Depoedu.com-Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan bahwa selain sempurna pertumbuhan tubuhnya, cerdas adalah sempurna perkembangan akal budi seseorang, untuk berpikir, memahami dan sebagainya.
Boleh dibilang orang yang cerdas tandanya mampu mengolah sesuatu yang rumit, tangkas dalam memproses data-data dan informasi sehingga mampu memecahkan masalah.
Kita biasanya mengatakan orang cerdas diukur dari tingginya IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual yang dimiliki seseorang. Namun hanya IQ saja tidak cukup. Ada lagi yang namanya Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ) dan sekarang ada lagi tambahannya: TQ (Trancedental Quotient)
IQ identik dengan kecerdasan kognitif, erat kaitannya dengan kemampuan mengingat, memahami, menganalisa, mengevaluasi dan memecahkan persoalan. Sementara EQ untuk mengukur emosinya seseorang, guna mengetahui karakternya.
EQ adalah kemampuan untuk mengolah perasaan, mengenali perasaan orang lain, kemampuan adaptasi, bertanggung jawab, disiplin, kecakapan dalam kerjasama tim, serta kemampuan untuk menjaga komitmen.
Sementara SQ adalah kecerdasan atau kemampuan untuk berkata jujur, berlaku adil, menghargai, memiliki sifat welas asih, toleransi, empati, ramah tamah, sopan santun, rendah hati dan lainnya. SQ adalah kemampuan untuk memaknai nilai-nilai kehidupan.
Sementara TQ adalah bagian lebih spesifik (sempit) dari SQ. Sebab TQ hanya mengukur spiritualitas seseorang berdasarkan pada ideologi agamanya saja, bukan nilai-nilai spiritual universal.
Tentang kecerdasan, rasanya sulit mengakui bahwa kita kurang cerdas. Mengaku saja sulit apalagi menerima bahwa ia kurang cerdas. Namun dari perilaku kita sehari-hari boleh dibilang ada sifat yang tidak mencerminkan diri sebagai orang cerdas.
Baca juga : 5 Modus Pelanggaran Ketentuan Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru Dan Pelakunya
Dilansir oleh cnnindonesia.com (19/11/2022), ada tujuh kebiasaan ini yang menjadi tanda seseorang kurang cerdas.
Pertama, suka menghakimi. Sikap kritis itu baik. Apalagi jika didukung oleh fakta dan data yang sahih. Itu ciri kritik dari orang cerdas. Sebaliknya mereka yang menghakimi tidak pernah peduli data atau fakta.
Tipe orang yang demikian ini hanya berdasar pada asumsinya saja. Mereka biasanya senang berpura-pura pintar atau merasa paling pintar dan menghakimi orang lain.
Kedua, pilihan kata yang buruk. Ini bukan soal memilih kosa kata yang sederhana agar seseorang mudah memahami maksud perkataannya.
Orang dengan type seperti ini cenderung menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti oleh umum. Pada saat yang sama mereka tidak mudah memahami orang lain walaupun sudah dijelaskan dengan kosa kata yang umum dipahami.
Ketiga; berbicara seenaknya. Orang cerdas berpikir dulu baru berbicara, sementara mereka, “mulut lebih cepat daripada otak”. Mereka cenderung mengungkapkan hal pertama yang terlintas dalam pikirannya tanpa mengolahnya terlebih dahulu.
Keempat: bukan pendengar yang baik. Ini bukan tentang keengganan untuk terlibat pada masalah orang lain. Menjadi telinga hati bagi keluhan orang lain tentu menandakan kecerdasan emosional bahkan kecerdasan spiritual yang tinggi.
Yang tergolong dalam tipe ini adalah mereka yang tidak dapat mendengar karena pikiran mereka sedang tidak berada “di dalam tubuh” mereka. Mereka tidak dapat fokus dan pikirannya sedang berkelana kemana-mana sehingga tidak mendengar apa yang orang lain bicarakan.
Baca juga : Hanya Dengan Cara Inilah Kecurangan Dalam Proses PPDB Dapat Diatasi
Lima; mudah dipengaruhi oleh orang lain. Berangkat dari kemampuan analisa yang tidak memadai, sehingga mereka tidak mampu mengenali situasi manipulatif dari seseorang.
Karena itu mereka sangat mudah dipengaruhi untuk melakukan tindakan-tindakan yang ‘merusak’. Merekapun sangat mudah dibohongi.
Enam; selalu merasa benar. Kebiasaan ini juga datang dari kurangnya kemampuan untuk berpikir kritis. Sesahih atau sevalid apapun bukti yang disodorkan, fakta terang benderang yang membuktikan kesalahannya tidak cukup untuk membuat mereka menerima kesalahan.
Mereka tidak mampu menganalisa pendapat orang lain, sehingga tidak mendengarkan dan mengakui pendapat dari siapapun, selain kebenaran versinya saja.
Ketujuh: selalu melempar kesalahan pada orang lain. Ketika menghadapi masalah yang pertama mereka lakukan adalah menemukan seseorang untuk disalahkan atau mencari alasan untuk membenarkan diri.
Mereka melempar tanggung jawab keluar dirinya ketika menghadapi masalah. Pada saat yang sama mereka biasanya membenarkan kesalahan yang dilakukannya dengan dalil “tidak punya pilihan lain”.
Untuk membenarkan tindakannya, biasanya mereka selalu menganggap bahwa orang lain tidak memahami mereka.
Sifat-sifat ini barangkali pernah kita lakukan tanpa kita sadari. Asal saja, jangan sampai menjadi kebiasaan yang berkembang menjadi karakter. Jika sudah demikian maka bisa diukur tingkat kecerdasan kita.
Foto: GKDI
