Depoedu.com-Nama pria ini adalah Zhang Xinyang. Ia berasal dari Tiongkok. Semasa kecil, ia dijuluki anak ajaib karena kecerdasannya dalam bidang Matematika. Zhang bahkan meraih beberapa medali emas dalam Kompetisi Matematika Internasional. Oleh karena itu ia menjadi sangat terkenal waktu itu.
Karena kecerdasan dan prestasinya, ia dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar hingga sekolah menengah dengan cepat. Sehingga di usia 10 tahun ia mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi dan berhasil lolos. Ia diterima di Sekolah Tinggi Teknik Tanjian dan menjadi mahasiswa termuda.
Tiga tahun kemudian, di usia ketiga belas tahun, ia berhasil diwisuda menjadi sarjana teknik termuda. Ia kemudian melajutkan studi ke program pascasarjana dan menjadi mahasiswa pascasarjana termuda di Tiongkok.
Program pascasarjana ditempuh Zhang dalam rentang waktu tiga tahun. Pada tahun 2011 ia berhasil lulus dan memutuskan melajutkan studinya ke program doktoral di Universitas Beihang pada usia 16 tahun. Ia kembali menjadi mahasiwa program doktoral termuda di Tiongkok.
Di program doktor, Zhang mulai mengalami kesulitan sehingga ia membutuhkan waktu lebih lama. Di program doktoral, Zhang mengalami perlambatan terutama karena ia sulit menemukan topik yang ia minati untuk menjadi tesis disertasinya.
Baca juga : Program Penanganan Bullying Di Sekolah Belum Menyentuh Akar Masalah
Oleh karena itu, baru pada tahun 2019, Zhang berhasil meraih gelar Ph.D-nya. Ia membutuhkan waktu 7 tahun, untuk meraih gelar doktornya, program yang biasanya ditempuh dalam waktu 4 tahun. Setelah meraih gelar doktor, ia tidak memperoleh banyak peluang untuk hidup lebih baik.
Setelah melamar ke berbagai perusahaan, Zhang akhirnya diterima bekerja paruh waktu sebagai dosen di Universitas Ningxia, namun pada Agustus 2021 ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia lalu terlibat bersama beberapa temannya dalam sebuah proyek pendidikan.
Karena hasil dari proyek tersebut tidak menggembirakan, Zhang Xinyang memutuskan berhenti dari proyek tersebut dan kini ia menganggur, hidup dengan bantuan rutin sebesar 10 ribu yuan (sekitar 20 juta rupiah) yang ia terima dari orang tuanya, setiap beberapa bulan, seperti ketika ia masih kuliah.
Kini, seperti dilansir pada laman Serambinews.com, Zhang masih santai lantaran sokongan dari orang tua tersebut. “Setiap beberapa bulan orang tua saya masih mengirim uang. Jadi rasanya tidak apa-apa jika menganggur dan tidak punya gaji,” ungkap Zhang.
Bagi Zhang, dengan gelar doktor di tangan, hidup menganggur tanpa penghasilan, bukan masalah. Padahal seperti dilansir pada laman, JiwpaiNews, orang tua Zhang sebenarnya sangat mengharapkan Zhang lebih rajin dan segera bisa lepas dari sokongan mereka.
Baca juga : Mengenal Prinsip Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Kondisi yang ditampilkan Zhang, merupakan kondisi yang khas pada mereka yang mengalami proses pendidikan yang digegas terutama di masa kanak-kanak dan remaja ketika mereka sedang menjalani proses pendikan dasar dan menengah.
Pendidikan yang digegas yang mereka alami, membuat mereka sukses secara akademik, namun kehilangan kesempatan untuk belajar memilih dan berinisiatif, belajar bertanggung jawab atas pilihannya, karena untuk mempercepat proses belajar, semua sudah tersedia dan tidak ada pilihan.
Oleh karena itu, anak-anak yang menjalani pendidikan yang digegas, mengalami perilaku yang sebenarnya menimbulkan stress, meskipun tidak kelihatan, yang menjadi krisis pada masa kanak-kanak dan remaja dan kelak menjadi masalah psikis di kemudian hari.
Inilah yang membuat orang seperti Zhang, dengan gelar doktor, tetapi tidak mempunyai inisiatif meskipun nganggur, tidak bertanggung jawab meskipun menggantungkan hidupnya pada orang tuanya. Bahkan orang-orang yang mengalami pendidikan yang digegas, tidak memiliki sikap kritis, tidak kreatif, tidak memiliki kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah.
Inilah jawaban dari pertanyaan, mengapa orang cerdas seperti Zhang Xinyang bisa nganggur justru setelah meraih gelar doktor.
Foto: Suara.com
