Bullying Masih Marak di Sekolah-sekolah Kita, Mari Belajar dari Singapura Bagaimana Mencegah Bullying

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Hari-hari ini, publik di Indonesia dikagetkan oleh aksi ledakan bom di SMAN 72  Jakarta, yang dilakukan oleh FN, seorang siswa kelas XII SMA negeri tersebut. Beberapa media termasuk BBC mengutip pernyataan beberapa pelajar SMAN 72 menyebutkan terduga pelaku ledakan kerap mengalami bullying dari siswa yang lain. 

Kepada wartawan metrotvnews.com, seorang siswa berinisial ZA, yang pada  saat kejadian berada di lokasi, menuturkan dugaannya bahwa nampaknya pelaku memang menunggu kesempatan  di mana para siswa berkumpul dan ramai. Menurutnya, FN sepertinya memang mengincar orang yang kerap mem-bully dirinya. 

“Dia (FN) adalah salah satu korban bullying, dia sering di-bully. Ini mungkin kesempatan dia mau balas dendam. Mungkin menurut dia ini kesempatan ya, cowok-cowok lagi ramai, lagi sholat. Mungkin dia sengaja membalas orang yang sering mem-bully-nya di sekolah,” kata ZA. 

Hal yang diungkap ZA ini bisa jadi memang masih merupakan dugaan ZA, kita masih harus menunggu hasil pemeriksaan polisi mengenai motif meledakkan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta tersebut. Namun jika benar dugaan tersebut, kasus ini harusnya membuka mata kita tentang betapa berbahayanya bullying di sekolah.

Bullying tidak hanya menyebabkan korban trauma secara psikis, menyebabkan kecacatan pada korban, menyebabkan korban meninggal, menjadi pemicu korban bunuh diri, bahkan jika korbannya balas dendam, akan menimbulkan lingkaran kekerasan baru, yang lebih mengerikan dan berdampak lebih luas, seperti pada kasus SMAN 72 ini. 

Dalam catatan kami, kasus SMAN 72 Jakarta ini bukan kasus yang pertama. Pada tahun 2023 dengan modus yang serupa di mana seorang siswa korban bullying, anak usia 14 tahun, inisial R,  tidak terima di-bully dan memilih membalas  dendam dengan membakar sekolah, pernah terjadi di sebuah SMP Negeri di Temanggung Jawa Tengah. 

Oleh karena itu menurut saya, kasus SMAN 72 Jakarta ini memiliki dimensi yang berbeda dan lebih kompleks. Jika pada kebanyakan kasus bullying, korban bullying cenderung membiarkan diri menjadi korban, korban mengalami trauma, stress, depresi, lalu mengorbankan diri lebih lanjut. 

Tindakan mengorbankan diri lebih lanjut misalnya bunuh diri, seperti kasus yang dialami oleh Eneng di Sukabumi seperti dilansir BBC (30/10/2025) yang memilih bunuh diri setelah pengaduannya tidak direspon oleh sekolah. Atau kasus bullying siswa SD kelas 5 di Tasikmalaya yang depresi berat, tidak mau makan, akhirnya meninggal beberapa tahun silam. 

Namun kasus SMAN 72 Jakarta berbeda. FN tidak terima dirinya terus menerus menjadi korban bullying. Ia merencanakan aksi balasan. Untuk itu ia belajar merakit bom melalui internet. Pada hari yang ia rencanakan, ia membawa bom hasil rakitannya ke sekolah dan meledakkannya di masjid sekolah ketika para siswa sedang sholat Jumat.     

Baca juga : Belajar dari Denmark untuk Menangani Masalah Bullying di Sekolah-sekolah Kita

Ledakan tersebut melukai 96 siswa, dengan rincian 62 luka ringan, 26 luka sedang dan 3 orang luka berat, termasuk pelaku ledakan. Coba bayangkan jika lebih banyak korban bullying memilih melakukan aksi balas dendam, apalagi dengan cara yang dilakukan oleh FN, betapa tidak kondusifnya iklim pendidikan sekolah-sekolah kita. 

Dari kasus ini seharusnya banyak fakta mengenai kondisi bullying di sekolah-sekolah kita terkuak, misalnya sistem pengamanan sekolah-sekolah negeri kita sangat buruk. Padahal, di hampir semua sekolah negeri selalu memiliki staf satuan pengamanan (satpam) 24 jam. Dalam kasus SMAN 72 Jakarta, sistem pengamanan sama sekali tidak berfungsi.  

Bagaimana mungkin, satu anak datang ke sekolah dengan membawa 2 tas, satu tas sekolah dan satu tas jinjing besar, mencolok, beda dari anak lainnya, dibiarkan masuk ke area sekolah tanpa pemeriksaan sama sekali. Dan pada detik-detik menjelang kejadian anak ini mondar mandir, tidak ada satpam atau guru yang mengamati gerak-geriknya. 

Dari kasus ini juga mencuat fakta bahwa pendampingan psikis  anak juga tidak berjalan di sekolah-sekolah, juga di sekolah-sekolah negeri kita. Sehingga siswa seperti FN yang bermasalah dari rumah karena tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, juga tidak mendapat perhatian di sekolah. 

Padahal masalah kesejahteraan psikis seharusnya menjadi hal utama yang diupayakan oleh sekolah, selain proses belajar mengajar. Bahkan seharusnya kesejahteraan psikis siswa menjadi kunci penting terselenggaranya proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita.  Oleh karena itu, sulit bagi kita menyimpulkan sekolah kita adalah sekolah bermutu.  

Lebih dari itu, kasus ini juga menunjukkan bahwa pemerintah perlu lebih serius dan mendesak mendorong sekolah-sekolah kita untuk memberi perhatian pada upaya mencegah dan mengatasi bullying sejak dari sekolah-sekolah dasar kita. 

Selanjutnya pada bagian berikut saya mengajak pemerintah, pengelola sekolah, kepala sekolah, para guru, dan orang tua untuk belajar dari negara tetangga kita Singapura, bagaimana negara ini mencegah bullying di sekolah-sekolah mereka melalui upaya-upaya yang mendasar dan menyentuh akar masalah. Berikut uraiannya. 

Upaya Singapura mencegah bullying di sekolah

Menurut data Kementerian Pendidikan Singapura, selama lima tahun terakhir, dilaporkan  terdapat 2 insiden per 1.000 siswa Sekolah Dasar dan 6 insiden per 1.000 siswa Sekolah Menengah. Cyberbullying bahkan dilaporkan lebih rendah lagi, yakni kurang dari 1 insiden per 1.000 siswa Sekolah Menengah. 

Dari data ini tampak bahwa masih ada insiden bullying di sekolah dasar dan sekolah menengah Singapura. Namun dibandingkan hasil survei tahun 2018, data ini menunjukkan penurunan yang signifikan, terutama data mengenai jumlah insiden cyberbullying. Hasil survei tersebut menggambarkan cyberbullying  tinggi yakni 258 insiden per 1.000 siswa. 

Baca juga : Program Penanganan Bullying di Sekolah Belum Menyentuh Akar Masalah

Kini kasus bullying memang belum sepenuhnya mereda. Misalnya pada bulan September yang lalu, sempat viral kasus bullying di sekolah dasar dan sekolah menengah Singapura. Namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, data ini menunjukkan penurunan yang signifikan. 

Hal ini terjadi karena pemerintah Singapura melalui Kementerian Pendidikan Singapura melakukan intervensi melalui berbagai kebijakan secara mendasar dan menyentuh akar masalah bullying di sekolah.

Dalam konferensi pers September yang lalu, menanggapi kasus bullying yang viral, Desmond Lee, Menteri Pendidikan Singapura seperti dilansir The Strait Times, mengatakan; “Perundungan tidak dapat diterima dan tidak memiliki tempat di sekolah-sekolah kita.”    

Ia kemudian menyerukan peningkatan efektivitas implementasi kebijakan pencegahan bullying yang sudah ada, dan memerintahkan implementasi program lain yang sekiranya diperlukan untuk mencegah bullying di sekolah-sekolah mereka. 

Berikut, kurang lebih ada enam program penanganan bullying yang dijalankan oleh pemerintah Singapura di bawah kendali Kementerian Pendidikan Singapura, yang dapat menjadi referensi kita dalam penanganan bullying di Indonesia. 

  • Kelas Character and Citizenship Education (CCE)

Ini adalah kelas pendidikan karakter dan kewarganegaraan yang diselenggarakan sejak dari sekolah dasar hingga sekolah menengah di Singapura. Semacam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Indonesia. Kelas ini mengajarkan nilai-nilai rasa hormat, kepedulian, dan empati pada sesama manusia. 

Pengajaran dari kelas ini bertujuan menanamkan sikap positif dan saling menghargai antar sesama manusia dalam interaksi sejak dini. Sejak tahun 2018, kementerian pendidikan memasukkan statistik bullying di sekolah sebagai salah satu indikator keberhasilan pelajaran CCE ini. 

Isi kurikulum CCE terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sejak tahun 2021 misalnya CCE dirancang untuk mengembangkan sikap positif siswa terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat dan negara. Ini diyakini berimplikasi pada munculnya sikap peduli dan bertanggung jawab sebagai warga negara. 

Salah satu indikator keberhasilannya adalah munculnya sikap hormat pada diri sendiri, pada orang lain, munculnya empati dan rasa peduli pada orang lain yang diyakini menciptakan harmoni dalam masyarakat yang majemuk. Di sekolah, salah satu indikator keberhasilannya adalah menurunnya kasus bullying hingga zero bullying

  • Program pelibatan support sebaya

Melalui program ini siswa dipilih dan dilatih untuk memberikan perhatian pada teman sebaya, menyuarakan pendapat terkait bullying dan melaporkan kasus bullying yang mereka amati kepada otoritas sekolah. 

Mereka dilatih untuk peduli, memberi dukungan pada siswa, menjadi peer support leaders, membantu mempromosikan sikap positif di kalangan siswa, baik dalam interaksi langsung maupun interaksi daring. Untuk melaksanakan tugas, mereka dilatih keterampilan komunikasi untuk mendengarkan, mengenali tanda-tanda stress di kalangan siswa. 

Mereka juga dilatih mengarahkan teman-teman mereka yang mengalami kesulitan untuk mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya seperti guru dan konselor. Mereka dilatih untuk bertindak ketika menyaksikan bullying, bahkan menyediakan bantuan emosional sementara pada siswa korban bullying

Kementerian Pendidikan mendukung keberadaan kelompok support sebaya ini di sekolah-sekolah dengan pelatihan, pengawasan, dan evaluasi yang terus menerus. Kehadiran kelompok ini, hingga kini terbukti efektif mengurangi bullying di sekolah-sekolah. 

  • Pembentukan tim terlatih untuk penanganan bullying

Selain dua program terdahulu, program berikut adalah pembentukan tim untuk penanganan bullying. Anggota tim ini sepenuhnya diambil dari kalangan guru dan tenaga pendidik lain yang dipandang kompeten untuk tugas tersebut. Mereka adalah guru senior,  konselor, atau psikolog yang  memang memiliki kompetensi untuk tugas tersebut.  

Mereka dibentuk dan dilatih oleh Kementerian Pendidikan untuk menangani laporan bullying, melakukan penyelidikan, memberikan dukungan pertama pada kelompok support sebaya, memberikan konseling pada pelaku dan korban bullying serta  menentukan tindakan disiplin yang tepat sesuai dengan kasus.  

Selain itu, tim ini juga dilatih dan diberi tugas untuk membangun sistem penanganan bullying yang lebih kompleks yang  penanganannya memerlukan kolaborasi dengan guru, orang tua, dan komunitas di luar sekolah. Tim ini juga diberi tugas menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari bullying

Baca juga : Memaknai Kasus Murid SMP di Temanggung yang Membakar Sekolah karena Di-bully

  • Pelatihan rutin guru untuk membangun budaya kelas yang positif dan manajemen kelas

Kementerian Pendidikan Singapura memandang bahwa kemampuan guru dalam membangun budaya kelas yang positif dan manajemen kelas, merupakan kemampuan kunci bagi guru untuk menciptakan  kelas yang kondusif untuk proses belajar yang produktif bagi siswa. 

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Singapura rutin melakukan pelatihan guru dalam hal kemampuan membentuk budaya kelas yang positif dan kemampuan manajemen kelas bagi guru. Dua kemampuan ini diyakini memberikan sumbangan pada menurunnya kasus bullying di sekolah. 

Hal tersebut dapat terjadi karena pendekatan ini menurut mereka, mencegah bullying sejak dari awal karena tercipta lingkungan belajar yang aman suportif dan inklusif. Dengan kemampuan ini guru juga lebih mampu mengelola kelasnya, lebih tepat menanggapi dinamika sosial di kelas sebelum berkembang menjadi bullying

Selain itu, kemampuan guru membangun kultur kelas positif membantu terbentuknya iklim kelas yang saling menghormati, menumbuhkan empati antara siswa dan guru, dan antar siswa. Ini terbukti mengurangi insiden bullying di sekolah-sekolah. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi salah satu strategi penting Kementerian Pendidikan dalam menangani bullying.        

  • Program kontrol dan edukasi keamanan siber

Selain melakukan kontrol, Kementerian Pendidikan Singapura juga rutin melakukan edukasi keamanan siber. Program edukasi ini bertujuan mengajarkan siswa menggunakan pengaturan keamanan perangkat untuk mencegah cyberbullying, serta melaporkan insiden bullying dan cyberbullying, baik kepada penyedia layanan maupun pada pihak terkait. 

Program ini dianggap berhasil karena sejak program ini digalakkan, kasus cyberbullying turun menjadi kurang dari satu insiden per 1.000 siswa. Padahal sebelumnya data survei menyebutkan 30 persen siswa di Singapura dilaporkan mengalami cyberbullying. Selain itu, meningkatkan literasi digital siswa sehingga mereka lebih aman berselancar di internet. 

Media mengaitkan keberhasilan ini dengan program-program Kementerian Pendidikan dalam menangani bullying dengan kehadiran lembaga baru yang dibentuk pemerintah pada tahun 2024 untuk menangani korban online harms. Lembaga ini memiliki kewenangan untuk menghapus konten berbahaya termasuk cyberbullying dari platform online secara cepat. 

Hal tersebut diupayakan pemerintah secara proaktif, melalui peraturan perundang-undangan mengatur moderasi konten dan dipatuhi oleh penyedia layanan digital dan media sosial,  sehingga tercipta lingkungan yang aman dan nyaman bagi pengguna, terutama bagi remaja. 

  • Kerjasama dengan orang tua

Sekolah aktif bekerja sama dengan orang tua dalam hampir semua program pencegahan bullying yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan, baik dengan hanya memberi dukungan pada program-program yang dijalankan oleh sekolah, maupun dengan terlibat langsung dalam upaya sekolah melakukan pencegahan bullying

Baca juga : Membaca Statistik tentang Kasus Bullying di Indonesia

Program pencegahan bullying di mana orang tua terlibat secara langsung misalnya ikut menjadi anggota tim untuk melakukan konseling baik terhadap korban maupun terhadap pelaku bullying. Atau terlibat langsung dalam penyelidikan kasus bullying

Keterlibatan langsung orang tua dalam program penanganan bullying yang lain misalnya aktif mengawasi anak agar tidak menjadi korban atau pelaku bullying, atau melatih anak menghadapi situasi bullying dengan tepat. Selain itu orang tua juga memberi dukungan emosional pada anak yang menjadi korban  atau pelaku bullying

Untuk semua peran secara langsung ini orang tua juga dilatih dan didampingi oleh sekolah. Pelatihan dan pendampingan ini di-support oleh Kementerian Pendidikan Singapura. Selain itu, orang tua juga memberi dukungan pada sekolah terkait semua program pembiasaan yang dilakukan oleh sekolah dalam rangka mencegah bullying

Misalnya orang tua mendukung pengembangan budaya kelas yang positif. Atau memberi dukungan pada upaya sekolah melakukan edukasi mengenai pentingnya nilai rasa hormat, empati dan kepedulian, yang diajarkan oleh sekolah melalui pengajaran CCE. Dukungan ini menciptakan lingkungan yang suportif bagi siswa untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut. 

Keterlibatan dan dukungan orang tua dalam program pencegahan bullying ini terbukti efektif dalam upaya mengurangi resiko bullying di sekolah. Dari sini kita belajar bahwa jika  pemerintah, sekolah dan orang tua saling support, ini yang membuat program pencegahan bullying di Singapura berhasil.  

Indonesia bagaimana? Bullying di Indonesia semakin mengkhawatirkan setelah kasus SMAN 72 Jakarta, muncul kasus bullying SMPN 19 Tangerang Selatan. Seorang siswa memukul kepala temannya dengan kursi besi hingga luka parah. Seminggu korban menjalani perawatan di rumah sakit, namun korban dinyatakan meninggal oleh dokter. 

Seperti ketika menanggapi kasus SMAN 72 Jakarta, menanggapi kasus bullying SMPN 19 Tangerang Selatan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah berjanji untuk segera menerbitkan peraturan menteri untuk menangani bullying di sekolah. Padahal harusnya Abdul Mu’ti tahu bahwa aturan seperti itu sudah terlalu banyak dibuat pemerintah. 

Belajarlah dari Singapura atau dari Denmark, dua negara yang dikenal sangat berhasil menangani kasus bullying di sekolahnya dengan program-program yang mendasar dan menyentuh akar masalah dari masalah bullying di sekolah. 

Bagi Singapura dan Denmark, bullying adalah gangguan serius bagi kesejahteraan psikis siswa. Padahal bagi pemerintah dua negara ini, kesejahteraan psikis siswa adalah kunci penting keberhasilan belajar di sekolah-sekolah mereka. 

5 3 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Bullying Masih Marak di Sekolah-sekolah Kita, Mari Belajar dari Singapura Bagaimana Mencegah Bullyin… […]

trackback

[…] Baca juga : Bullying Masih Marak di Sekolah-sekolah Kita, Mari Belajar dari Singapura Bagaimana Mencegah Bullyin… […]