Menggali Lebih Dalam Faktor-faktor yang Menentukan Usia Harapan Hidup di Indonesia

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Dalam tulisan kemarin, sudah dikatakan bahwa angka Usia Harapan Hidup (UHH) dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor inilah yang harus digali lebih dalam untuk dapat menemukan dan mengenali, faktor apa yang paling dominan, yang mengakibatkan menurunnya Angka Usia Harapan Hidup di Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini.

Usia Harapan Hidup dihitung dari akumulasi umur semua orang yang meninggal dibagi dengan jumlah mereka yang meninggal. Misalnya jika dalam 1 tahun sebuah desa ada 100 orang meninggal, maka usia harapan hidup di desa tersebut bisa dihitung dari jumlah keseluruhan usia 100 yang meninggal ini kemudian dibagi 100.

Jika jumlah usia seratus orang yang meninggal ini, katakanlah: 7600 maka angka Usia Harapan Hidup masyarakat di desa tersebut adalah 76 tahun. Dari formula ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak kematian pada usia-usia dini, maka usia harapan hidup menjadi semakin singkat.

Kematian ibu dan anak pada saat persalinan, kematian balita, kematian anak-anak, remaja, kematian orang dewasa usia produktif, kematian karena faktor tidak disengaja, akan menurunkan usia harapan hidup. Hanya kematian pada usia di atas usia harapan hidup saat ini, apapun alasannya yang dapat meningkatkan angka usia harapan hidup.

Karena itu upaya untuk mengurangi kematian pada saat melahirkan dan setelah melahirkan pada ibu maupun anak harus dilakukan secara serius. Tidak hanya itu, menjamin anak-anak tumbuh berkembang hingga dewasa, bekerja dan hingga berusia tua akan meningkatkan angka usia harapan hidup.

Dalam konteks menurunnya angka usia harapan hidup di Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini, ada sebuah fakta menarik yang kami temukan.

Baca juga : Catatan Kritis Tentang Arah Pengembangan Literasi Kita

Sebuah dokumen dari kesmas.kemkes.go.id bertajuk “Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020” mengungkapkan bahwa dalam 50 tahun terakhir terjadi penurunan yang sangat signifikan dari kasus kematian bayi.

Angka Kematian Bayi (AKB) dengan usia di bawah 1 tahun dalam rentang tahun 1971 hingga tahun 2022 menurun hampir 90 %. Sementara dalam 10 tahun terakhir ini pun angka kematian bayi menurun signifikan.

Berdasarkan sensus tahun 2010 lalu Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak 26 dari 1.000 kelahiran. Sementara di tahun 2022 Angka Kematian Bayi menurun jauh menjadi 16,86 per 1.000 kelahiran.

Sensus terakhir mencatat juga bahwa Angka Kematian Anak (usia 1 – 4 tahun) berada di angka 2,98 per 1.000 kelahiran. Sementara secara total angka kematian anak sebelum usia 5 tahun masih cenderung tinggi yaitu 19,83 dari setiap 1.000 kelahiran hidup.

Fakta lainnya juga mengejutkan. Angka Kematian Ibu Hamil dalam rentang 10 tahun terakhir ini pun mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2010 lalu masih terdapat 346 per 100.000 kehamilan, menjadi 305 per 100.000 kehamilan pada tahun 2015, menurun lagi menjadi 189 per 100.000 kehamilan di tahun 2022.

Dengan demikian satu-satunya penjelasan yang masuk akal dari menurunnya Usia Harapan Hidup masyarakat Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini adalah karena jumlah kematian yang melonjak tinggi selama Pandemi Covid-19.

Baca juga : Bahasa Indonesia Ditetapkan UNESCO Sebagai Bahasa Resmi Dalam Sidang Umum

Namun demikian upaya serius untuk menekan angka kematian ibu hamil, angka kematian pada saat persalinan, dan angka kematian balita tetap harus menjadi prioritas utama kita.

Kemudian promosi mengenai gaya hidup sehat harus juga mendapatkan porsi yang sesuai terutama pada masyarakat usia produktif. Promosi mengenai gaya hidup sehat ini diharapkan dapat mengurangi angka kematian pada usia produktif.

Singkatnya semua upaya harus dilakukan secara serius dan proporsional terutama pada faktor-faktor yang mengakibatkan dampak negatif pada angka usia harapan hidup di Indonesia.

Penguatan posyandu, pelayanan terhadap ibu hamil, perhatian terhadap ibu menyusui, monitoring tumbuh kembang anak, hingga posyandu untuk anak remaja dan dewasa harus terus digalakkan

Termasuk di dalamnya adalah program Bimbingan Perkawinan yang saat ini sedang diinisiasi oleh Kementerian Agama, harus benar-benar menyentuh berbagai aspek atau persoalan keluarga, termasuk di dalamnya upaya untuk meningkatkan Usia Harapan Hidup Bangsa Indonesia.

Foto: masalembo

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin Penulis.

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments