Depoedu.com-Setelah bagian pertama kami publikasikan, artikel tersebut mendapat banyak tanggapan dari pembaca. Dari tanggapan yang masuk ke kontak saya, banyak yang setuju bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Namun ada juga pembaca yang tidak setuju.
Kepada mereka saya mengatakan, saya akan menanggapinya secara tertulis jika para penanggap juga menyampaikan tanggapannya secara tertulis di www.depoedu.com atau media online yang lain.
Selain itu, kepada yang tidak setuju saya mengatakan, tanggapilah setelah seluruh bagian tulisan saya publikasikan. Karena bisa jadi setelah membaca seluruh tulisan, pembaca tersebut bisa saja berubah sikap. Juga bagi pembaca yang sekarang menyatakan setuju.
Pada intinya, di tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa salah satu penanda terjadinya krisis kepemimpinan di sekolah adalah buruknya tata kelola sekolah, yang gejalanya dapat diamati pada kasus yang muncul karena lemahnya pengawasan, buruknya manajemen kerja, dan alpanya tindakan antisipasi.
Dua penanda krisis kepemimpinan di sekolah lainnya, yakni masalah dominasi-intervensi orang tua dan masalah krisis otonomi guru dan kepala sekolah, akan dibahas dalam tulisan berikutnya di bawah ini. Selamat membaca.
Dominasi dan intervensi orang tua
Harus diakui bahwa peran orang tua dalam pendidikan anak di sekolah sangatlah penting melalui dukungan yang konstruktif, namun seringkali justru diwarnai dengan intervensi. Bahkan dalam interaksi antara sekolah dan orang tua tersebut, batas antara dukungan dan intervensi sering menjadi kabur. Dalam banyak kasus, orang tua mendominasi sekolah.
Misalnya dalam kasus perundungan yang dilakukan oleh Ivan Sugianto terhadap EV, murid SMA Gloria 2 Surabaya. Orang tua, dalam hal ini, Ivan Sugianto, menyelesaikan kasus anaknya yang berkonflik dengan anak lain tanpa melibatkan sekolah, meskipun proses tersebut terjadi di lingkungan sekolah.
Baca juga : Krisis Kepemimpinan di Bidang Pendidikan
Kasus itu menggambarkan dominasi orang tua yang berlebihan pada kasus yang dihadapi oleh anak. Harusnya orang tua hanya mendampingi anaknya, mendorong anaknya menyelesaikan kasus dengan anak lain, setelah jelas duduk perkara. Dan proses ini harusnya melibatkan sekolah.
Jika orang tua terlalu dominan, bahkan melakukan intervensi seperti kasus di atas, anak malahan kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar mandiri. Anak mengalami interupsi pertumbuhan ke arah kedewasaan. Dominasi seperti itu berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak dan merusak iklim pendidikan.
Kasus dominasi orang tua seperti ini, terjadi di banyak sekolah dengan berbagai bentuk variasinya. Ini merupakan salah satu penanda krisis kepemimpinan di lembaga pendidikan, terutama sekolah-sekolah kita.
Krisis otonomi guru dan kepala sekolah
Selain buruknya tata kelola sekolah dan dominasi-intervensi orang tua, krisis otonomi guru dan kepala sekolah juga menjadi penanda lain terjadinya krisis kepemimpinan di sekolah. Padahal otonomi diperlukan agar guru bebas berkreasi, berinovasi, dan mengambil keputusan untuk merancang pembelajaran yang efektif, sesuai dengan kebutuhan siswa.
Sedangkan bagi kepala sekolah, otonomi diperlukan untuk memimpin sekolah dengan visi dan misi yang jelas, dapat menyesuaikan strategi manajemen yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah. Ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang berpusat pada siswa dan mendorong pembelajaran yang bermakna.
Namun pada kenyataannya di banyak sekolah guru dan kepala sekolah mengalami krisis otonomi yang membuat mereka terhambat. Misalnya terkait kasus guru Supriyani yang dituduh orang tua siswa yang berprofesi sebagai polisi, menganiaya anaknya.
Sebetulnya kasus tersebut merupakan kasus sederhana yang benar atau tidaknya bisa dengan gampang dibuktikan melalui mekanisme penyelesaian kasus yang dimulai dari inisiatif kepala sekolah, jika kepala sekolah cukup memiliki otonomi dan wibawa.
Baca juga : Era Sinergi Manusia Dengan Robot, Siapkah Anda?
Namun proses tersebut tidak dapat dilakukan oleh kepala sekolah atasan dari guru Supriyani, karena inferioritas dan tidak otonomnya kepala sekolah, bahkan kemudian dilangkahi oleh orang tua, yang lebih memilih menyelesaikan secara hukum. Bahkan kasusnya kemudian menjadi kasus pemerasan yang berlarut-larut.
Kasus guru Supriyani selain menggambarkan model intervensi yang bernuansa politik tetapi juga menggambarkan kurangnya dukungan organisasi profesi dan minimnya kolaborasi yang memang mencerminkan keseharian kerja guru. Oleh karena itu, kasus itu menurut saya menggambarkan dengan baik salah satu sisi dari krisis otonomi Kepala sekolah.
Krisis kepemimpinan
Mudah-mudahan Eduers sepakat dengan saya bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan di lembaga-lembaga pendidikan kita karena buruknya tata kelola sekolah-sekolah kita, dominasi orang tua di lembaga pendidikan kita dan krisis otonomi yang dialami oleh guru dan kepala sekolah.
Krisis ini disebabkan oleh kurangnya pemimpin yang memiliki visi, misi dan integritas yang kuat. Rekrutmen kepemimpinan seringkali berdasarkan koneksi politik, bukan berdasarkan kompetensi dan kemampuan memimpin mereka.
Krisis kepemimpinan juga disebabkan oleh rendahnya kolaborasi antara pemimpin dengan unsur lain seperti guru, orang tua bahkan siswa. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan sinergi dan kolaborasi antar unsur-unsur tersebut dalam pengambilan keputusan dan implementasi semua program.
Krisis kepemimpinan inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan kita. Oleh karena itu, krisis kepemimpinan ini harus segera diakhiri sebagai langkah mendasar pengembangan kualitas pendidikan kita. Kita berharap soal ini menjadi perhatian para menteri di bidang pendidikan dan semua pihak terkait.
