Percaya Diri dan Narkisos

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Mungkin sekarang kata narsis lagi terkenal. Narsis sebenarnya berasal dari kata narsisme, istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh psikolog ternama dunia, Sigmund Freud, dalam penyebutan pada kepribadian seseorang yang sangat mencintai dirinya sendiri secara berlebihan. Istilah ini ia dapatkan dari kisah mitos yunani, Narkissos.

Narkissos adalah orang yang dikutuk mencintai dirinya secara berlebihan sampai ia meninggal karenanya. Penyebabnya sangatlah sederhana sekali. Ketika melihat bayangannya dikolam, Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga mati tenggelam.Orang sering mengaitkan antara narsis dengan percaya diri, padahal terdapat perbedaan antara narsis dan pede. Ini bisa Anda lihat dari tingkat personal dan sosial orang tersebut. Percaya diri merupakan suatu kebanggan atas dirinya yang dibangun dari usaha, kerja keras, dan keberhasilan yang mereka raih.

Sedangkan pada narsis merupakan cermin dari ketakutan serta kelemahan dalam dirinya. Hal tersebut mendorong mereka untuk berusaha selalu memperhatikan dirinya sendiri dan merasa memiiki kelebihan untuk menutup kelemahan dalam dirinya. Berikut perbedaan mencolok antara narcis dan percaya diri.

a. Meski sama-sama berani bicara, orang narsis menginterupsi orang lain untuk sekadar hobi. Sementara orang percaya diri selalu mendengarkan dengan hati-hati.

Bagi orang narsis, menjatuhkan orang lain adalah hobi

Persamaan orang yang narsis dan percaya diri ada satu: mereka sama-sama tak ragu bicara untuk menyuarakan pendapatnya. Namun motif dan caranya berbeda. Orang yang percaya diri tidak asal bicara. Dia akan mendengarkan baik-baik, menelaah dengan saksama, dan membuat argumen yang logis untuk menyampaikan pendapatnya. Karena didukung oleh argumen yang kuat, rasa percaya diri itu muncul sendiri. Sementara orang yang narsis menginterupsi dan menyanggah pendapat orang sekadar untuk memuaskan hobi. Tujuannya hanyalah untuk menunjukkan dia yang paling benar, sekaligus menjatuhkan orang lain.

b. Seorang yang percaya diri sudah nyaman dengan dirinya sendiri, sementara kamu yang narsis saja, membutuhkan pengakuan dari orang lain untuk bahagia

Selalu butuh kacamata orang lain sebagai pengakuan Rasa percaya diri muncul ketika sudah bisa menerima dirimu sendiri. Dia tidak malu mengakui kekurangannya, sebagaimana dia mensyukuri kelebihannya. Karena itu, dia punya gaya sendiri dan tidak pernah berusaha menjadi orang lain. Kamu yang percaya diri, tidak pernah peduli dengan apa kata orang lain. Sebaliknya, bagi kamu yang narsis, omongan orang adalah hal paling penting sedunia. Dari luar, kamu terlihat mencintai dan mengagumi dirimu sendiri, namun sebenarnya, kamu sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain. Tanpa itu, kamu tidak akan nyaman dengan dirimu sendiri.

c. Sementara yang narsis sibuk mencari pembelaan diri, orang yang benar-benar percaya diri tak ragu mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atasnya

Siap mengakui dan bertanggungjawab atas kesalahan diri. Sebab orang yang percaya diri tak segan mengakui kekurangannya, ketika melakukan kesalahan, dia juga tidak sibuk mencari kambing hitam. Dengan gentleman dia mengakui bahwa dia salah, dan siap bertanggung jawab atas itu. Dia tahu dengan begitu, dirinya juga akan akan belajar untuk menghindari kesalahan yang sama. Namun orang yang narsis ketakutan dengan kelemahannya sendiri. Mengakui kesalahan sama dengan mengakui kekurangan, dan itu ‘big No’. Untuk menutupinya, dia akan sibuk mencari orang atau keadaan untuk disalahkan. Karena si narsis tidak mau mengakui kesalahan, dia juga sulit belajar memperbaiki diri setiap harinya.

d. Sementara orang narsis ketakutan bila tersaingi, si percaya diri tak segan berbagi ilmu. Sebab dia tahu dengan begitu dirinya juga lebih berkembang lagi

Selalu terbuka untuk berbagi dan mengembangkan diri. Dalam situasi kerja atau situasi kuliah, orang yang narsis enggan berbagi. Setiap sanggahan yang dia berikan dalam diskusi bukan dilandasi rasa ingin berbagi pengetahuan, melainkan untuk membuktikan bahwa orang lain salah. Orang yang narsis menganggap persaingan adalah hal mutlak, dan kalah dalam persaingan adalah hal yang paling mengerikan. Sementara orang yang percaya diri tak segan untuk berbagi pengetahuan, atau bahkan mendukung dan membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Ketika teman mendapat kesuksesan, si narsis akan berusaha menjatuhkan, sementara si percaya diri akan turut berbahagia dengan tulus. Kamu yang percaya diri, percaya bahwa keberhasilan orang lain atau berbagi dengan orang lain akan bermanfaat untuk dirimu juga.

Mengatasi Kepribadian Narsistik bisa dengan cara stimulasi positifnya akan membawa kita pada kondisi kenyamanan dan rileksasi yang sangat dalam. Kita harus mengubah cara berpikir menjadi lebih baik serta menanamkan kebiasaan baru yang lebih positif dalam diri kita. ( Celly Beto / Foto: blog.umy.co.id )

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of