Esensi Empat Pilar Pendidikan dalam Membangun Bangsa

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Tradisi mengubah kurikulum ketika pejabat yang memimpin berganti masih berlangsung hingga saat ini. Terakhir, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menggagas dan menggulirkan kurikulum merdeka yang diterapkan hingga bangku perguruan tinggi dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Kurikulum, menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, adalah sistem pendidikan nasional yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Sebagai alat pendidikan, kurikulum berfungsi membantu mempersiapkan peserta didik untuk dapat menuju ke jenjang pendidikan berikutnya, serta siap untuk hidup bermasyarakat, apabila peserta didik tersebut tidak melanjutkan pendidikannya.

Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya.

Sejatinya, walau kurikulum berganti dengan berbagai tujuan, tidak bisa mengabaikan empat pilar pendidikan yang dicetuskan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Delors (2015) dalam karyanya untuk UNESCO mencetuskan empat pilar yang diperlukan untuk pendidikan di abad ke-21. Pilar yang pertama adalah learning to know, yang berarti belajar untuk mengetahui, belajar untuk mencari tahu.

Baca Juga : Korelasi Pendidikan Dan Ekonomi Dalam Pembangunan Bangsa

Pilar ini berisi tingkatan yang paling dasar dalam mencari ilmu pengetahuan, yakni untuk dapat mengetahui dan kemudian memahami objek-objek riil maupun ide-ide abstrak yang ada di sekitar mereka.

Pada titik ini disampaikan bahwa tujuan belajar untuk mengetahui ini adalah untuk menguasai pengetahuan yang sifatnya divergen, sangat luas dan kompleks, yang selalu berkembang dari waktu ke waktu.

Pilar kedua adalah learning to do, yang berarti belajar untuk melakukan sesuatu. Artinya, seseorang belajar untuk dapat menggunakan pengetahuan tersebut secara praktikal dalam kehidupannya sehari-hari. Pada dasarnya pendidikan berperan besar dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, di berbagai sektor, termasuk perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Untuk dapat melakukan berbagai inovasi dan pemikiran-pemikiran kreatif, kegiatan belajar hendaknya diprioritaskan pada pemerolehan pengetahuan baru yang dapat ditransformasikan pada pemecahan masalah dan gagasan inovatif serta kritis untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Pilar ketiga adalah learning to live together, yang berarti belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain. Dalam kaitannya dengan kecakapan abad ke-21, belajar satu ini berkaitan dengan keterampilan untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain.

Dengan berkolaborasi  seseorang dapat mencapai target pribadi maupun target bersama kelompok maupun yang sifatnya universal bagi kesejahteraan umat manusia.

Baca Juga : Untuk Remaja Perempuan, Dibuka Pertukaran Pelajar ASF Bidang STEM

Kita ketahui bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia, akan banyak konflik yang disebabkan pergesekan kepribadian individu dan kepentingan yang ingin dicapai. Oleh karenanya, belajar untuk hidup bersama ini penting sehingga setiap individu dapat saling menghargai perbedaan.

Pilar keempat adalah learning to be, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai belajar untuk menjadi. Kata “menjadi” yang seolah-olah menggantung di akhir kalimat ini seyogianya mengacu pada hakikat pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Dalam hal ini, learning to be berarti bagaimana melalui pendidikan, seorang dapat belajar untuk menjadi manusia-manusia yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia, unik sesuai ciri khasnya masing-masing dan menyadari secara utuh bahwa ia dapat mengembangkan seluruh kemampuannya dengan bertolak dari akal dan budi yang dibekali oleh Sang Pencipta.

Penerapan keempat pilar ini dirasakan sangat penting dalam menghadapi era globalisasi dan era industry.  Perlu pemupukan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut.

Pendidikan yang diterapkan juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Sehingga unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat dan pada gilirannya pendidikan semakin maju.

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments