Depoedu.com – Dunia pendidikan kehilangan satu lagi praktisi pendidikan terbaiknya setelah Sr. Francesco Marianti, OSU dinyatakan wafat pada Senin 16 Desember 2024 pada pukul 18.56, pada usia 90 tahun. Ia wafat setelah menjalani perawatan intensif selama 27 hari di rumah sakit.
Sebelum menjalani perawatan di rumah sakit, Sr. Francesco di usia tuanya tetap bersemangat datang ke kampus Santa Ursula BSD dan berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Dengan setia ia mempersembahkan pikirannya, tenaganya, waktu dan perhatiannya bagi proses pendidikan serta perkembangan para muridnya.
Kariernya di dunia pendidikan ia mulai setelah ia menjalani studi S2 di Program Pasca Sarjana Jurusan Biologi Universitas Katolik Amerika, Washington D.C. tahun 1962-1965. Sr. Francesco oleh pimpinan Ursulin ditugaskan untuk menjadi Kepala SMA Cor Jesu Malang Jawa timur.
Tugas di SMA Cor Jesu ia jalani selama 8 tahun yakni dari tahun 1965-1972. Dari sana pada Januari tahun 1973 ia diutus menjadi Kepala SMA St Ursula Jalan Pos, alma maternya. Di SMA Ursula Jalan Pos ia bertugas selama 25 tahun yakni dari tahun 1973-1998. Ia kemudian diutus untuk mengembangkan Kampus Santa Ursula BSD, sejak tahun 1990 sampai akhir hayatnya.
Sr. Francesco adalah tokoh pendidikan yang unik, oleh karena itu, tidak mudah bagi kita untuk menggambarkan tokoh pendidikan yang satu ini. Sebagai Kepala Sekolah di SMA Santa Ursula Jakarta, juga sebagai Koordinator Pendidikan di Kampus Santa Ursula BSD, banyak kebijakannya yang tidak mengikuti selera pasar melainkan berfokus pada kebutuhan peserta didik.
Baca Juga: Suster Francesco Marianti OSU, Sosok Cinta yang Tak Biasa
Misalnya Sr. Francesco tidak tertarik menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Dalam sebuah wawancara beliau mengatakan bahwa Bahasa Inggris memang penting, tetapi jika digunakan terlalu dini, akan merusak identitas anak-anak sebagai orang Indonesia.
Dan Sekolah Santa Ursula tetap pada jalur sekolah nasional dengan mutu yang bagus, meskipun tidak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Kebijakan lain misalnya, ia tetap menyelenggarakan jurusan bahasa, meskipun peminatnya setiap tahun tidak sebanyak jurusan IPA dan IPS. Ini berarti ada cost mahal dalam penyelenggaraan.
Kata Sr. Francesco dalam wawancara yang saya kutip, kita ini melayani anak-anak dengan bakat dan minat mereka. Oleh karena itu, jurusan bahasa tetap diselenggarakan meskipun ada biaya yang mesti disiapkan. Itu resiko lembaga. Dan itu konsisten sampai sekarang di SMA Santa Ursula.
Kebijakan lain yang menunjukkan bahwa Sr. Fransesco tidak mau didikte oleh selera pasar misalnya ketika ia mengambil kebijakan hari Sabtu masuk bagi murid SMP dan SMA, dan diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler. Kata Sr. Francesco, banyak orang tua kesulitan mengendalikan anaknya dalam hal penggunaan media sosial.
Baca Juga: Pola Asuh Strawberry Parents dan Tantangan Generasi Masa Depan
Oleh karena itu, kata Sr. Francesco lebih baik anak-anak fokus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah, daripada libur dan hari Sabtu Minggu anak-anak main media sosial. Kita tahu bahwa media sosial itu didesain untuk konsumsi orang dewasa. Di Ursula kegiatan ekstrakurikuler menjadi wadah pengembangan diri yang penting.
Pada tataran yang lebih mikro misalnya dalam penanganan kasus, fokus pada kebutuhan anak sering dipraktikjkan. Oleh karena itu, Sr. Francesco dalam menangani masalah selalu berusaha menyentuh akar masalahnya. Misalnya dalam kasus pencurian. Setelah ditelusuri, ditemukan anak yang mencuri ini karena tidak punya uang jajan.
Sr. Francesco menolak mengeluarkan anak ini meskipun sempat ada usul dari beberapa pihak untuk mengeluarkan anak ini demi kenyamanan anak lain dan nama baik sekolah. Setelah mengetahui akarnya, ia dijatuhi hukuman ditambah Sr Francesco menyediakan makan siang untuk anak ini.
Cara penanganan kasus-kasus ini menunjukkan bahwa sebagai pimpinan kampus, Suster Francesco selalu bertindak otonom dengan berfokus pada para peserta didik yang dilayani. Selain itu Sr. Francesco juga dikenal sebagai orang yang autentik. Ia adalah pribadi yang fokus pada tujuannya. Dan ia tidak peduli terhadap apa yang dikatakan orang lain tentangnya.
Jika ia punya keberatan, ia akan mengungkap hal tersebut dengan caranya. Ia lalu sering dinilai sebagai orang yang tidak peka terhadap perasaan orang lain. Namun di balik itu, ia percaya bahwa orang lain punya kemampuan menghadapinya. Di samping itu Sr. Francesco sendiri terbuka terhadap reaksi orang lain akan aksinya.
Ia mungkin menjadi ditakuti, dimusuhi, bahkan dibenci. Semua ia terima dengan lapang dada. Selain itu, Sr. Francesco terkenal sebagai pribadi yang total. Bagi dia keberhasilan pendidikan bukan hanya dilihat dari prestasi akademis yang ditorehkan oleh peserta didik melainkan dari kesadaran kuat akan visi.
Visi itu, bagi Sr. Francesco harus terwujud dalam semua peristiwa pendidikan yang terjadi hari demi hari. Mendidik baginya untuk mengembangkan keutuhan pribadi anak didik. Setelah satu visi selesai segera dilakukan evaluasi. Jika ada yang perlu diperbaiki, ia akan melakukan perbaikan. Selanjutnya ia akan melakukan hal lain untuk mewujudkan visi lain.
Itulah cara Sr. Francesco mencintai melalui otonominya, otentisitasnya, serta totalitasnya. Nampaknya nilai-nilai ini diwarisi oleh Sr. Francesco dari Santa Angela, pendiri kongregasi Santa Ursula tempat Sr. Francesco mengabdi. Selamat Jalan Sr. Francesco.
