarik sebuah benang merah kesamaan bahwa pendidikan di Indonesia belum menyentuh masyarakat kelas bawah sebagai masyarakat yang memiliki kerinduan terbesar dalam menggapai mimpi dan mengubah masa depan melalui jalur pendidikan. Sekolah-sekolah yang ada di Indonesia lebih menyatakan keberpihakkan pada kelompok masyarakat menengah ke atas. Di manakah kelompok masyarakat kelas bawah mengenyam pendidikan yang layak?

Awal tahun ajaran baru 2018 / 2019, penulis diminta untuk mengajar pada sekolah Insan Teratai. Sekolah ini didirikan untuk menyentuh masyarakat kelas bawah yang secara ekonomis tidak mampu membayar uang sekolah. Siswa-siswinya mengenyam pendidikan di Insan Teratai dengan penuh suka cita. Sekolah menyediakan fasilitas yang memadai bahkan makan siang pun disediakan oleh sekolah. Melihat proses pendidikan dengan menekankan pembentukan karakter, sekolah Insan Teratai hadir untuk memberikan harapan bagi mereka yang tengah kehilangan daya hidup karena tidak sanggup membiayai pendidikan.

Hadirnya Insan Teratai, sepertinya melawan arus, di mana keberadaan lembaga pendidikan biasanya mencari profit untuk mempertahankan keberlangsungan sekolah itu, namun Insan Teratai mengibarkan bendera pendidikan “non profit.” Bagi penulis, apa yang dilakukan oleh pendiri sekolah Insan Teratai merupakan bentuk perlawanan terhadap lembaga pendidikan yang selama ini mencari keuntungan secara finansial dan sekaligus mendepak kelompok-kelompok tak berdaya secara ekonomis. Di tengah gempuran zaman, Insan Teratai terus bertahan dari kemurahan hati para donatur. Begitu banyak pasang mata melirik sekolah ini sebagai jembatan yang bisa menghubungkan masa kini dan masa depan yang harus diraih melalui pendidikan.

Melihat sekolah Insan Teratai,  selain posisinya yang strategis, keunggulan sekolah ini adalah membuka diri terhadap semua anak didik, tanpa mempersoalkan latar belakang  suku  dan terutama agama yang dianut oleh anak-anak didik.  Dengan keterbukaan ini merupakan pintu masuk dalam proses penanaman nilai-nilai kebaikan dan kebenaran serta membiarkan anak-anak didik mengolah aspek kognitif untuk menyerap ilmu pengetahuan.  Di sini bisa dikatakan bahwa berbicara tentang pendidikan berarti berbicara tentang proses  dan proses pendidikan itu bisa berhasil, mengandaikan adanya  keterbukaan,  baik dari anak didik sendiri maupun dari para guru yang mendidik dan mengajar.

Kalau melihat ruang lingkup persekolahan Insan Teratai  yang terpadu dan ditunjang dengan jenjang pendidikan berkelanjutan maka ada kemudahan dalam proses belajar. Kepribadian seorang anak didik mencapai kematangan dan kedewasaan bila melalui proses serta aturan main yang tertata secara baik. Ada aturan yang mengikat, baik itu berlaku untuk siswa maupun untuk para guru. Dengan aturan yang mengikat, setiap pribadi berusaha untuk bertindak sesuai dengan aturan main yang berlaku.  Tetapi di balik aturan yang mengikat, sebenarnya ada peran yang berharga dalam membentuk kepribadian anak guna mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Menatap masa depan yang cerah, tidak hanya berbekal     “segudang mimpi” tetapi setiap orang berhak untuk mengeksplorasi diri dan kemampuan sebagai persiapan dalam meraih masa depan itu.

Peran pewartaan dalam dunia pendidikan bisa terlihat jelas dalam upaya mendidik anak-anak dengan latar belakang agama yang berbeda.  Kebaikan dan kebenaran seperti yang diwartakan oleh para agamawan terus menyebar ke anak-anak didik yang tidak lain adalah pemilik generasi yang sedang terlibat. Gema kebaikan menjadi warta utama dan menjadi milik bersama bagi setiap angkatan yang terlibat dalam pergumulan dengan ilmu pengetahuan dan belajar tentang kebaikan serta kebenaran.

Dalam proses mendidik anak, upaya yang dilakukan adalah berusaha agar pendidikan itu memerdekakan mereka dari ketidaktahuan dan berusaha untuk berpikir mandiri. Lebih jauh, makna kemerdekaan pendidikan ialah “membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential self yang membedakannya dari makhluk-makhluk lain. Fusi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, aktualitas sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka”

Proses pendidikan, apa pun bentuknya, bila hasil penanaman nilai berhasil baik, harus didasari dengan cinta kasih. Cinta kasih menjadi landasan utama dalam mendidik dan  barangkali kata-kata Dorothy menjadi kata kunci proses pendampingan anak-anak didik.

Kata-kata bijak Dorothy Law

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, Ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kata-kata  bijak Dorothy ini mengingatkan para pelaku dunia pendidikan bahwa belajar bukan semata-mata menyerap ilmu pengetahuan tetapi dalam konteks yang lebih luas, pendidikan berupaya untuk memanusiakan manusia. Seorang anak tumbuh secara baik kalau dalam proses belajar, telah ditanamkan nilai-nilai kebaikan. Di sini, persekolahan Insan Teratai  telah memperlihatkan jalan panjang proses penanaman nilai dan membukakan mata para anak-anak didik untuk berani menatap masa depan dengan penuh kepastian. Insan Teratai selalu   memperlihatkan diri sebagai  gembala yang terus mengkawal  kebenaran dan nabi untuk masa depan bagi anak-anak didik.

Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK)  Ledalero

Foto:Suluh Pergerakan.org

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga: PENDIDIKAN ITU MEMERDEKAKAN (Titik hening refleksi) […]