Depoedu.com-John D. Rockefeller pendiri perusahaan minyak Standard Oil dan salah satu orang terkaya pertama dalam sejarah dunia, yang kejayaan usahanya bahkan masih bertahan hingga hari ini. Ia tidak hanya dikenal karena kekayaan, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam mendidik anak dan cucunya.
Berbeda dengan banyak keluarga kaya yang memanjakan anak-anak mereka, Rockefeller justru menerapkan pola asuh yang sangat disiplin, penuh perhitungan, bertanggung jawab, yang berorientasi pada pembentukan etos kerja keras pada anak. Pola asuh inilah, yang membuat keluarga ini terus mempertahankan usaha keluarga, hingga generasi sekarang.
Tulisan ini hendak mengenalkan pola asuh dan prinsip-prinsip pengasuhan yang Rockefeller terapkan, dalam mendidik anak-anaknya. Sebagai orang kaya, ini adalah prinsip pengasuhan unik namun efektif yang ia terapkan dalam mendidik anak-anaknya. Berikut uraiannya:
Memberikan uang saku setelah anak mengerjakan tugas
Sebagai orang kaya, Rockefeller tidak pernah memberikan uang cuma-cuma pada anak-anaknya. Ia menerapkan sistem “gaji” layaknya di dunia kerja pada anak-anaknya. Untuk memperoleh uang saku, anak-anaknya harus melakukan pekerjaan rumah tangga atau tugas tertentu untuk mendapatkan uang.
Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, merapikan tempat tidur sendiri, membersihkan kamar tidur sendiri, membersihkan rumah, atau bahkan menangkap lalat, ia tetapkan honor pada masing-masing pekerjaan tersebut. Atau rajin belajar dan dapat prestasi, akan mendapatkan bonus.
Pada waktu yang ditentukan anak-anak mendapat uang saku berdasarkan pekerjaan yang telah mereka selesaikan atau prestasi yang mereka peroleh dalam periode tersebut. Uang saku yang diterima tersebut harus cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam periode tersebut sebelum uang saku baru diterima.
Dengan cara ini anak belajar hemat menggunakan uang sejak dini dan bahwa uang didapat dengan kerja keras. Mereka jadi paham akan nilai uang dan tidak memandang uang sebagai sesuatu yang mudah didapat.
Baca juga : Mengenal Ragam Hewan Sekaligus Ajarkan Cinta Kasih bersama TK Santo Yosef Lahat
Mengajarkan manajemen keuangan pada anak
Selain tidak mudah memberikan uang pada anak, Rockefeller juga mewajibkan pada anak-anaknya untuk mencatat keuangan pada buku kecil yang ia berikan setiap hari. Anak-anaknya harus mencatat pemasukan dan pengeluaran mereka secara rinci dan rapi. Setiap minggu ia memeriksa buku tersebut.
Jika anak-anaknya menggunakan uangnya secara bijak dan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rapi, mereka mendapat pujian dan bonus dalam jumlah tertentu. Jika penggunaan keuangan mereka boros dan catatan keuangannya berantakan, mereka mendapat teguran bahkan pengurangan uang saku dalam jumlah tertentu.
Prinsip ini mengajarkan pada anak-anaknya disiplin perencanaan, disiplin penggunaan keuangan dan tanggung jawab finansial yang menjadi bekal yang sangat penting bagi anak-anaknya, dalam mengelola kekayaan keluarga di masa depan.
Mengajarkan hidup sederhana
Meskipun anak-anak Rockefeller hidup dilingkungan yang mewah tetapi ia melarang anak-anaknya untuk bersikap sombong atau menghamburkan uang. Mereka dilarang membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena ingin pamer.
Rockefeller ingin anak-anaknya memahami bahwa kemewahan bukanlah tujuan hidup dan bahwa mereka harus tetap rendah hati di tengah kemewahan hidup keluarga mereka. Ia melatih anak-anaknya untuk hidup berdampingan dengan orang-orang di sekitar mereka.
Melatih anaknya membagi uang mereka menjadi tiga bagian
Setelah anak-anaknya mulai dewasa, mulai bekerja dan mempunyai penghasilan, ia melatih anak-anaknya, membagi uang mereka menjadi tiga bagian. Bagian pertama uang yang diperoleh adalah uang yang harus disisihkan untuk masa depan.
Bagian kedua adalah uang yang harus disumbangkan atau disedekahkan untuk membantu orang lain, atau disumbangkan pada lembaga sosial atau gereja. Ini adalah cara untuk menanamkan tanggung jawab sosial dan kepedulian pada anaknya.
Baca juga : Generasi Alpha dan Krisis Fokus: Antara Layar, Algoritma, dan Masa Depan Atensi
Bagian ketiga yang merupakan sisa dari dua kewajiban sebelumnya, baru boleh dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pribadi. Ajaran ini adalah ajaran yang paling terkenal. Ajaran inilah yang membentuk pola pikir bahwa memiliki kekayaan pada saat yang sama, membuat kita memiliki tanggung jawab sosial.
Menanamkan kejujuran dan integritas
Ajaran lain yang ia tekankan secara konsisten dalam mendidik anak-anaknya adalah tentang reputasi dan kejujuran. Rockefeller selalu menekankan bahwa reputasi dan kejujuran adalah aset yang paling berharga.
Kepada anak-anaknya ia mengajarkan bahwa menjadi kaya itu sah, asalkan dilakukan secara benar, kerja keras dan tidak merugikan orang lain. Ia ingin anak-anaknya dihormati karena karakter dan perbuatan baik mereka, bukan karena kekayaan mereka.
Itulah lima hal yang diajarkan oleh Rockefeller pada anak-anaknya. Inilah cikal bakal yang membuat usaha peninggalan Rockefeller berhasil bertahan reputasinya hingga generasi kelima saat ini.
Semua ini berawal dari pola asuh yang diwariskan, dan diteruskan secara turun temurun oleh anak dan cucunya pada keturunan mereka, yang menekankan pada kemandirian, disiplin, kerja keras dan kepedulian sosial.
Bagi Rockefeller, mewariskan harta pada anak tanpa membekali mereka dengan karakter yang kuat, justru akan merusak masa depan mereka. Oleh karena itu sejak kecil ia sudah berupaya membentuk mental yang tangguh dan tanggung jawab sosial sejak kecil pada anak-anaknya.
