Depoedu.com – Jakarta, 22 Agustus 2026-Yayasan Tarakanita kembali menyelenggarakan kegiatan Hari Studi Guru (HSG) bagi para guru SMP Tarakanita Wilayah Jakarta. Kegiatan yang dilaksanakan di SMP Tarakanita 1 Jakarta ini diikuti oleh seluruh guru SMP Tarakanita wilayah Jakarta sebagai bagian dari upaya pengembangan kompetensi dan profesionalisme pendidik.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah Half-Day Workshop bertajuk “Strengthening HOTS & AKM: From Compliance to Meaningful Assessment” yang menghadirkan Dr. Bagus H. Prakoso, S.E., M.A. sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para guru untuk kembali merefleksikan praktik pembelajaran dan asesmen yang selama ini diterapkan di kelas. Tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi pembelajaran, guru diajak untuk melihat asesmen sebagai bagian penting dari proses pembelajaran yang mampu memberikan gambaran utuh mengenai kemampuan berpikir dan kompetensi peserta didik.
Dalam workshop tersebut, dibahas pentingnya penguatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dalam pembelajaran. HOTS tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan menjawab soal yang sulit, tetapi lebih kepada kemampuan peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi, bernalar, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Sementara itu, AKM mendorong pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan peserta didik dalam menggunakan kompetensi literasi dan numerasi untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.
Melalui tema “From Compliance to Meaningful Assessment”, para guru diajak untuk menggeser paradigma asesmen. Asesmen hendaknya tidak berhenti pada kegiatan mengukur atau memberikan nilai, tetapi menjadi sarana untuk mengetahui sejauh mana peserta didik benar-benar memahami konsep dan mampu menggunakan pengetahuannya dalam konteks kehidupan nyata.
Salah satu hal penting yang ditekankan dalam kegiatan adalah perlunya desain pembelajaran yang kontekstual. Materi pembelajaran perlu dikaitkan dengan situasi, persoalan, dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dengan demikian, peserta didik tidak hanya dituntut untuk mengingat informasi, tetapi juga diajak untuk menganalisis permasalahan, menghubungkan berbagai informasi, menemukan solusi, dan memberikan alasan atas jawabannya. Pembelajaran yang kontekstual diharapkan dapat membuat peserta didik memahami bahwa apa yang mereka pelajari di kelas memiliki keterkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam penyusunan instrumen evaluasi, workshop ini memberikan perhatian khusus pada kaidah penulisan soal pilihan ganda maupun pilihan ganda kompleks yang analitis. Guru dibimbing untuk merancang soal yang memenuhi aspek-aspek utama:
- Menggunakan Stimulus Kontekstual: Berupa teks informasi, data, tabel, atau kasus nyata.
- Berorientasi Penalaran (Level C4–C6): Menuntut siswa menganalisis (Analyze), mengevaluasi (Evaluate), atau me-refleksi (Reflect), bukan sekadar menghafal (Remember).
- Pilihan Jawaban Logis dan Bebas Bias: Mengikuti kaidah bahasa yang baik, pengecoh berfungsi, dan rumusan tegas.
Contoh Penerapan Soal HOTS / AKM:
Untuk memberikan gambaran konkret, berikut adalah salah satu bentuk soal bertipe Pilihan Ganda Kompleks dengan level kognitif Evaluate & Reflect yang dipaparkan dalam materi workshop:
STIMULUS
Sumber Referensi:
- D.B. McNatt. (2019). Enhancing public speaking confidence, skills, and performance. Volume 17 (2) 276-285.
- Grieve, R., et al. (2021). Student fears of oral presentations and public speaking in higher education. Volume 45 (9) 1281-1293.
- Artikel Public Speaking (dailysocial.id)
Rincian Spesifikasi Soal:
- Konten: Teks Informasi
- Konteks: Personal
- Level Kognitif: Evaluate & Reflect (Evaluasi & Refleksi)
- Kompetensi: Menilai akurasi dan kredibilitas informasi dalam teks.
POKOK SOAL:
Berdasarkan teks dan sumber yang dicantumkan, informasi manakah yang mendukung bahwa isi teks tentang public speaking dapat dipercaya?
(Klik pada setiap jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu)
- Klaim tentang kecemasan public speaking didukung hasil penelitian.
- Sumber informasi mencantumkan nama penulis yang dapat dikenali.
- Sumber penelitian memiliki identitas publikasi yang dapat ditelusuri.
- Referensi yang digunakan diterbitkan dalam tahun yang berbeda.
Kunci Jawaban: A dan C
Mengapa soal seperti ini dikategorikan HOTS?
Siswa tidak sekadar diminta menyebutkan pengertian public speaking, melainkan diajak untuk berpikir kritis dalam mengevaluasi kredibilitas suatu teks berdasarkan keberadaan bukti empiris dan referensi ilmiah yang dapat ditelusuri (DOI/Jurnal).
Pada akhirnya, penguatan HOTS dan AKM bukan hanya tentang bagaimana guru membuat soal yang berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Lebih dari itu, diperlukan perubahan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Guru perlu menciptakan pengalaman belajar yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk bertanya, mengeksplorasi informasi, berdiskusi, melakukan analisis, menyampaikan pendapat, mengevaluasi informasi, dan memecahkan masalah. Dengan demikian, asesmen tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan hanya pada akhir pembelajaran, melainkan menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses belajar.
Kegiatan Hari Studi Guru ini menjadi momentum penting bagi para guru SMP Tarakanita Wilayah Jakarta untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan merefleksikan praktik pembelajaran.
Baca Juga: Harmoni Program STEM dan Karakter di PAUD sebagai Pondasi Penting Pendidikan Anak Usia Dini
Melalui kegiatan seperti ini, para guru diharapkan semakin mampu merancang pembelajaran dan asesmen yang tidak hanya memenuhi tuntutan kurikulum, tetapi benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Semangat “From Compliance to Meaningful Assessment” menjadi pengingat bahwa tugas guru bukan sekadar memastikan peserta didik mampu menjawab soal, tetapi membantu mereka mampu berpikir, bernalar, mengambil keputusan, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata.
Hari Studi Guru pun bukan sekadar kegiatan pengembangan kompetensi, melainkan menjadi ruang untuk terus bertumbuh bersama sebagai pendidik. Dari guru yang mengajar untuk menyampaikan materi, menuju guru yang merancang pengalaman belajar untuk menumbuhkan kemampuan berpikir dan membentuk peserta didik yang kompeten, kritis, kreatif, dan reflektif.
Bersama Tarakanita, terus belajar, terus bertumbuh, dan menghadirkan pembelajaran yang semakin bermakna bagi setiap peserta didik.
