Faktor Inilah yang Menyebabkan 60 Ribu Calon Mahasiswa PTN Gagal Daftar Ulang Meskipun Lulus Seleksi Masuk

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) dalam rilisnya menyatakan terdapat sekitar 60.000 calon mahasiswa baru yang dinyatakan lolos seleksi, tidak melakukan proses registrasi ulang. Belakangan muncul kabar bahwa jumlah tersebut ternyata hanya berasal dari jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). 

Isu ini kontan memicu reaksi dari banyak pihak. Salah satunya berasal dari Sofyan Tan, anggota komisi X DPR RI. Oleh karena itu, anggota DPR dari PDIP tersebut meminta Kemendikti Saintek untuk melakukan penelusuran terkait kebenaran isu ini. Ia khawatir mereka tidak mendaftar ulang karena tidak berhasil memperoleh KIP Kuliah. 

Sofyan Tan kemudian ditanggapi oleh Eduart Wolok. Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB tersebut menegaskan bahwa data tersebut tidak hanya berasal dari peserta SNBP saja, melainkan gabungan dari seluruh jalur penerimaan mahasiswa baru. 

“Kalau 60.000 dari SNBP itu tidak benar. Karena kuota SNBP hanya 185.000, jadi tidak mungkin 60.000 yang tidak daftar ulang itu, hanya berasal dari jalur SNBP,” ujar Eduart pada wartawan pada Selasa (23/6/2026). 

Meskipun angka 60.000 tersebut tidak hanya berasal dari jalur SNBP, data ini tetap harus menjadi perhatian pemerintah, karena jumlah ini bukan angka yang kecil. Kemendikti Saintek diharapkan melakukan penelusuran untuk menemukan masalah sesungguhnya, dan melakukan antisipasi agar kecenderungan ini tidak terulang pada saat yang akan datang.

Kemungkinan Penyebab

Kami mencoba melakukan penelusuran melalui beberapa kanal di media sosial dimana isu ini ramai dikomentari. Di antaranya pada akun instagram “infomasukptn2026” yang dikomentari oleh 799 orang dan akun Facebook “Keluh Kesah Ngampus” yang dikomentari oleh 254 orang  di antaranya merupakan peserta seleksi masuk PTN tahun 2026. 

Dari penelusuran tersebut kami menyimpulkan kurang lebih ada tiga faktor yang menyebabkan seorang calon mahasiswa baru yang lolos seleksi,  memilih untuk tidak mendaftar ulang, sebagai berikut:

Baca juga : Dari Kelas ke Kelas: Aksi Nyata Siswa Kelas 5 SD Santo Carolus, Menjadi “Duta Sehat” lewat Kampanye Organ Pencernaan

Faktor pertama, para calon mahasiswa tidak melakukan pendaftaran ulang karena ternyata Uang Kuliah Tunggal (UKT) terlalu mahal untuk ukuran ekonomi orang tuanya. Hal ini misalnya disampaikan oleh Athala Kizzy. Ia mengatakan ia lulus melalui jalur SNBT tetapi tidak mendaftar ulang karena ekonomi keluarganya akan menjadi sangat berat.   

Ia menuturkan, UKT yang harus ia bayar masuk dalam kategori desil 6 sekitar Rp. 14.000.000. Padahal ayahnya sehari-hari hanya jualan tempe. Ibunya bekerja sebagai guru TK dengan gaji 250 ribu rupiah /bulan. Ia mencoba ke kelurahan untuk mengubah desilnya tidak berhasil, karena kata petugas kelurahan tidak bisa lantaran profesi ibunya seorang guru. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Emerald. Ia diterima melalui jalur SNBP, memilih untuk tidak daftar ulang karena UKT-nya kena  6.500.000 rupiah, sementara gaji ayahnya cuma dua juta rupiah per bulan. Tadinya ia berharap bisa masuk di desil 1 yang hanya membayar UKT 500.000 rupiah

Ia sempat mengajukan KIP, namun prosesnya terlalu berbelit-belit. Ia bahkan disuruh kampusnya bayar dulu, nanti beasiswa keluar baru uangnya dikembalikan. Ia menolak karena ayahnya memang tidak sedang memiliki uang karena baru sembuh dari sakit, dan gajinya dipotong karena tidak bekerja. 

Hal yang sama juga dialami oleh Miminmupp. Ia mengatakan, pada awalnya keluarganya baik-baik, namun menjelang pengumuman SNBP kejayaan orang tua hilang karena kelilit hutang. Ia lalu memutuskan tidak mendaftar ulang di kampus negeri pilihannya.  

Faktor kedua, calon  mahasiswa tidak melakukan daftar ulang karena tidak dapat KIP, setelah mengetahui jumlah UKT dari kampus. Hal ini misalnya disampaikan oleh Despinta. Dia memang baru mencari tahu tentang besarnya UKT setelah pengumuman SNBP. Merasa orang tuanya tidak sanggup, ia kemudian mencari informasi tentang KIP. 

Ia mencoba mengajukan, namun seperti Emerald, prosesnya berbelit-belit dan lama. Hal yang sama juga dialami oleh Celestialitha, Radeat, Nellaevi dan Tammy. Mereka bahkan diberi opsi untuk membayar terlebih dahulu, seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Karena merasa tidak pasti mereka memutuskan untuk tidak daftar ulang. 

Baca juga : Menghidupkan Kata lewat Karakter: Meningkatkan Literasi Siswa SD Santo Carolus Surabaya, melalui Keajaiban Boneka Tangan

Faktor ketiga, calon mahasiswa tidak melakukan pendaftaran ulang karena diterima di program studi pilihan kedua yang notabene proses pemilihan dilakukan asal-asalan dan kampusnya di luar provinsi, dan bukan kampus favorit. Hal ini misalnya dialami oleh Zaky. Ia bahkan baru tahu bahwa peserta boleh memilih program studi kedua. 

Oleh karena itu dia memilih asal-asalan, padahal ia justru diterima di pilihan kedua tersebut. Oleh karena itu ia memutuskan untuk tidak mendaftar ulang. Hal serupa dialami oleh Noelle. Ia juga diterima di pilihan kedua, padahal bukan pilihan yang diminati dan di luar provinsi.  Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk tidak mendaftar ulang. 

Apa yang perlu diperbaiki dan diantisipasi

Untuk masalah UKT mahal dan proses pendaftaran KIP kuliah berbelit-belit dan lama, perlu menjadi perhatian pemerintah. Perlu diperbaiki mekanisme pendaftaran KIP Kuliahnya. Di samping itu, kuotanya untuk desil 1 dan 2 perlu diperbanyak sehingga peluang untuk memperoleh KIP Kuliah menjadi lebih besar. 

Selain itu, Perguruan Tinggi Negeri harus membuka akses bagi calon mahasiswa untuk mengetahui besaran UKT-nya lebih dini. oleh karena itu perlu disimulasikan di web PTN dan tidak berubah-ubah. Sehingga calon mahasiswa mengetahui lebih cepat dan dapat melakukan antisipasi dan persiapan sebelum mendaftar. 

Dalam hal memilih program studi, nampaknya pendampingan di sekolah-sekolah perlu diperbaiki. Guru bimbingan dan konseling perlu lebih profesional menjalankan proses bimbingan karier di SMA bahkan sejak kelas X, sehingga para siswa lebih matang dalam menentukan pilihan program studi di perguruan tinggi. 

Dari penuturan beberapa siswa diatas, tampak bahwa proses bimbingan karier tidak dilakukan dengan baik di SMA, sehingga para siswa dalam memilih program studi di perguruan tinggi tidak dilakukan dengan baik yang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan daftar ulang. 

Mudah mudahan 60 ribu lulusan SMA yang tidak daftar ulang meskipun sudah lulus tes masuk PTN ini, terutama mereka yang terhambat oleh biaya, dapat menemukan cara yang sesuai untuk menyiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja. Di zaman Artificial Intelligence, kesempatan belajar tidak harus di perguruan tinggi. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments