Depoedu.com Saya suka badut. Dulu tamu kehormatan yang saya tunggu saat diundang ke pesta ulang tahun teman saya adalah si badut. Kehadiran badut selalu bisa menghibur suasana. Badut menjadi simbol kebahagiaan agar di pesta seseorang yang memperingati hari lahirnya jangan ada yang tidak bahagia.
Sungguh mulia bukan tujuannya. Sayangnya saya sudah jarang menyaksikan badut di pesta ulang tahun. Mereka tergantikan badut-badut tidak bertopeng yang menari konyol meski tidak ada pesta.
Saat training fasil Pembelajaran Mendalam saya benar-benar menolak melakukan ice breaking. Sampai-sampai saya “dihukum” agar saya mau melakukannya. Untuk sopan santun, saya sampaikan saya tidak bisa. Padahal ice Breaking itu soal receh saja.
Apa susahnya tepuk dengan teriak-teriak. Saya menolak melakukan itu sebab ice breaking seringkali hanya bersifat menghibur. Anak mungkin terlihat senang, tapi bukan pada proses belajar. Saya tidak mau melakukan sesuatu untuk hiburan saja. Saya tidak mengajar untuk disukai. Saya tidak mau menjadi badut.
Sayangnya, banyak guru yang berpikiran sebaliknya. Karena media sosial, utamanya tik-tok, semua berlomba menyajikan hiburan demi satu tujuan: Popularitas.
Mereka tahu menjadi populer adalah jalan singkat untuk bisa dikatakan sukses, punya uang, rumah dan mobil mewah. Mereka berebut menghibur orang meski sejatinya tidak diminta. Meski mereka tahu ruang kelas bukanlah tempat pesta.
Yang disesalkan riuh gempita dunia hiburan ini menutup ruang-ruang lirih yang disebut pendidikan. Disparitas itu semakin nyata kita rasakan. Kalau kita berkaca, 10 tahun yang lalu saja, momen karnaval adalah pawai budaya yang syarat nilai pendidikan.
Penonton disajikan deretan cosplay pahlawan mulai Diponegoro, Cut Nyak Dien, sampai Patimura. Tak jarang ada semacam reka ulang bagaimana Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi meski di atas truk.
Sekarang ruang pendidikan itu berganti dengan ruang hiburan yang hingar bingar dengan remix sound horeg dan barisan para dancernya. Ya, karnaval kita sekarang berisi para badut yang tujuannya menghibur saja.
Baca juga : Korea Selatan Melarang Murid SMP dan SMA Menggunakan Ponsel di Sekolah
Bahkan, pendidikan di ruang yang paling aman sekalipun kini terancam. Sekolah mulai digerogoti oleh virus badut. Sebagai sebuah lembaga yang tujuannya mendidik, sekolah malah belok haluan untuk menjadi populer.
Segala cara dilakukan. Mulai dari bikin video PPDB yang aneh-aneh atau sengaja bikin konten yang kontroversi. Beberapa sekolah tak ragu mengeluarkan dana untuk membuat hiburan yang megah, mewah dan meriah.
Yang terpenting adalah konten yang nantinya bisa mendulang penonton di media sosial. Jika ini tujuannya maka saya katakan, sebusuk-busuknya sekolah adalah sekolah yang ingin viral.
Di ruang yang lebih sempit, pendidikan dirusak oleh guru-gurunya. Di kelas, banyak guru yang ingin tampil menyenangkan. Membuat segala macam pembelajaran berbasis game, nyanyi, joget hanya agar murid senang dan terhibur.
Tapi mereka lupa satu hal: belajar itu letaknya di otak. Seringkali pembelajaran yang terlihat asyik, rame dan menyenangkan adalah pembelajaran yang sepi di dalam otak. Enggak percaya? Saya beri contohnya.
Ketika menghadiri pameran batik ecoprint, saya pernah menanyakan apa itu mordan dan prinsip sains yang mendasarinya, murid enggak bisa jawab. Yang menjawab justru gurunya.
Sialnya lagi produk yang dipamerkan, yang diklaim karya muridnya saya temukan banyak di toko online dan itu buatan industri. Mengapa sekolah dan guru hanya berfokus pada kemegahan pameran?
Mengapa tidak berfokus pada prosesnya? Setidaknya jadilah badut sendirian, jangan mencetak murid jadi badut di pameran.
Contoh lain, seminggu yang lalu, 10 menit sebelum bel berakhir, saya bertanya ke anak-anak saya apakah mereka kenal Atta Halilintar, dan mereka semua menjawab kenal. Banyak dari mereka lalu meneriakkan assyiiiiaappp.
Baca juga : Berpikir dan Bertindak Korup: Tanda Bahwa Kita Belum Sepenuhnya Merdeka Lalu saya tanya lagi apakah mereka mengenal Al Khawarizmi, dan seketika kelas menjadi hening. Lalu saya sampaikan inilah efek kalau mereka semua terlalu banyak terpapar hiburan dan jarang sekali terpapar pendidikan.
Saya ceritakan sejarah singkatnya dan apa perannya terhadap matematika termasuk angka yang mereka gunakan setiap hari, yang bahkan mereka tidak tahu namanya.
Anggap saja mereka dari 30 SD yang berbeda, diajarkan matematika oleh 6 orang guru yang berbeda setiap tahunnya. Berarti ada sebanyak 180 guru matematika yang tidak pernah mengenalkan Al Khawarizmi pada muridnya.
Mengapa? Tidak mau atau karena tidak tahu? Saya lebih curiga banyak guru yang tidak tahu. Pengetahuan guru mentok bersumber dari buku ajarnya. Mengapa guru tidak memilih untuk menambah pengetahuan yang bermanfaat?
Mengapa justru rame-rame mengajarkan trend Velocity atau bowling ke muridnya? Mengapa memilih menjadi badut hanya karena ingin terkenal?
Sekarang, kalau kita saksikan lebih jeli, dampaknya mulai terasa. Badut-badut di ruang pendidikan hanya akan melahirkan masyarakat badut yang memilih pemimpin badut.
Kita saksikan sekarang seseorang dipilih bukan karena kompetensinya melainkan karena jogetnya, karena foto unik di kertas suaranya, karena berhasil menyajikan hiburan yang megah dan meriah.
Lalu kita protes ketika para badut itu berjoget di ruang sidang. Woooiiii, badut-badut itu, kita yang ciptakan. Dari sejak kita lebih memilih hiburan dan popularitas dibandingkan pendidikan, kita sudah memulai beternak badut.
Sungguh realita yang hina
Foto: Liputan6.com

[…] Baca juga : Ketika Banyak Guru Berlomba Jadi Badut […]