Memahami Akar Maraknya Kekerasan dan Pelecehan Siswa Terhadap Guru

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di ruang kelas. Dalam video tersebut beberapa siswa terlihat mengejek dan melecehkan guru dengan mengacungkan jari tengah. Belakangan diketahui peristiwa tersebut terjadi di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. 

Aksi tersebut kemudian menuai kecaman yang luas karena menggambarkan krisis etika dari murid terhadap guru. Belum lama ini terjadi kasus serupa, bahkan lebih parah dari kasus SMAN 1 Purwakarta ini. Kasus tersebut terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung, Jambi. Seorang guru luka memar di wajah dan bagian tubuh lainnya lantaran dikeroyok sejumlah siswa.  

Kasus paling baru terjadi di kota Langsa Aceh setelah sebuah video viral di media sosial. Dalam video yang beredar tersebut, seorang siswi berpakaian seragam terlibat adu fisik dan adu mulut dengan seorang guru di depan kelas. Fenomena semacam ini belakangan  makin sering terjadi, dan semakin dianggap biasa. 

Meskipun demikian, kekerasan dan pelecehan ini masih dianggap sebagai fenomena lokal, kasuistik, dan tidak dianggap menggambarkan krisis kelembagaan yang akar masalahnya telah menyebar luas. Oleh karena itu penanganan yang bersifat lokal seperti menjatuhkan sanksi bagi pelaku, sudah dianggap menyelesaikan masalah.

Dalam rangka ikut merayakan Hari Pendidikan Nasional, tulisan ini mencoba mengajak Eduers melihat kasus-kasus seperti tergambar di awal tulisan, mencerminkan krisis relasi antara guru dan murid, krisis akhlak dan krisis tata kelola dunia pendidikan yang melibatkan banyak faktor yang saling terkait. 

Oleh karena itu, yang salah dalam kasus-kasus di atas tidak melulu siswa, bisa jadi guru yang salah, bisa jadi kedua-duanya benar, tetapi karena buruknya tata-kelola sekolah. Bisa  juga terjadi karena buruknya tata kelola pendidikan yang lebih luas.  

Maka diperlukan penanganan yang lebih menyeluruh, melibatkan stakeholder pendidikan yang lebih luas dan menukik pada akar masalah. Untuk itu, yang diperlukan adalah uraian untuk memahami permasalahan. 

Baca juga : Pentingnya Penguasaan Keterampilan Komunikasi Asertif dalam Kesuksesan Karier Guru

Maka, tulisan ini lebih bersifat sosiologis, sebagai upaya menggambarkan krisis yang sedang terjadi, mudah-mudahan memudahkan upaya penanganan masalah oleh siapapun. Berikut uraiannya.

  1. Lunturnya adab dan rasa hormat 

Kasus kekerasan dan pelecehan terhadap guru di antaranya terjadi karena peran guru yang sudah jauh bergeser. Guru yang pada dasarnya adalah pendidik dan pengajar, kini semakin sering terlihat hanya sebagai pengajar saja. Peran guru sebagai sosok panutan dan pembentuk karakter tidak terlihat lagi dialami dalam perannya sehari-hari di sekolah.  

Sementara itu, guru tidak lagi menjadi sumber pengetahuan satu-satunya. Apalagi pengetahuan yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar hanya sebatas apa yang ada pada buku sumber yang digunakan. Ini menyebabkan peran guru tidak lagi penting. Apalagi pengetahuan yang diajarkan sudah diketahui dan guru juga tidak lagi berperan sebagai pendidik. 

Situasi ini terjadi di tengah lunturnya sopan-santun dalam masyarakat, menyebabkan penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan yang berwewenang, serta etika berinteraksi semakin terpinggirkan. Situasi ini menyebabkan batas antara guru dan murid menjadi kabur. 

  1. Masalah komunikasi dan manajemen emosi

Dalam interaksi antara guru dan siswa di sekolah sering terjadi kesalahpahaman karena karena cara berkomunikasi yang tidak efektif, baik dari pihak guru maupun dari pihak siswa. Di antaranya karena guru tidak menguasai keterampilan komunikasi asertif. 

Oleh karena itu, beberapa guru kerap menggunakan bahasa yang kasar atau merendahkan,  karena dipicu oleh berbagai tekanan yang dialami oleh guru, baik karena tekanan pekerjaan maupun tekanan hidup. Ini  memicu kemarahan dan dendam dari para siswa.

Sebaliknya, kekerasan dan pelecehan terhadap guru juga terjadi karena banyak siswa belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, sehingga mudah bertindak impulsif dan agresif pada saat merasa tertekan atau tidak setuju terhadap guru. 

Baca juga : Merawat Idealisme dan Kebebasan Berpikir: Menjaga Jiwa Pendidikan dari Reduksi Teknis

  1. Pengaruh lingkungan dan media

Sikap agresif siswa yang terjadi pada kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap guru di atas juga dapat dipicu oleh situasi keluarga yang kurang harmonis; kekerasan di rumah atau pola asuh yang terlalu memanjakan. Kecenderungan membela anak tanpa batas juga dapat membentuk perilaku agresif. 

Selain itu, sikap agresif bisa juga dipicu oleh pergaulan dengan kelompok sebaya yang memiliki budaya kekerasan. Konsumsi konten media sosial yang menormalisasi tindakan kasar terhadap orang lain juga berpengaruh besar dalam interaksi siswa dengan guru di sekolah. 

  1. Kelemahan sistem pendidikan dan budaya sekolah

Selain pengaruh lingkungan dan media, kelemahan sistem pendidikan dan budaya sekolah juga berpengaruh pada tindakan kekerasan dan pelecehan terhadap guru. Dari sistem pendidikan, kurangnya perhatian pada pembinaan karakter dan pendidikan moral dibandingkan fokus pada capaian nilai akademik juga menjadi penyebab.

Penyebab lain terkait dengan sistem pendidikan dan budaya sekolah adalah minimnya pelatihan bagi guru dalam hal manajemen kelas, pengembangan keterampilan komunikasi asertif dan keterampilan menangani konflik. 

Di samping itu, belum adanya mekanisme pencegahan yang jelas dan cepat untuk menyelesaikan masalah sebelum membesar menjadi kekerasan, juga dapat menjadi faktor pemicu kekerasan dan pelecehan terhadap guru yang belakangan marak. 

Inilah uraian yang mencoba menggambarkan mengapa kekerasan dan pelecehan terhadap guru yang dilakukan oleh siswa semakin marak terjadi di sekolah. Fenomena ini menggambarkan bahwa  saat ini sedang terjadi krisis di dalam sistem pendidikan dan lingkungan sekolah kita. 

Oleh karena itu, diperlukan proses transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh terkait semua lembaga pendidikan kita dan bukan hanya penanganan parsial seperti terjadi selama ini. Transformasi ini dilakukan supaya sekolah kita kembali menjadi tempat yang aman bagi siswa dan guru agar semua insan pendidikan dapat bertumbuh secara sehat di dalamnya.

Selamat hari Pendidikan  Nasional. Mari, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments