Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) SMP Kolese Kanisius Jakarta

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Banyak sekali perubahan yang terjadi saat ini, dan perubahan itu begitu cepat dalam abad ke-21. Agar bisa beradaptasi dengan setiap perubahan, para siswa perlu dibekali dengan berbagai kemampuan. Terdapat beberapa kemampuan abad 21 yang perlu dimiliki oleh para siswa, yakni kemampuan berpikir kritis/memecahkan masalah, berkolaborasi, berkomunikasi dan memiliki kreativitas.

Agar bisa menjawab kebutuhan akan kemampuan tersebut, diperlukan berbagai model pembelajaran, salah satu di antaranya adalah dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).

Senin, 14 Maret-25 Maret 2022, SMP Kolese Kanisius Jakarta telah menyelenggarakan pembelajaran berbasis project (PjBL). PjBL ini diperuntukkan bagi siswa kelas 7 dan 8. Penerapan model pembelajaran ini pun dikemas dalam berbagai tahap. Hal pertama yang perlu dilakukan sekolah adalah menyiapkan tema umum dan panduan pertanyaan untuk bisa menjawab tema tersebut.

Masing-masing jenjang disiapkan tema tertentu. Tema tersebut merujuk pada misi kerasulan Jesuit, yakni “Merawat bumi rumah tempat kita bersama” dan “Berjalan bersama yang tersingkirkan”.

Baca juga : Belajar Lewat Proyek

Dari masing-masing tema, kemudian disiapkan panduan pertanyaan yang menantang, yakni di antaranya adalah: “Bagaimana upaya yang bisa dilakukan kelompok untuk mewujudkan atau mengimplementasikan kepedulian dalam merawat lingkungan serta menginspirasi? Dan “Bagaimana upaya yang bisa dilakukan kelompok untuk mewujudkan atau mengimplementasikan kepedulian dalam berjalan bersama mereka yang tersingkirkan?

Agar bisa menjawab panduan pertanyaan tersebut, masing-masing bidang studi menyiapkan penugasan dengan tujuan mengajak siswa untuk mendalami tema yang ada. Setelah mengerjakan penugasan dari masing-masing bidang studi, hasil penugasan tersebut kemudian diberi feedback oleh masing-masing guru bidang studi. Feedback yang diberikan berupa kedalaman informasi yang mereka peroleh ketika mengerjakan tugas.

Jika dipandang informasi yang dikumpulkan para siswa belum terlalu mendalam, maka hasil penugasan akan dikomentari dan dikembalikan kepada siswa. Siswa kemudian menggali kembali informasi berdasarkan feedback dari guru bidang studi yang bersangkutan.

Setelah informasi yang diperoleh dipandang cukup mendalam, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memutuskan dan merancang project apa yang hendak dibuat bersama kelompok. Dalam tahap ini, para siswa bebas memilih bidang studi apa yang bisa dijadikan pendekatan dalam menjawab panduan pertanyaan secara berkelompok dan didampingi oleh satu guru selaku sebagai pembimbing.

Baca juga : Orang Tua: Anak Disekolahkan Agar Soft Skill-Nya Berkembang

Para siswa belajar berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi dan tentunya harus kreatif dalam memutuskan project dan merancangnya. Para siswa bebas memilih project yang apa hendak dilakukan. Project bisa berupa video, podcast, website, artikel, makalah, proposal, aplikasi dan lain sebagainya. Setelah memutuskan dan merancang project, para siswa kemudian membuat project berdasarkan rancangan yang ada.

Setelah selesai membuat project, para siswa kemudian mempresentasikan project mereka kepada audience yang kiranya relevan.  Dari 72 kelompok yang tersebar pada jenjang kelas 7 dan kelas 8, para siswa kemudian mengundang para audience untuk masuk ke dalam Zoom dan mempresentasikan project mereka.

Setelah presentasi, para siswa meminta feedback berupa kritik dan saran dari audience. Kritik dan saran tersebut yang kemudian dijadikan sebagai bahan evaluasi dan refleksi untuk perbaikan project selanjutnya. Dari proses penerapan pembelajaran tersebut, para siswa dilatih agar dapat mengembangkan kemampuan abad 21 ini, dengan begitu mereka dapat beradaptasi dengan setiap perubahan yang ada.

5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments