Depoedu.com-Mulai tahun ajaran 2026/2027 Kementerian Pendidikan Israel melalui Inisiatif Nasional 720, mewajibkan guru Bahasa Inggris, Matematika dan Sains, Sekolah Menengah Pertama (SMP) menggunakan Artificial Intelligence (AI) dalam mengajar. Menteri Pendidikan menyebut inisiatif ini adalah reformasi paling ambisius di bidang pendidikan.
Kebijakan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu didampingi oleh Menteri Pendidikan Israel Yoav Kisch dalam sebuah kunjungan ke sebuah SMP di pemukiman Ma’ale Adumim di tepi barat. SMP ini adalah sebuah sekolah percontohan dari 28 sekolah percontohan yang berpartisipasi dalam uji coba proyek ini.
Seperti dilansir pada laman Vietnam.VN inisiatif 720 ini muncul sebagai upaya pemerintah Israel dalam mengatasi kekurangan guru Bahasa Inggris yang terus berlanjut dan hasil akademik yang mengkhawatirkan pada bidang studi Matematika dan Sains, dalam sistem pendidikan negara tersebut.
Pada kesempatan tersebut Yoav Kisch, menegaskan bahwa tujuan dari proyek ini adalah mendorong pembelajaran yang dipersonalisasi, untuk memungkinkan semua siswa setiap saat belajar sesuai dengan kecepatan dan kebutuhan individual masing-masing siswa.
Baca juga : Faktor Inilah yang Menyebabkan 60 Ribu Calon Mahasiswa PTN Gagal Daftar Ulang Meskipun Lulus Seleksi Masuk
Proyek 720 ini dimulai setelah sebuah laporan tahun 2024 dari Kantor Audit Nasional Negara Israel mengungkap bahwa sekitar 40 persen dari belasan ribu guru Bahasa Inggris, guru Matematika dan Sains tidak memiliki pelatihan yang memadai. Bahkan banyak sekolah kekurangan guru dan terpaksa merekrut guru yang tidak memenuhi persyaratan untuk mengisi kekosongan.
Tahun 2025 Israel kemudian memulai uji coba melalui 28 sekolah percontohan. Hasil evaluasi dari proses uji coba akan dirilis pada akhir bulan Juli yang akan datang, meskipun Kementerian Pendidikan Israel telah menegaskan bahwa uji coba tersebut telah berhasil sehingga proyek 720 akan diperluas tahun 2026/2027 ke 180 sekolah negeri.
Keberhasilan uji coba tersebut telah membuat para Kepala Sekolah lebih yakin bahwa AI akan dapat membantu guru dalam melacak kemajuan belajar siswa secara individual, mengurangi beban kerja administratif, lebih fokus pada pengajaran dan memberikan dukungan individual pada siswa.
Meskipun demikian, suara skeptis justru datang dari banyak guru dan pakar pendidikan. Mengutip beberapa studi internasional terbaru, mereka menunjukkan bahwa pembelajaran melalui layar dan teknologi digital belum tentu lebih efektif daripada metode pembelajaran tradisional.
Mengutip sebuah laporan awal tahun 2026 dari Pusat Pendidikan Global Brookings Institute, mereka mengatakan resiko AI dalam pendidikan masih lebih besar daripada potensi manfaatnya, terutama untuk perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak.
Suara kritis juga datang dari kalangan guru. Menurut mereka, AI tidak dapat menggantikan guru apalagi dalam pelajaran bahasa asing. Seorang guru di bagian Utara negeri itu mengatakan; “Cara termudah memang menempatkan siswa di depan layar, tetapi bukan cara yang efektif belajar bahasa. Tidak ada yang dapat menggantikan guru, pada usia ini.”
Menanggapi suara kritis tersebut, Menteri Pendidikan menegaskan bahwa AI memang tidak dimaksudkan untuk mengganti peran guru. AI hanya menjadi alat pendukung. Menteri pendidikan berjanji menjaga keseimbangan pembelajaran tradisional sambil memperkuat pelatihan guru dan membantu guru beradaptasi dengan model pendidikan baru.
Foto: Freelancer Rasel
