Depoedu.com-Kalau ditanya, tujuan pendidikan saat ini pasti untuk membekali anak dengan kompetensi yang biasa disebut 4C (sekarang jadi 6C).
Sayangnya di sekolah sering kali sekolah malah seakan salah fokus.
Yang paling parah adalah pingin anak jadi kritis, tapi malah ngajarin anak untuk patuh
Saya guru matematika. Saya paham salah satu tujuan belajar matematika adalah agar anak bisa berpikir kritis. Sebagai guru matematika, saya tahu harus bagaimana mengajarkan matematika ke anak saya.
Masa bodoh dengan PR dan kurikulum sekolahnya. Saya mengajarkannya sesuai dengan kemampuannya. Setiap proses harus ada penjelasan logisnya. Memang butuh waktu laaamaa, tapi apa hasilnya?
Setelah nonton Jumbo, kemarin saya ajak anak saya nonton Coco. Sengaja tujuannya biar dia bisa membandingkan sudah sedekat apa kualitas film Jumbo dengan Coco. Setelah itu dia nonton YouTube untuk mencari review dua film itu. Saya di sebelahnya menemani sambil bikin materi webinar. hahaha
Baca juga : Beasiswa BCA 2026 Dibuka Kembali. Kuliah Gratis, Dapat Uang Saku dan Peluang Kerja di BCA
Tiba-tiba anak saya ngomong, “Yah, Film Jumbo bagus ya, udah mirip sama Coco, sama film-film Disney. Tapi emang masih bagus Disney sih.
Neneknya Jumbo itu wajah e terlihat halus, nggak kelihatan tua. Beda sama nenek di film Coco yang keriputnya keliatan jelas”. Saya menimpali, “Oh ya, bener. Keren kamu bisa membedakan”.
Sejenak diam lalu dia ngomong lagi, “Tapi ekspresi wajah e film Jumbo itu udah keliatan, Yah. Sama kayak di film Coco, cuma efeknya lebih bagus film Coco”.
Masih sambil ngetik saya jawab, “Yo jelas itu, kan Disney udah mulai duluan, dananya juga lebih banyak”
Ngiklan dulu, ya. Cek aja: s.id/ngajarcoding
Dia diam agak lama. Lalu dengan nada yang agak parau dia mulai bicara lagi, “Tapi, Yah, mending sih daripada pemerintah yang bikin video pakai AI”. Saya kaget dong, Vvideo mana yang kamu maksud? Tahu darimana kalau pakai AI?”.
Dia menjawab tegas, “video itu loh ya makan siang gratis yang di sekolah itu loh. Keliatan kaku gak ada ekspresinya”. Loh-loh nih anak kok udah mikir sekeren ini. Tak tanggap dong.
Baca juga : Negara-negara Ini Adaptasi AI Warga Negaranya Paling Cepat. Indonesia Bagaimana?
Saya telisik lebih dalam untuk tahu apa yang ada di pikirannya, “Memangnya kenapa kalau pakai AI? Bukannya enak malah jadi cepet”.
Dengan nada tegas dia menjawab, “Yo nggak menghargai orang-orang yang bikin animasi sih, Yah. Nggak memberi kesempatan rakyat e”.
Saya kaget sekaligus senang. Kali ini jawabannya udah nggak kayak anak kelas 3 SD. Saya kaget dia bisa sekritis itu.
Kalau anak kelas 3 SD saja sudah bisa menilai bahwa AI itu tidak bernyawa, tidak punya hati, tidak punya ekspresi, lalu masak iya para pejabat itu nggak tahu hal sederhana itu? Kalau anak kelas 3 SD saja sudah dapat memikirkan ancaman AI bagi rakyat, masak iya para pejabat itu mikirnya nggak sampai kesitu?
Mereka ini nggak paham, nggak ngerti, atau nggak punya hati?
Gimana menurutmu? Menurutmu sudah layakkah AI menggantikan peran Manusia?
