Membaca dan Memahami Hasil Tes PISA Siswa Indonesia dengan Bantuan Taksonomi Bloom

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Belum lama ini, Skor Program Penilaian Pelajar Internasional : Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2025 dirilis oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Dari rilis tersebut, nilai PISA siswa usia 15 tahun Indonesia, memang menunjukkan peningkatan pada aspek sains dan membaca namun menurun pada aspek matematika. 

Meskipun demikian, laporan tersebut juga menggambarkan bahwa banyak murid Indonesia belum mencapai kompetensi minimum. Hanya 16 persen siswa Indonesia yang mencapai level 2 pada matematika; 27,11 persen yang mencapai level 3 pada membaca; dan 36,81 persen mencapai level 2 pada sains. Artinya, masih banyak siswa yang belum mencapai tingkat kompetensi minimum pada ketiga bidang. 

Bahkan hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level 5 dan level 6 pada ketiga bidang yang diuji. Level 5 dan 6 adalah level tertinggi atau mahir. Dengan demikian berarti siswa Indonesia belum mampu berpikir luas, kritis, logis, dan strategis dalam persoalan yang kompleks, belum mampu memecahkan masalah, apalagi menciptakan hal yang baru. 

Gambaran capaian siswa Indonesia ini bukan baru terjadi tahun 2025 ini, hasil tes PISA tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan kondisi serupa. Bahkan hasil-hasil tahun 2018 atau 2022 misalnya lebih buruk dari capaian tahun ini. Pertanyaannya, kenapa kondisi ini bisa terjadi? Sesulit itukah soal-soal yang dikerjakan dalam tes PISA tersebut?

Tulisan ini mencoba menggunakan kerangka berpikir Benyamin S. Bloom yang dikenal sebagai Taksonomi Bloom, untuk menjelaskan mengapa siswa Indonesia cenderung gagal mengerjakan tes tersebut hingga sekarang. Tulisan ini juga hendak mengajak para pembaca untuk memahami kaitan antara tes PISA dan Taksonomi Bloom. 

Saya yakin memahami kaitan antara keduanya, penting untuk mengetahui arah perbaikan pendidikan yang dibutuhkan. Bukan semata-mata agar siswa Indonesia dapat mengerjakan tes PISA, melainkan agar proses belajar di sekolah-sekolah kita semakin mampu melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi. Berikut uraiannya.

Hakikat Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom adalah kerangka kerja pendidikan yang dirancang tahun 1955 dan kemudian direvisi tahun 2021, untuk mengelompokkan tujuan pembelajaran. Teori ini membagi kemampuan manusia dalam tiga ranah utama, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. 

Ranah kognitif kemudian diurai menjadi enam tingkatan, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks yaitu, mengingat,  memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Taksonomi Bloom merupakan salah satu konsep penting dalam dunia pendidikan yang digunakan sebagai dasar penyusunan tujuan pembelajaran, perencanaan proses belajar, dan evaluasi hasil belajar siswa.

Dalam praktik pembelajaran, ranah kognitif paling sering digunakan sebagai acuan dalam perencanaan proses belajar mengajar,  perencanaan evaluasi hasil belajar, termasuk dalam menyusun indikator soal evaluasi hasil belajar. 

Baca juga : SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya Bersama RKZ Surabaya Gelar Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut

Pembelajaran harus dimulai dari level mengingat, kemudian membantu siswa memahami, lalu membantu siswa menerapkan apa yang dipelajari dalam menghadapi persoalan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran harus melatih kemampuan analisis, melatih kemampuan mengevaluasi, dan yang paling tinggi mencipta hal yang baru. 

Proses pengajaran di banyak negara, termasuk di Indonesia lebih banyak melatih siswa pada level bawah yakni bagaimana agar siswa mengingat fakta, informasi, menghafal rumus dengan mereproduksi penjelasan atau informasi yang disampaikan guru. Proses pengajaran mandek di level ini. Inilah salah satu pangkal masalah pendidikan kita terkait tes PISA. 

Tingkat kesulitan Soal PISA

Bagi Siswa Indonesia, kesulitan soal PISA terlihat dari tiga ciri utamanya:

Pertama, soal PISA tidak menanyakan apa yang sudah dipelajari di buku pelajaran secara langsung. Soal PISA selalu disajikan secara kontekstual misalnya mengukur pertumbuhan tanaman, menghitung biaya perjalanan, menafsirkan berita lingkungan sekitar yang belum tentu pernah dibahas di kelas. 

Kedua, soal PISA menuntut pemahaman lintas mata pelajaran. Peserta tidak cukup hanya menguasai rumus matematika, tetapi harus mampu membaca data, memahami grafik, dan menarik kesimpulan terkait masalah sosial atau gejala alam yang terjadi di sekitarnya. 

Ketiga, soal PISA memberikan pertanyaan yang memiliki lebih dari satu langkah penyelesaian. Seringkali jawaban dari pertanyaan tidak langsung terlihat; siswa harus memilah informasi yang relevan, mengaitkan berbagai gagasan lain, dan mempertimbangkan beberapa kemungkinan sebelum merumuskan jawaban akhir. 

Inilah yang membuat siswa Indonesia, yang terbiasa dengan soal level mengingat dan memahami, kesulitan mengerjakan soal PISA. Maka hasil tes PISA selama beberapa dekade selalu menempatkan Indonesia pada posisi bawah. Ini mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia belum berkembang karena praktik pengajarannya. 

Kaitan Langsung: PISA menguji tingkat atas taksonomi Bloom

Kesulitan siswa Indonesia mengerjakan soal PISA terletak pada kenyataan bahwa hampir tidak soal dalam Tes PISA yang berada pada level mengingat atau sekedar memahami. Sebagian besar soal PISA berada pada level menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi;

  • Soal tipe menerapkan; siswa diberi situasi baru dan diminta menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah. Contohnya: menghitung konsumsi listrik rumah tangga untuk menentukan bagaimana menghemat konsumsi listrik bulan yang akan datang. 
  • Soal tipe menganalisis: Siswa diminta memeriksa data grafik, membandingkan informasi, dan menemukan hubungan sebab akibat. Siswa bukan sekedar melihat angka, tetapi memahami, apa yang tersirat di balik angka tersebut.
  • Soal tipe mengevaluasi: Siswa diminta menilai kebenaran suatu pernyataan, menilai kelebihan dan kekurangan suatu argumen, atau merumuskan solusi yang paling tepat dengan alasan yang paling logis. 

Dari soal-soal ini nampak bahwa kesulitan mengerjakan soal PISA bukan karena soalnya yang rumit, melainkan karena pola pikir yang diukur berbeda dengan kebiasaan belajar sehari-hari siswa Indonesia. Jika sehari-hari sekolah-sekolah kita hanya melatih siswanya mengingat, maka menghadapi soal yang menuntut kemampuan analisis atau evaluasi tentu terasa berat. 

Baca juga : Belajar dan Beraksi Melalui Komposting : Hari Studi Karyawan Rayon Magelang, Dorong Pengelolaan Sampah Organik dari Lingkungan Sekolah

Implikasinya bagi Pendidikan kita 

Dengan bantuan Taksonomi Bloom semakin jelas kelihatan bahwa kesulitan yang dialami siswa Indonesia mengerjakan soal PISA bukan kegagalan siswa sebagai individu, melainkan cermin dari praktik pembelajaran yang masih berpusat pada upaya mengingat dan memahami informasi, pengetahuan, dan bukan pengembangan kemampuan berpikir. 

Selama ini, proses belajar mengajar dan evaluasinya hanya menyentuh dan mengembangkan kemampuan kognitif mengingat dan memahami yang merupakan kemampuan tingkat rendah. Akibatnya, ketika siswa dihadapkan pada soal PISA yang menuntut penalaran tingkat tinggi, para siswa tidak siap. 

Namun dari pemahaman ini, perbaikan juga dapat dilakukan dengan cara yang tepat yakni mengubah orientasi pembelajaran dari hanya mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah bergeser ke pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan. 

Dalam orientasi pembelajaran yang baru tersebut, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi melainkan menjadi pendamping yang mengajak peserta didik bertanya, mencari jawaban sendiri, berdebat, memecahkan masalah nyata sendiri. 

Ketika siswa sering dilatih dan cara berpikir mereka dikembangkan ke arah berpikir tingkat tinggi menurut Taksonomi Bloom, soal PISA tidak lagi terasa menakutkan, karena kemampuan yang diuji adalah kemampuan yang memang sudah mereka miliki. 

Itulah pembahasan tentang mengapa siswa Indonesia sering memperoleh skor buruk ketika mengerjakan tes PISA. Taksonomi Bloom telah membantu kita memahami bahwa itu terjadi karena praktik pengajaran dari sekolah-sekolah kita yang memang hanya mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah. 

Sementara soal tes PISA menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan analisis, menerapkan dan mengevaluasi bahkan menciptakan dan bukan sekedar mengingat, memahami fakta, pengetahuan, dan informasi. 

Pemahaman ini hendaknya menjadi titik tolak untuk mendorong perubahan pendidikan secara mendasar di Indonesia dari sekedar mengembangkan kemampuan mengingat, menjadi mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, untuk dapat memecahkan masalah.

Karena pada akhirnya pendidikan di sekolah bertujuan membentuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah yang dibutuhkan untuk hidup di masa depan. Bukan hanya sekedar mampu mengerjakan tes PISA.

Foto: BBGTK-Jateng

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments