Depoedu.com – Sebagai gejala kecanduan gawai, phubbing juga menegaskan salah satu “manfaat” gawai yaitu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Phubbing adalah istilah untuk menggambarkan sifat atau perilaku terlalu fokus bermain gawai sehingga melupakan dan tidak peduli terhadap orang lain di sekitarnya
Gejala phubbing sering kita jumpai di mana-mana, di sekeliling kita. Bahkan bisa saja saya dan Anda menjadi salah satu yang sering atau mengalami gejala phubbing.
Terlalu fokus pada gawai bukan hanya dapat mengakibatkan masalah kesehatan fisik serius, lebih dari itu phubbing bisa jadi menunjukan adanya gangguan kesehatan mental bahkan memperparah gejala kesehatan mental.
Baca Juga: Memetakan dan Merumuskan Strategi Parenting di Indonesia
Gangguan pada mata : mata lelah dan kering, sakit pada punggung dan leher, trigger finger atau kondisi dimana jari tangan tertahan dalam keadaan menekuk, cubital tunnel syndrome, menurunkan kualitas tidur dan lainnya.
Sementara phubbing juga dapat memberi pengaruh buruk pada kesehatan mental seseorang. Seseorang bisa merasa diabaikan, dianggap tidak penting, dan dikucilkan jika orang-orang terdekatnya terlalu fokus pada gawai.
Fear of missing out, atau ketakutan akan ketinggalan informasi terkini atau ketakutan jika jauh dari gawai, momo fobia, kecemasan berlebihan bahkan depresi.
Karena sudah menjadi kebiasaan, maka sedikit sulit untuk benar-benar jujur bahwa kita; Anda dan saya, telah menjadi korban atau bahkan lebih cenderung menjadi pelaku phubbing.
Baca Juga: Orang Tua Penyebab Anak Kecanduan Gawai
Phubbing dapat dikenali melalui ciri ciri berikut : ketika sedang ngobrol sama seseorang sambil terus bermain gawai, tidak bisa jauh dari gawai, cemas jika tidak melihat gawai miliknya, sering sekali memeriksa gawai saat sedang bersama orang lain.
Kompas.com menulis bahwa phubbing menurunkan kepuasan dalam pernikahan; ketika pasangan lebih dekat dengan orang lain nun jauh di luar sana dengan perantaraan gawai di tangan sementara pasangan di dekatnya diabaikan atau merasa terabaikan.
Bersama teman virtualnya, seseorang bisa bercanda ria dan tertawa gembira sementara dengan pasangannya berubah dingin dan acuh tak acuh.
Phubbing bukan hanya menjauhkan orang lain dari dunia kita, phubbing juga menegaskan keterasingan kita dengan diri sendiri.
Baca Juga: Melindungi Anak Milenial dari Kejahatan Digital
Seseorang lebih betah berlama-lama dengan dunia dalam genggamannya, dengan mengabaikan kebutuhan sosialnya berupa perhatian, rasa memiliki dan kehadiran yang berarti di antara orang lain.
Phubbing membuat kita kehilangan identitas sebagai makhluk sosial, berada di antara dan bersama orang lain, karena phubbing membatasi semua identitas itu menjadi hanya dengan gawai.
Lebih dari itu phubbing menjauhkan kita dari kebutuhan paling dasar untuk membangun relasi personal dengan orang lain, terutama dengan pasangan kita: kebutuhan untuk mendengarkan.
Tulisan ini sebelumnya tayang di eposdigi.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis. Foto :farah.id

[…] Baca Juga: Phubbing Dan Kebutuhan Untuk Mendengarkan […]