Hoaks Jadi Fenomena Gagalnya Pendidikan Kita?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kementerian Komunikasi dan Informatika sepanjang periode Agustus 2018 – Maret 2023 menggunakan mesin pengais “AIS” (crawling) miliknya berhasil menjaring 11.357 konten hoaks.

Mesin yang bekerja 24 jam itu berhasil mengidentifikasi bahwa berita palsu di bidang kesehatan mendominasi konten hoaks sejumlah 2.256 konten. Selain bidang kesehatan, berita palsu seputar pemerintahan menyusul sebanyak 2.075 dan penipuan sejumlah 1.823 hoaks.

Sedangkan hoaks di bidang pendidikan, perdagangan dan mitos menjadi yang terbawah. Selama rentang waktu mesin crawling  beroperasi, tahun 2019 menjadi tahun dengan jumlah konten hoaks terbanyak.

Bahkan pada tiga bulan pertama di tahun 2023 ini, mesin AIR sudah berhasil menjaring 425 konten hoaks dari berbagai platform digital yang ada di Indonesia.

Ada banyak jenis konten hoaks. Diungkapkan oleh gramedia.com, bahwa hoaks kebanyakan berisi satir atau parodi, konten menyesatkan (misleading content), imposter content atau konten tiruan, konten palsu atau fabricated content, false connection atau koneksi yang salah, false context atau konteks keliru dan manipulated content.

Selain itu untuk jenis hoaks yang sering ditemukan di Indonesia seperti: hoaks tentang virus komputer atau aplikasi, hoaks kirim pesan berantai, hoaks tentang urban legend, hoaks tentang mendapatkan hadiah, hoaks tentang berita menyedihkan, dan yang paling parah adalah hoaks pencemaran nama baik.

Baca juga : Agar Guru Sejahtera, Muhammadiyah Akan Sediakan Rumah Subsidi Bagi Guru Di Sekolah Muhammadiyah

Harus disepakati bahwa hoaks adalah konten berbahaya, apapun jenisnya. Hoaks berbahaya karena sengaja dibuat untuk tujuan buruk, bahkan satir sekalipun.

Adanya hoaks yang kemudian disebarkan entah dengan sengaja maupun tidak menunjukkan bahwa “ada yang salah” dengan kita.

Kompas.com pada 23/01/2017 silam menulis bahwa kalangan psikolog mengungkapkan bahwa ada dua penyebab seseorang percaya pada berita atau konten hoaks.

Pertama bahwa hoaks seringkali menjadi pembenaran dari sikap atau opini yang sudah seseorang miliki. Ada ujar-ujar yang mengatakan bahwa orang cenderung “lebih mendengar” apa yang ingin didengar.

Hoaks hanyalah sesuatu yang menegaskan sikap mental, prasangka, opini tentang sesuatu yang sudah ada pada diri seseorang akan sesuatu hal. Dengan demikian apapun informasi yang tidak searah dengan prasangka, opini atau sikap mental seseorang cenderung berhenti dibagikan.

Sebaliknya, jika sebuah informasi yang menguatkan sikap mental, prasangka dan opini yang sudah ada pada seseorang, maka konten hoaks itu akan cepat disebarkannya.

Kedua, terbatasnya pengetahuan. Orang lebih percaya pada informasi yang diterima atau yang ‘diakui kebenarannya’ oleh masyarakat luas tanpa mempertanyakan kebenaran hakiki dari informasi tersebut.

Baca juga : Lima Hal Yang Dapat Menghambat Kesuksesan Anak

Orang yang pengetahuannya terbatas cenderung percaya dan menganggap benar segala sesuatu yang diterima masyarakat luas, tanpa susah-susah memeriksanya kembali terlebih dahulu.

Sebenarnya poin kedua menurut pandangan psikolog yang dikutip sumber kompas.com bisa dipahami. Sekolah-sekolah kita sudah sekian generasi ini mengandalkan hafalan dalam mencari kebenaran.

Apa yang ditawarkan sumber informasi akan diterima sebagai sebuah kebenaran yang harus dihafal. Jika tidak dihafal maka jawaban atas soal-soal yang membutuhkan jawaban hafalan pasti salah.

Fenomena hoaks sebenarnya menegaskan bahwa pendidikan kita belum berhasil membuat atau mengajarkan orang untuk ‘berpikir’. Kemampuan kita untuk menggali, menemukan, merumuskan kebenaran masih sangat minim.

Dunia pendidikan harus serius mengambil peran untuk menjadikan kebiasaan mempertanyakan dan menggali kebenaran serta menciptakan alternatif-alternatif solusi bagi setiap persoalan sebagai salah satu tujuan pendidikan dan pengajaran yang utama.

Jika critical thinking sudah menjadi cara hidup setiap orang, maka konten hoaks akan dilupakan orang tanpa disebar sama sekali. Karena itu jika besok seseorang masih menyebar informasi hoaks maka maka sia-sialah pendidikan baik formal maupun informal yang telah dialaminya selama ini.

Foto: Kominfo Ponorogo

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Hoaks Jadi Fenomena Gagalnya Pendidikan Kita? […]