Krisis Kemampuan Akademik; Banyak Mahasiswa Perguruan Tinggi Memiliki Kemampuan Setara Anak Usia 10 Tahun?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Fenomena mengkhawatirkan kini terjadi di dunia pendidikan tinggi. Semakin banyak mahasiswa, bahkan di universitas bergengsi di Amerika Serikat, menunjukkan kemampuan dasar numerasi, literasi, dan kemampuan berpikir kritis setara dengan anak usia 10 tahun atau anak kelas 4 sekolah dasar. 

Hal ini bukan hanya merupakan anggapan subjektif, melainkan didukung oleh data, pengamatan dan pengalaman dari para pengajar di berbagai universitas ternama di Amerika Serikat. 

Tulisan ini hendak membeberkan fenomena tersebut dengan mencoba menghadirkan beberapa data dan mencoba menjelaskan mengapa fenomena tersebut ada. 

Data Penurunan Kemampuan Mahasiswa 

Berdasarkan survei OECD tahun 2026 yang melibatkan 160.000 partisipan dari 38 negara, sekitar 14 persen mahasiswa di Amerika Serikat memiliki kemampuan membaca setara anak usia 10 tahun. Sementara itu, rata-rata kemampuan matematika juga serupa, mencapai 9 persen di negara-negara OECD. 

Kondisi ini terlihat nyata di Universitas California, maupun di Harvard University. Di Universitas California, Berkeley, sekitar 20-30 persen mahasiswa harus mengambil mata kuliah Kalkulus Dasar karena mengalami kekurangan persiapan akademik yang parah. Dengan demikian dosen terpaksa mengulang kembali materi SMP sebelum masuk bahasan pokok. 

Kondisi ini mendorong 1.800 dosen matematika dan sains menandatangani surat terbuka yang menyatakan banyak mahasiswa baru tidak memiliki kemampuan dasar yang memadai untuk mengikuti kurikulum universitas. 

Kondisi yang sama juga dialami di UC San Diego, jumlah mahasiswa baru dengan kemampuan di bawah standar sekolah menengah atas melonjak hampir 30 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. 

Di Harvard University, para pengajar melaporkan bahwa mahasiswa kini semakin sulit memahami teks panjang dan kompleks. Oleh karena itu, banyak dosen sastra dan ilmu sosial terpaksa memangkas bacaan, menganti novel dengan cerita pendek, serta mengurangi beban materi karena kemampuan fokus dan pemahaman teks menurun drastis. 

Baca juga : MPLSPDB SMA Tarakanita Magelang Ditutup Meriah dengan Amazing Race dan Edukasi di Lapangan Bakorwil

Mereka juga mencatat bahwa kemampuan berpikir kritis dan analisis mandiri semakin lemah sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa skor membaca siswa sekolah menengah atas Amerika pada tahun 2024 menurun dibandingkan dengan tahun 2015. 

Hal ini dialami juga oleh dosen-dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Memang belum ada penelitian tentang fenomena ini. Namun berdasarkan hasil tes seperti PISA, terbukti bahwa kemampuan numerasi dan literasi lulusan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas masih bermasalah.  

Kondisi ini berpengaruh pada proses belajar mengajar di perguruan tinggi kita. Masih banyak mahasiswa kesulitan memahami konsep dasar dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Selain itu mereka juga masih kesulitan membaca data statistik dan menyusun argumen logis ketika harus berargumentasi dalam komunikasi. 

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? 

Ada beberapa faktor utama yang memicu munculnya fenomena penurunan kemampuan mahasiswa tersebut. Berikut uraiannya:

  • Perubahan kebijakan penerimaan mahasiswa

Penghapusan syarat ujian standar seperti SAT dan ACT di sistem rekrutmen mahasiswa baru di Universitas California dan syarat ujian tes masuk sejenis di berbagai universitas di Amerika Serikat membuat seleksi lebih bergantung pada nilai sekolah dan essay yang mudah dimanipulasi, menyebabkan standar kemampuan dasar semakin tidak terukur. 

  • Ketergantungan yang berlebih pada teknologi dan AI

Lebih dari 85 persen mahasiswa Amerika Serikat sejak dari sekolah menengah sudah menggunakan AI untuk mengerjakan tugas sekolah. Ini mengakibatkan kemampuan menganalisis, menyusun argumen, dan berpikir mandiri tidak terlatih, bahkan semakin tergerus. 

Peneliti MIT menunjukkan bahwa orang yang menggunakan AI saat menulis memiliki aktivitas otak yang tidak terlatih, aktivitas otak yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengerjakan tugas dengan mengandalkan kemampuan berpikir sendiri. 

Baca juga : MPLS SMA Stella Duce 1 Yogyakarta Tanamkan Integritas dan Karakter Sejak Hari Pertama

  • Pergeseran kebiasaan belajar dan konsumsi informasi

Sebab lainnya adalah karena generasi muda kini banyak terpapar konten pendek di media sosial dan video, sehingga kemampuan membaca teks panjang, konsentrasi, serta pemahaman mendalam semakin menurun. 

Sebuah data penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa minat membaca untuk kesenangan pada anak usia 9 tahun menurun dari 60 persen pada tahun 1990-an menjadi hanya sekitar 37 persen berdasarkan data saat ini. 

  • Dampak Pandemi Covid 19 

Proses belajar jarak jauh yang terjadi hampir tiga tahun selama pandemi covid 19 menyebabkan proses belajar mengajar tidak berjalan secara normal. Ini menyebabkan kemunduran kemampuan yang nyata pada siswa sekolah dasar dan menengah. 

Kondisi ini mulai terlihat dalam proses belajar mengajar di level pendidikan yang lebih tinggi, termasuk di perguruan tinggi terutama dalam hal kemampuan dasar matematika dan literasi mahasiswa seperti digambarkan di atas. 

  • Penurunan standar pendidikan di sekolah dasar dan menengah

Saat ini di banyak sekolah siswa bisa memperoleh nilai tinggi tanpa ada tuntutan penguasaan dan keterampilan yang lebih sempurna. Dengan kata lain, ada penurunan standar penilaian yang diterapkan di banyak sekolah. 

Ini menyebabkan penguasaan dan keterampilan  lulusan sekolah menengah jauh di bawah standar tuntutan belajar di perguruan tinggi. Ini menyebabkan mereka kesulitan dalam proses belajar di perguruan tinggi. 

Demikian uraian tentang krisis kemampuan akademik mahasiswa di perguruan tinggi. Ini bukan hanya krisis di Amerika Serikat, tetapi di banyak negara termasuk Indonesia. Dan lebih merupakan krisis sistemik dalam pendidikan pada semua jenjang, bahkan menyentuh lembaga pendidikan bergengsi seperti California University dan Harvard University.

Oleh karena itu, tanpa perbaikan yang menyeluruh baik dalam kurikulum, proses belajar mengajar, serta proses penilaian hasil belajar lulusan sekolah dasar dan menengah, kita tidak akan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran di perguruan tinggi. Padahal proses tersebut menentukan kualitas lulusan perguruan tinggi kita.

Foto: Genmuda.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments